Rabu, 17 Februari 2021

GENERATION GAPS - BAGAIAMANA MEMAHAMI DAN MENANGANI MEREKA

 



Di hampir setiap tempat kerja yang mempekerjakan banyak orang, perbedaan generasi menghadirkan beberapa tantangan. Perbedaan ini sama pentingnya dengan ketika Anda memutuskan mencari nafkah apakah sebagai tenaga kerja lepas, kontrak atau tetap. 

Generalisasi menyeluruh tentang karakter seseorang atau generasi berdasarkan kapan orang dilahirkan mungkin bias, dan tentu saja Anda tidak ingin membuat stereotip.

Tapi kita semua dibentuk oleh budaya dan peristiwa di masa seseorang tumbuh menjadi dewasa. Keyakinan, gaya komunikasi dan pengambilan keputusan, pola interaksi, dan harapan bisa saling bertentangan antara seseorang dan orang lainnya. 

Kesalahpahaman bisa berkembang. Namun demikian, berapapun kelompok usia Anda, Anda akan mendapat manfaat dari mempraktikkan empati terhadap  kelompok yang lain. 

Disinilah pentingnya kita mendapatkan informasi – meski bisa jadi tidak harus demikian – melalui pengamatan sehingga Anda menemukan cara untuk membuat orang-orang dalam kehidupan kerja sehingga Anda bahagia tanpa harus mengorbankan nilai-nilai Anda sendiri.

Generasi Baby Boom (lahir 1946 hingga 1964) sering kali sangat kompetitif dan mendefinisikan diri mereka melalui pencapaian. Banyak diantara generasi baby boomer yang gila kerja. 

Meskipun Boomers ingin mengubah dunia dan berjuang untuk perubahan (hak-hak sipil, peran perempuan), secara keseluruhan mereka menghormati otoritas, loyalitas, posisi, dan kerja keras yang menciptakan kemajuan ke atas. 

Mereka ingin anak-anak muda saat ini maju dengan cara yang sama: mendapatkan penghargaan (dan kepercayaan diri) secara bertahap dari waktu ke waktu.

Gaya komunikasi: Suka kontak langsung dan bagus dalam konfrontasi; sering mengadakan pertemuan; bertelepon, email dan informasi rinci; memperoleh informasi umum dari surat kabar dan televisi; banyak yang menggunakan Facebook, LinkedIn dan Twitter, yang lainnya tidak menyukai semua atau sebagian.

Bereaksi buruk terhadap: Orang yang lebih muda dianggap kurang hormat, tingkat komitmen rendah, ekspektasi akan kemajuan yang cepat, kebutuhan untuk sering dibimbing, kesombongan tentang keterampilan teknologi superior mereka sendiri dan penulisan yang ceroboh!

Bereaksi dengan baik terhadap: Sikap bisa melakukan, kemauan untuk bekerja keras dan mengatasi hambatan, menghormati prestasi dan pengetahuan mereka dan pesan yang terencana dan terbukti.

Generasi X (lahir 1965 hingga 1980) adalah generasi yang relatif kecil yang benar-benar berada di tengah. Mereka sering kali adalah manajer menengah dan harus menerjemahkan antara orang yang mereka laporkan dan yang melapor kepada mereka. Mereka pekerja keras, individualistis, berkomitmen untuk berubah dan mencari keseimbangan hidup. Mereka menghargai peluang untuk membangun keterampilan.

Gaya komunikasi: Bergantung pada email, sebaiknya singkat dan efisien; lebih suka melewatkan rapat; nyaman dengan teknologi baru dan media sosial (terutama Facebook) dalam berbagai tingkatan, tetapi tanpa antusiasme penuh dari orang-orang yang lebih muda; merujuk ke televisi dan pada tingkat yang lebih rendah, surat kabar, untuk informasi.

Bereaksi buruk terhadap: Manajer otokratis, tidak menghargai; suasana hak dari bawahan dan kebutuhan bawahan untuk perhatian terus-menerus, dorongan dan pengawasan dan keengganan untuk bekerja ekstra dan beradaptasi dengan kebutuhan tempat kerja; ketidaksabaran; Keyakinan "tidak diterima".

Bereaksi dengan baik terhadap: Banyak akal, kemandirian, rasa tanggung jawab, perhatian terhadap detail, kemauan untuk mengambil tugas yang "tidak menarik", komunikasi yang baik.

Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) (lahir 1981 hingga 1996) termasuk dalam generasi yang sangat besar dan kuat menghadapi persaingan tetapi peluang yang lebih sedikit. Mereka sangat sosial dan berpikiran komunal, lebih suka bekerja dalam tim dan berhubungan dekat dengan semua orang di dalam dan di luar kantor. 

Mereka menginginkan tanggung jawab – sesegera mungkin - plus pendampingan intensif. Mereka berharap bisa menghabiskan karir mereka dengan terus menerus mencari pekerjaan baru dan bereksperimen dengan sumber pendapatan lain. 

Mereka tidak materialistis dan biasanya segera meninggalkan pekerjaannya bila sudah merasa tidak sreg dan terlibat, bahkan ketika tidak ada pekerjaan lain yang terlihat. Memberikan nilai tinggi untuk pengalaman aktif, inklusivitas, dan toleransi.

Gaya komunikasi: Digital sepenuhnya; lebih suka berinteraksi melalui SMS, pesan instan, dan media sosial, terutama Facebook; menarik berita dan informasi dari Internet; menggunakan email hanya jika diperlukan; tidak antusias dengan kontak telepon, rapat, dan konfrontasi.

Bereaksi buruk terhadap: Kurangnya rasa hormat; dorongan, penghargaan atau inklusi yang tidak memadai; tidak diberi alasan untuk tugas; tidak diakomodasi dalam preferensi gaya hidup; diharuskan bekerja dengan teknologi lama.

Bereaksi dengan baik terhadap: Pelatihan, peluang untuk belajar dan tumbuh, kesadaran akan tujuan, dihargai, penjelasan, pengalaman baru, komunikasi terus-menerus, kerja sama, peluang untuk bekerja dengan orang-orang kreatif cerdas lainnya, penghargaan cepat dan wawasan ke dalam gambaran besar.

Generasi Z (lahir 1997 hingga 2010) mungkin akan dikenal sebagai Generasi yang Tergelincir. Ini dikarenakan sebagian besar dari mereka, ekspektasi karir dan renacanya ke depannya berubah karena , pandemi virus Corona pada tahun 2020. Mereka adalah generasi yang paling beragam. Banyak diantara generasi ini yang teguh memegang prinsip progresif dan berpendidikan tinggi; menghindari risiko; pragmatis; nilai-nilai didorong terutama dalam hal kesempatan yang sama dan lingkungan. Rentang perhatiannya pendek.

Gaya komunikasi: Ini adalah "digital native sejati" pertama dan menggunakan ponsel cerdas mereka untuk semua informasi, hiburan, dan komunikasi, tetapi hindari panggilan telepon. Kumpulkan berita dari Twitter dan saluran online lainnya. Gunakan berbagai platform sosial dan suka media kreatif dan singkat seperti Snapchat dan Instagram. Preferensi kuat untuk video. Sangat dipengaruhi oleh rekan-rekan mereka.

Bereaksi buruk terhadap: Kurangnya kejujuran dan transparansi, diabaikan dalam pengambilan keputusan, tidak dihormati pendapatnya.

Bereaksi dengan baik terhadap: Waktu tatap muka dan umpan balik yang teratur, komunikasi singkat, penggunaan video, diperlakukan sebagai kontributor.

Sumber:

Canovar, Natalie. 2021. Business Writing For Dummies®, 3rd Edition. New Jersey:  John Wiley & Sons.

Selasa, 19 Januari 2021

STATPHOBIA

 


Pemeritah negara tiran paling takut sama statistik. Dulu, sebelum pemerintah Gorbachev, orang Rusia tidak pernah dan takut menggunakan statistik politik untuk menggambarkan kesengsaraan sejarah mereka.

Selama 1920-an hingga 1980-an, menurut Profesor Harvard, Gary King - ilmuwan di AS pertama yang mulai menggunakan statistik politik -- Uni Soviet memblokir akses pembelajaran dan data statistik yang diterbitkan lembaga-lembaga internasional. 

Alergi pemimpin-pemimpin Uni Sovyet terhadap statistik sunggu luar biasa namun mereka menikmatinya. Statistik sering digunakan sebagai alat propaganda. Stalin adalah pemimpin Uni Sovyet mempelopori penggunaan statistik untuk propaganda mengelabui rakyatnya. 

Dia memalsukan angka statistik nasional: Dia menutupi sekitar sembilan juta kematian akibat penindasan Stalin dan tingkat bunuh diri serta penahanan yang sangat tinggi. Lebih buruk lagi, usaha pribadi untuk mengumpulkan statistik juga dilarang, dan Pemerintah Tirai Besi itu mencegah ilmuwan politik mengakses sumber daya statistik asing.

Di akhir tahun 80-an, liberalisasi Gorbachev membawa upaya pertama untuk lebih sering menggunakan statistik politik. Namun, periode di mana statistik dapat dipopulerkan tak berjalan lama. 11 tahun kemudian, Vladimir Putin menjadi Presiden Rusia dan mulai mengecam keras penggunaan statistik, terutama di media massa.

Nuansa itu diciptakan untuk mendukung propaganda. Masyarakat dibuat tidak melek statitik. Publik tidak peduli dengan metode analisis statistik. Disini Putin mendapat banyak mendapat manfaat. Antara lain, ketika Rusia menganeksasi Krimea, Putin tak perlu menjelaskan dengan data statistic soal alasannya. Cukup dengan menggunakan argumen sejarah dan sastra, rakyat Rusia memaklumi atau diam.

Para jurnalis Rusia juga terjebak dalam nuansa itu. Saat memaparkan peristiwa aneksasi itu, wartawan hanya menyinggung soal moralitas, kebanggaan bangsa, dan sejarah. Misalnya, ada seorang komentator yang berkata, “kami layak mendapatkan Krimea; kami adalah sebuah kerajaan dan secara historis kami memilikinya, "atau" Anda lihat, Tolstoy, Pushkin, Mayakovsky, menulis tentang Krimea sebagai wilayah Rusia. "

Padahal, beberapa statistik relevan yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk mempengaruhi keputusan politik, misalnya apakah aneksasi mempunyai motif ekonomi atau ambisi geografis. Sebab bagaimanapun saat itu ekonomi Rusia sedag kendor.  Pada 2014, PDB per kapita Rusia turun dari 14.125 menjadi 9.325, sementara tingkat kemiskinan meningkat dari 11,2 persen menjadi 13,3 persen hanya dalam satu tahun. Data statistik ini sepenuhnya diabaikan.

 


Sabtu, 16 Januari 2021

TUKANG

 

  Ilustrasi: https://www.percetakanmurahsenyum.com/2020/09/lebih-dekat-dengan-alat-pembuat-stempel.html  

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tukang merujuk pada orang yang mempunyai kepandaian dalam suatu pekerjaan tangan (dengan alat atau bahan yang tertentu): -- batu, -- besi, -- kayu; Orang yang pekerjaannya membuat (menjual, memperbaiki, dan sebagainya) sesuatu yang tentu.

Yang membedakan dengan yang lain adalah kekhasannya; indiviualistis, kemandirian, dan inedependen. Toh seperti kata lain pada umumnya, makna dan penggunaan kata tukang bergeser.   

Dulu, pekerjaan bapak saya adalah tukang, tukang stempel. Bukan orang yang pekerjaannya mencap surat resmi, surat berharga atau dokumen lainnya, melainkan membuat stempel. Bahannya dari karet alami. Saya sering diajak bapak membeli karet (bentuk lembaran) dari pabriknya yang ada di Malang. Sementara gagang kayunya dibeli dari pengrajin dari Blitar. Saya lupa persinya. Yang saya ingat daerah di dekat makam Bung Karno.

Alamat persisnya saya lupa.  Yang saya tahu, dari awal ya belinya disitu tak pernah berpindah. “Karetnya bagus. Jarang ledeh dan stempelnya tahan lama,” kata bapak saya. Pernah dicoba membeli karet dari tempat lainnya, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Stempel cepat leleh dan pada titik tertentu, saat produksi stempel juga sering _ledeh_.

Saya tidak tahu bagaimana sebutan tukang stempel ke bapak saya itu muncul. Tahunya, julukan itu sangat popular melekat di Bapak. Jika ada orang luar Gresik yang menanyakan dimana rumah Basjir (itu nama bapak saya), orang akan bertanya, Basjir siapa? Tukang stempel? Orang akan menunjukkan alamat rumahnya.

Dalam buku _Penjaja dan Raja: Perubahan Sosial dan Modernisasi Ekonomi di Dua Kota Indonesia_, antropolog Amerika – Clifford Geertz, menyebut tukang untuk pengrajin tangan. Istilah “tukang” digunakan untuk menyebut setiap orang yang mempunyai ketrampilan kerja tertentu, apapun itu. Jadi istilah itu bisa merujuk pada tukang jahit, tukang potong (bisa potong rambut, tukang daging, atau yng sejenisnya), tukang masak, dan sebagainya.

Kekhasan tukang adalah mereka bekerja secara independen dan swasembada. Tukang kayu dan tukang jahit merupakan contoh yang menunjukkan cara kerja tukang yang individualistis itu Tukang stempel seperti bapak saya menggunakan rumah sebagai bengkel kerjanya.       

Pekerjaan membuat stempel secara manual membutuhkan ketrampilan. Pebuatannya dimulai dari membuat cetakan berupa susunan huruf dan kata sesuai dengan yang diinginkan pemesan. Huruf-huruf (font dan tipenya beragam) berupa batangan kecil dan ukurannya mulai dari batang korek api hingga seukuran jari kelingking sesuai dengan font dan tipenya. Batangan itu terbuat dari timah hitam.

Batangan-batangan disusun dan diikat dengan karet bekas ban dalam roda sepeda yang dipotong kecil-kecil yang kemudian atasnya disemen dengan gips sehingga kuat dan tidak berantakan. Susunan huruf itu kemudian dicetakkan pada hamparan gips (kapur) yang dipadatkan berukuran 15x30 sentimeter. Jadi bila ukuran stempel sekitar 7x 5 sentimeter, dalam hamparan cetakan itu bisa dibuat 5-6 stempel. Pemadatan dilakukan dengan pemasanan.

Setelah padat, di atas gips tadi dihamparkan karet sesuai ukuran cetakan gips. Karet harus menutupi semua permukaan gips namun tidak boleh dalam satu potongan, ada beberapa yang harus dipotong terutama pada permukaan yang ada cetakan bakal stempel itu. Setelah penuh baru dipres dengan alat dan dipanaskan dengan menempatkan kompor di bawahnya. Disitulah saya paham kenapa bapak saya disebut tukang.     

Semua tugas itu dengan mudah dikerjakan sendiri. Kadang-kadang memang ada bantuan. Kalau bapak saya yang membantu adalah anak-anaknya yang biasanya diangggap magang. Siapa tahu bisa meneruskan usahanya. Namun, kini tak ada yang melanjutkan usaha kerajinan stempel itu.

Situasinya memang berubah. Anak-anaknya tetap menjadi tukang, tapi bukan tukang stempel. Begitu pula dengan istilah tukang. Istilah tukang dapat dipergunakan untuk menyebut ketrampilan yang hampir tak terbatas.

Ironisnya, orang Jawa – seperti kata Geertz – menyebut politikus yang korup sebagai “tukang kursi” (kursi parlemen); Tukang omong kosong untuk pembicara yang suka ngomong bertele-tele; atau tukang main perempuan untuk seorang Don Juan.    

Pergeseran tidak berhenti sampai disitu. Bila tukang selama itu disebut independen, swasembada dan individualistis, sekarang berubah menjadi betergantungan, dan kolektif. Bahkan -- ketika sering wawancara dengan Ridwan Saidi -- tokoh Betawi sering itu menyebut kata "ditukangi" untuk orang yang dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan tertentu.