Senin, 05 Oktober 2020

OBJECTIVITAS


Perdebatan utama dalam jurnalisme adalah soal *objektivitas* - apakah ia baik atau buruk dan bahkan apakah kita mungkin mencapainya. Beberapa jurnalis terkenal, termasuk Hunter Thompson, Bill Moyers, dan David Brinkley, telah menjabarkan objektivitas sebagai sebuah mitos.

Sedangkan beberapa jurnalis terkenal lainnya, seperti Clifton Daniel dan Herbert Brucker, berpendapat bahwa objektivitas adalah penting sekali dalam penyampaian berita.

Beberapa konsep yang diperkenalkan oleh S. I. Hayakawa (1964) dapat membantu jurnalis untuk memaknai kontroversi atas objektivitas. Hayakawa membahas tiga jenis pernyataan yang bisa dibuat ole seseorang; yakni laporan (_report_), inferensi (_inferences_), penilaian (_judgments_) - dan hal-hal yang berkenaan dengan _slanting_.

Sebuah laporan adalah pernyataan yang bisa diverifikasi dan tidak ada unsur inferensi atau penilaian. Satu contohnya adalah pernyataan, "Temperatur rendah tadi malam di Gresik adalah 28 derajat Celcius." 

Pernyataan ini bisa diverifikasi, diperiksa kebenarannya. Anda bisa pergi ke stasiun ramalan cuaca di BMKG dan melihat rekaman cuaca atau mewawancarai ahli meteorologi di sana. Contoh lain laporan adalah pernyataan berikut ini:

Dewan Kota (DPRD) menyetujui dana $237 juta untuk tahun fiskal 1995. (_Apakah mereka melakukan atau tidak, tindakan tersebut dapat diverifikasi dengan mengecek melalui para anggota dewan, saksi mata yang menghadiri sidang, dan laporan pejabat mengenai sidang tersebut._)

Tersangka perampokan Larry Joe Smith terlihat di Bandara Kota Sabtu sore. (Laporan ini akan lebih sulit diverifkasi, dan tidak bisa diverifikasi sampai Smith ditangkap dan dikenali di pengadilan oleh seorang saksi mata, tetapi pernyataan itu masih dapat diverifikasi.)

Inferensi adalah pernyataan tentang sesuatu yang tidak terlihat berdasarkan pada sesuatu yang terlihat. Contohnya adalah berbagai pernyataan tentang pikiran atau pernyataan seseorang. Anda mungkin dapat melihat seseorang menggebrakkan tinju pada meja, nada meninggi, dan wajahnya merah padam. 

Semua itu adalah aspek-aspek yang terlihat. Jika kemudian Anda membuat peryataan, "Chris marah", maka Anda membuat pernyataan suatu yang tidak terlihat, yaitu emosi orang tersebut. Berarti Anda membuat sebuah inferensi. 

Dalam berbagai kasus, cara paling aman adalah dengan berpatokan pada apa yang dilihat dan melaporkannya -- menggebrakkan tinju, nada suara meninggi, dan wajah yang merah padam. Permyataan-pemnyataan tentang karakteristik yang bisa dilihat ini dapat diverifikasi dan merupakan laporan.

Berbagai pernyataan tentang masa depan adalah sebuah inferensi, karena masa depan tidak diketahui. Pernyataan, "Presiden akan masuk rumah sakit hari Kamis untuk checkup" adalah sebuah inferensi, karena ia berkenaan dengan masa yang akan datang. Pernyataan yang lebih aman dalam hal ini adalah, "Sekretaris presiden mengatakan bahwa presiden akan masuk rumah sakit hari Kamis untuk checkup." Pernyataan tersebut bisa diverifikasi - itu berarti pernyataan itu adalah sebuah laporan.

Seseorang yang diserang menceritakan tentang orang yang menyerangnya, "Tingginya pasti enam kaki dan mungkin sedang mabuk." Pernyataan bahwa si penyerang "sedang mabuk" adalah sebuah inferensi, meskipun mungkin yang paling akurat adalah menyebutnya sebagai inferensi tambahan karena dipakai kata mungkin. Dalam sebuah contoh lain, seorang koresponden televisi yang sedang menjelaskan kegagalan Kongres untuk menolak veto presiden atas rancangan undang-undang kerja darurat. Sang pelapor mengatakan, "Partai Demokrat tampaknya tercengang dengan apa yang terjadi."

Sebuah penilaian adalah suatu ekspresi kesetujuan atau ketidaksetujuan atas sebuah kejadian, orang, atau objek. Misalnya, siswa kadang kala menggunakan kata hebat/jago/top (kesetujuan) atau menyebalkan/galak (ketidaksetujuan) untuk mendeskripsikan seorang guru.

Surat-surat yang masuk pada redaksi koran kadang kala mengandung penilaian. Renungkan tentang surat yang menjabarkan serial televisi Roots sebagai sebuah "kebencian etnis - yang menjual kritik" dan "fiksi yang berlebihan."

Kadang kala sumber sebuah cerita koran akan menyatakan penilaian, dan penting sekali bagi seorang jurnalis yang waspada untuk menentang hal itu.

Selama beberapa acara bedah buku di Texas, kritik seorang feminis terhadap seksisme di dalam buku berbunyi demikian, "Tahun ini terdapat beberapa buku yang sangat kami sukai, dan banyak buku - buku jelek."

Kemudian yang mewawancarai bertanya, "Yang bagaimanakah buku jelek tersebut?" Dia langsung menjawab: "Buku yang jelek adalah yang menunjukkan 75 persen atau lebih peran pria di dunia kerja."

Hal ini menyimpangkan wawancara dari bidang penilaian menjadi bidang laporan.Seorang jurnalis bisa berbuat banyak agar objektif dengan menghapuskan inferensi dan penilaian dan tetap sebisa mungkin mengacu pada laporan. Meski demikian, hal itu sendiri tidak menjamin objektivitas.

Sumber:

Severin, Werner J. & James W. Tankard, Jr. 2001. Communication Theorie: Origins, Methods, & Uses in the Mass Media. Addison Wesley Longman, Inc.

1 komentar: