Jumat, 14 Februari 2020

Gunakan Bahasa Positif, Jangan Negatif




Sabtu, 17 November 1973, di tengah-tengah ramainya pembicaraan soal skandal Watergate, Presiden AS Richard Nixon mengadakan semacam konferensi pres. Di depan sekitar 400 editor yang tergabung dalam Associated Press dan berkumpul di Walt Disney Orlado, Florida, Nixon mengeluarkan pernyataan yang mungkin sederhana tapi punya makna mendalam.

'I Am Not a Crook' – Saya bukan penjahat.

"Orang-orang harus tahu apakah Presiden mereka seorang penjaha atau bukan. Yah, saya bukan penjahat. Saya sudah mendapatkan semua yang aku punya." Namun, di sisi lain, dia mengakui bahwa dia bersalah karena gagal mengawasi kegiatan pengumpulan dana kampanyenya.

Pernyataan itu keluar menjawab pertanyaan seorang wartawan tentang perannya dalam skandal Watergate dan upaya menutupi fakta bahwa ada anggota komite pemilihan ulangnya telah melakukan pembobolan.  Dalam karier politiknya kutipan ini adalah kutipan yang bertahan lama. Ia juga mempopulerkan ungkapan "the silent majority."

Pemirsa televisi, pembaca koran, pendengar radio – waktu itu internet belum ada -- terkejut dengan pernyataan itu, bagaimana seorang presiden negara besar mengeluarkan pernyataan seperti itu.  

Apalagi – masih dalam diskusi itu -- Nixon memberikan tanggapan yang tidak wajar atas pertanyaan tentang mengapa dia memilih untuk tidak menggunakan juga pesawat cadangan selain pesawat Air Force One saat bepergian. Bagi seorang Presiden AS, bepergian dengan pesawat Air Force One dan cadangannya adalah prosedur standar keamanan.

Nixon mengatakan kepada paara editor bahwa bepergian hanya dengan menggunakan satu pesawat, dia bisa berhemat baik energy, uang, dan waktu yang mungkin bakal dihabiskan selama proses pemakzulan.  "Jika pesawat ini jatuh," katanya, "mereka tidak harus memakzulkan (saya)."

Mungkin, Nixon berusaha melucu. Tetapi skandal itu telah “memakan”nya sendiri, terutama pada kesehatan fisik dan mentalnya. Dalam buku Carl Bernstein dan Bob Woodward, All the President's Men, Nixon digambarkan sebagai "seorang tahanan di rumahnya sendiri." —Secretive, curiga ... agresif, tidak bisa tidur. "

Dalam disiplin komunikasi massa, bagaimana sesuatu disajikan (dibingkai) memengaruhi sikap dan pendapat orang. Pembingkaian adalah bentuk dari penetapan agenda - proses dimana sumber komunikasi mendefinisikan dan membangun masalah publik.

Dalam serial komedi televisi Inggris 'Fawlty Towers,' Basil Fawlty  menginstruksikan stafnya, "Jangan menyebutkan perang," ketika mereka berbicara dengan tamu Jerman di hotelnya. Instruksi tersebut bermakna perintah bagi stafnya untuk tidak menggunakan kata “perang” ketika berbicara dengan orang Jerman. Kenapa? Bagi orang Jerman, perang adalah sebuah tragedy yang traumatik.

Dengan cara yang sama, ketika diwawancarai media, banyak orang yang terperangkap dengan mengulangi dugaan semula. Padahal, dia ingin membantah tuduhan itu. Namun, alih-alih bantahan, pengulangan itu malah memperkuat tuduhan itu dan melanggengkan klaim mereka.

Misalnya, ketika kepala eksekutif mengatakan, "Perusahaan saya tidak meracuni tanah di lokasi penambangan," dia hanya memperkuat kekuatan tuduhan di benak orang. Jika dia bersiap untuk wawancara semacam itu, ketika jenis pertanyaan ini dapat diprediksi, dia harus menyiapkan tanggapan dalam bahasa positif, misalnya, "Perusahaan saya memiliki rekor 100% dalam mempertahankan standar lingkungan tertinggi."

Dalam komunikasi, ada dua bagian yang bisa dilakukan untuk setiap "sentuhan" atau interaksi dengan pelanggan. Pertama adalah transaksi itu sendiri — panggilan telepon, surat, email, dan sebagainya -- dan pesan yang dikandungnya. Bagian kedua adalah aspek emosional — bagaimana hal itu membuat pelanggan merasa senang (atau sedih) ? Untuk mendapatkan efek seperti itu, bagaimana sebaiknya? Apakah dilakukan dengan cara menampilkan pesan positif, negatif, atau netral?

Ketika seseorang berkomunikasi dan menggunakan bahasa positif, hasilnya adalah perubahan sikap audiensenya dari negative atau reaksi netral menjadi positif. Bahkan ketika seseorang menyampaikan pesan sulit atau berita buruk, pilihan kata-kata positif dapat membantu menciptakan reaksi yang positif atau setidaknya netral.

Lalu bagaimana orang memilih pesan atau bahas positif? Bahasa positif lebih berfokus pada sesuatu yang bisa dilakukan daripada yang tidak bisa dilakukan. Pesan positif menyarankan alternatif, menunjukkan kemauan untuk membantu, dan menekankan tindakan positif dan konsekuensi positif.

Sebaliknya, pesan negatif sering terdengar seperti perintah atau memiliki implikasi halus, menyiratkan keengganan untuk membantu atau menyarankan solusi alternatif.  "Silakan berjalan di jalan setapak" menghasilkan pesan yang jauh lebih positif daripada "Jauhi rumput!"  Pesan pertama memberi tahu mereka tentang yang harus mereka lakukan. Sebaliknya, pesan kedua memerintahkan tentang yang tidak boleh dilakukan.

Bahasa juga mempengaruhi cara pandang seseorang. Apakah gelas kita selalu setengah penuh (positif) atau setengah kosong (negatif)? Penelitian menunjukkan bahwa seseorang memahami pernyataan positif 30 hingga 40 persen lebih cepat daripada pernyataan negatif. Kenapa? Orang harus menguraikan pesan negatif untuk menentukan maknanya.

Pertimbangkan pernyataan berikut,  _"Jangan berpikir tentang semangka."_  Bila Anda mendengar pernyataan itu, gambaran apa yang pertama muncul atau terlintas dalam pikiran Anda? Semangka! Pikiran orang sudah membayangkan semangka sebelum mereka mengerti apa yang diminta pesan untuk dilakukan.

Hal itu juga berlaku untuk pesan yang disampaikan Nixon di atas. Ketika orang mendengar kata “penjahat,” yang dia ingat ya penjahat itu meski ada embel-embel “bukan”. Pikiran mereka melayang ke penjahat. Ketika seseorang mengingat penjahat, orang mengkaitkannya dengan siapa yang mengatakan.

Dalam komunikasi, pernyataan "Saya bukan penjahat" adalah penggunaan etos secara khusus pada pembicara (koneksi pembicara dengan audience). Ini sama dengan pernyataan Presiden AS Bill Clinton, “Saya tidak memiliki hubungan seksual dengan wanita itu.

Dalam berbicara orang dituntut untuk mengatakan sesuatu secara logis. Ada kesinambungan antara yang dikatakan sebelum dan yang mengikutinya. Namun, berbicara secara yang logis sekalipun bisa berlebihan.

Jika seseorang dituduh X misalnya, lalu dia mengatakan X tidak benar itu berarti menyangkal, bukan membantah tuduhan itu. Tetapi dengan menambahkan kebohongan – seperti kata “penjahat” atau “hubungan seksual” tanpa bukti yang meyakinkan – ada risiko yang harus dipertaruhkan, yakni keraguan dalam pikiran audiens terhadap orang yang membuat pernyatan itu.  

Dalam contoh "rumput"  di atas, pesan pertama menunjukkan bahwa orang harus berjalan di atas jalan setapak. Pesan kedua memberitahu orang untuk tidak berjalan di atas rumput, tetapi membiarkan orang  mencari tahu lintasan atau jalan yang harus dilaluinya.

Ketika seseorang memiliki pesan penting untuk disampaikan, dia  harus menyatakannya dengan cara yang positif. Misalnya, ketika menasihati  pelanggan, dia menggunakan kalimat,  "Tolong ingat" alih-alih "Jangan lupa."

Berbicara dengan anak-anak, orang harus mengatakan "Tolong berjalan pelan" alih-alih "Jangan lari!" Saran positif akan membantu penerima lebih mudah memahami keinginan Anda.

Jadi, penggunaan bahasa positif akan memberi manfaat ketika seseorang diwawancara, pertemuan publik, dan konfrontasi dengan kelompok penekan. Bahasa positif memungkinkan seseorang untuk mengontrol atau membingkai komunikasinya. Demkkian juga, penggunaan bahasa yang positif, deklaratif dan kata-kata yang kuat akan mengatasi bahasa negatif dan 'beracun'.

Ini memang berlawanan dengan kepercayaan populer dan mitologi PR. Karena paradigma good news is bad news, banyak artikel dengan headline bahasa negatif. Wartawan atau audience yang jeli – dan ini kemudian diviralkan – selalu mencari yang menarik. Konsep ini dimaknai sebagai hal yang negatif.  Itu sebabnya, wawancara yang baik sering menghasilkan cerita negatif hanya karena penggunaan satu frasa negatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar