Minggu, 02 September 2018

STAGING NEWS



Mei lalu, publik Eropa dikejutkan oleh kemuculan Arkady Babchenko – wartawan Rusia -- di sebuah konferensi pers di ibukota Ukraina. Kemunculan itu kurang dari 24 jam setelah polisi melaporkan dia telah ditembak dan dibunuh di depan apartemen (30 Mei, AP). 

Arkady Babchenko, jurnalis anti-Kremlin, hadir di konferensi pers itu untuk menjelaskan bahwa polisi memalsukan kematiannya agar bisa menangkap orang yang memerintahkan serangan terhadapnya.

Dalam konferensi pers situ, Babchenko meminta maaf kepada teman-teman dan keluarga - termasuk istrinya - yang berduka untuknya dan tidak menyadari rencana tersebut. Istrinya, yang tidak mengetahui rencana itu, menemukannya di luar pintu masuk apartemen mereka (www.usatoday.com, 30 Mei 2018).

Pihak kepolisian nasional mengatakan Babchenko, salah satu wartawan perang terkenal Rusia, ditembak tiga kali di bagian belakang tubuhnya di luar gedung apartemennya. Dia ditemukan dalam kondisi berdarah di bagian punggung oleh istrinya.  

Juru bicara Kepolisian Nasional Yaroslav Trakalo mengatakan kepada wartawan bahwa pembunuhnya konon telah menunggu Babchenko di tangga. Sebuah potret yang dipublikasikan polisi bahkan menggambarkan "pembunuh" sebagai pria jangkung dengan jenggot abu-abu dan berusia 40-an. Dia mengenakan topi denim, jaket dan celana jeans, menurut Kyiv Post.

Sebagai bagian dari tipu muslihat itu, polisi mengklaim dia meninggal di ambulans dalam perjalanan ke rumah sakit. “Saya ingin mohon maaf atas apa yang Anda rasakan,” kata Babchenko kepada wartawan di kantor Dinas Keamanan Ukraina, lapor Kyiv Post.

Menurut Dinas Keamanan Ukraina, sebuah unit layanan khusus Rusia diduga memerintahkan pembunuhan terhadap Babchenko. Mereka membayar seorang warga Ukraina yang tidak disebutkan namanya sebesar $ 40.000 untuk mengatur pembunuhan itu. Dinas Keamanan Ukraina mengatakan, mereka membayar seorang penembak $ 30.000 untuk melakukan serangan itu, kata surat kabar itu.

Ketika dinas keamanan mengetahui plot pembunuhan itu, mereka merekrut lelaki bersenjata itu untuk bekerja untuk mereka sebagai agen ganda untuk memalsukan penembakan dan menangkap orang-orang di belakangnya.

Dinas keamanan mengatakan, menurut Post, bahwa kematian Babchenko dimaksudkan untuk membongka dan yang pertama dari sekitar 30 pembunuhan berencana atas warga Rusia di Ukraina. Rencana itu diduga dilakukan oleh layanan khusus Rusia.

Vasily Gritsak, kepala dinas keamanan, menjelaskan skema yang rumit, yang telah bekerja selama sebulan, kepada wartawan pada konferensi pers di mana Babchenko muncul.
Gritsak mengatakan, organisator yang dituduh itu juga ditugasi untuk membeli senjata dan amunisi, termasuk 300 senapan serbu Kalashnikov. Mereka mendirikan pangkalan dengan senjata dan amunisi di Ukraina tengah untuk melakukan lebih banyak pembunuhan, lapor Interfax.

Jaksa Penuntut Umum Ukraina Yury Lutsenko mengatakan agen ganda itu, mantan tentara operasi rahasia di timur Ukraina, akan bersaksi atas nama negara dalam persidangan yang dituduhkan pada oranizer tersebut.

Di Facebook, Perdana Menteri Ukraina Petro Poroshenko mengucapkan selamat kepada dinas keamanan untuk "operasi brilian," tetapi mengatakan ancaman terus berlanjut. "Moskow hampir tidak mungkin berdiam diri," katanya.  "Saya telah memerintahkan Arkady dan keluarganya diberi keamanan 24 jam." Di Moskow, kementerian luar negeri Rusia menyebut tindakan yang dipentaskan itu "provokasi anti-Rusia yang lain."

Beberapa organisasi jurnalis mengkritik keras pembunuhan palsu itu, dan menyebutnya "menyedihkan." Christophe Deloire, sekretaris jenderal Reporters Without Borders, mengatakan bahwa organisasinya mengekspresikan "kemarahan paling dalam setelah menemukan manipulasi dinas rahasia Ukraina.

Memamerkan Babchenko pada konferensi pers di Kiev seakan menyerahkan berita bohong ke orang-orang yang selama ini membenci berita palsu atau tidak dapat dipercaya. Ini semakin melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap jurnalis. Kredibilitas pejabat keamanan Ukraina juga bakal dipertanyakan. Apapun yang dikatakan Pemerintah Ukraina orang tidak langsung percaya dan harus memeriksanya dua atau tiga kali.

Adapun Babchenko? Bisa jadi nilai “kepalanya” meningkat secara signifikan. Untuk beberapa lama, dia kemungkinan akan diburu sehingga pada titik tertentu dia membutuhkan perlindungan.  
Diakui atau tidak, fenomena Babchenko merupakan langkah baru perang informasi.  "Itu selalu sangat berbahaya bagi pemerintah untuk bermain dengan fakta-fakta, terutama menggunakan wartawan untuk cerita palsu mereka," kata Deloire.

Di New York, Komite untuk Perlindungan Wartawan, menyerukan segera dilakukan penyelidikan atas insiden itu. Mereka mengatakan lega bahwa Babchenko masih hidup, tetapi mengatakan pihak berwenang Ukraina "harus mengungkapkan latar belakang yang mengharuskan tindakan ekstrem pementasan berita (staging news) pembunuhan wartawan Rusia itu."

Staging news atau menciptakan acara untuk menarik perhatian dan liputan media memang kontroversial. Untuk menarik perhatian klien mereka, orang mengorganisasikan acara media. Acara ini didesain untuk menarik perhatian jurnalis.

Pertemuan besar-besaran dan demonstrasi atas isu tertenu, misalnya, akan dimuat di halaman pertama, di sampul majalah, dan siaran berita malam, karena kualitas fotogeniknya menjadikan tampak lebih menarik secara visual ketimbang kejadian yang sebenarnya yang lebih penting (Vivian, 2007).
 .
Persoalan etis kurang penting bagi penerbit, yang umumnya lebih mementingkan kelarisan. Di sisi lain, persoalan etis lebih penting bagi wartawan, yang mengkalim bahwa tugas mereka adalah memberikan berita yang akurat dan berimbang. Tetapi mereka in sering tidak bisa menolak acara semacam itu yang didesain publiisis agar nampak fotogeik dan mudah diliput.

Vivian J, 2007. The Media of Mass Communication 8th Edition. Denver (US): Allyn & Bacon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar