Sabtu, 09 Oktober 2021

Nyaman itu Cepat, Murah, dan Mudah

 



Rally's adalah jaringan usaha makanan cepat saji yang tidak sebesar McDonald misalnya. Rally’s hanya memiliki  400 restoran. Namun, penjualan tahunan di Rally rata-rata dapat mencapai sekitar $1.300 per kaki persegi dibandingkan dengan $400 di McDonald's. Kok bisa?

Untuk bisa bersaing dengan rantai makanan cepat saji lainnya, Rally’s mengembangkan strategi pemasaran yang kalau dalam konsep prilaku konsumen disebut sebagai rantai makna-akhir (means-end chain), sebuah konsep yang dipopulerkan Profesor Gutman, Reynolds dan kawan-kawannya (Journal of Marketing 46:60-72).

Means-end adalah suatu struktur pengetahuan yang dikonstruksikan dengan cara menghubungkan pengetahuan konsumen tentang ciri atau atribut produk dengan pengetahuan tentang konsekuensi-konsekuensi dari atribut-artibut tersebut dan nilai-nilai personal.

Ciri atau atribut misalnya, ukuran, kapasitas ruangan, dan sebagainya. Konsekuensi adalah manfaat yang diharapkan atau dihindari konsumen ketika mengkonsumsi suatu produk. Nilai mewakili keyakinan yang dianut orang berkaitan dengan apa yang penting dalam hidup yang membentuk perilaku seseorang.

Sudut pandang makna-akhir menyatakan bahwa konsumen berpikir tentang ciri produk secara subjektif dalam konteks konsekuensi pribadi. Ini dapat dilihat dari misalnya, apa ciri produk ini? Apa manfaat ciri produk ini bagi saya? (Peter dan Olson, 2009)

Rally’s menggunakan analisis makna-akhir untuk mengidentifikasi atribut dan konsekuensi utama yang mendasari keputusan pembelian produk oleh konsumen. Juga untuk memahami arti dari konsep tersebut bagi konsumen. Atas dasar itu, ciri produk dan layanan yang ditawarkan Rally’s adalah harganya yang murah, cepat dan nyaman. Tiga hal itu telah menjadi DNA dari Rally’s.

Kedai misalnya, dibandingkan rantai makanan cepat saji lainnya, kedai Rally yang khas ukurannya relatif kecil. Ini memungkinkan mudah dalam penentuan lokasi saat mereka harus mendirikan kedai barunya. Karena kecil, Rally's dapat dibangun dengan biaya sekitar $350.000, dibandingkan dengan lebih dari $1 juta untuk rata-rata kedai McDonald's misalnya. Strategi ini yang memberikan kontribusi pada kekuatan Rally’s bersaing dari sisi harga.

Ditambah lagi, Rally's tidak menawarkan tempat duduk pelanggan. Makanan dipesan di jendela walk-up atau drive-through dan dimakan di tempat lain. Selain membuat antrean drive-through di restoran Rally bergerak sangat cepat sehingga banyak pelanggan datang dalam waktu 45 detik, model ini juga bisa menekan biaya.  

Dan makanannya? Sebenarnya, makanan itu sendiri tidak begitu penting bagi banyak konsumen. Seperti yang diakui oleh salah satu pelanggan Rally, “Makanannya tidak terlalu enak di sini, yang penting, disini makananya murah, cepat, dan mudah.”

Di tengah pandemic Covid 19, ketika hampir semua resto cepat saji berbenah dan menata ulang drive- thru-nya, Rally’s  memperbaiki kinerja pemanggaannya. Kalau sebelum pandemi Rally’s menggunakan pemanggang flattop yang lebih rentan terhadap kesalahan manusia, beralih ke pemanggang clamshell.  

Dari perspektif mata burung, perombakan dapur dan perombakan eksterior ini menciptakan efisiensi–dan menghapus jarak setengah mil – karena mondar-mandir di sekitar pemanggangan yang harus selalu dicek -- yang tidak perlu.  Pembenahan ini untuk membantu perusahaan mempertahankan keunggulan di drive-thru saat kompetisi yang kini kian menarik.

Menurut Peter dan Olson, tidak seperti orang-orang dalam budaya seperti Prancis, banyak orang Amerika tidak terlalu terlibat dengan makanan. Penelitian industri makanan cepat saji menunjukkan bahwa tiga faktor terpenting dalam banyak kasus pemilihan tentang tempat makan adalah (1) waktu, (2) berapa lama pelanggan ingin menghabiskan waktu makan, dan (3) harga.

Hal ini setidaknya menunjukkan pergeseran tentang makna dari konsep kenyamanan misalnya. Dulu orang biasa makan ketika makanan sudah siap. Sekarang orang makan ketika mereka sudah siap. Artinya, kalau dulu untuk makan sesuatu mereka harus menunggu, sekarang orang sudah sabar menunggu. Mereka ini ingin begitu dia duduk, makan sudah ada. Dalam konteks ini, seringkali kecepatan dan kenyamanan adalah konsekuensi penting, bukan makanan itu sendiri.

Rally’s berusaha memberikan semua itu. Dengan memahami atribut dan konsekuensi apa yang benar-benar diinginkan pelanggan, penjualan Rally berlipat ganda dan laba tiga kali lipat dari tahun ke tahun, sementara beberapa pesaing mengalami pertumbuhan atau penurunan yang stagnan. 

Jumat, 03 September 2021

Bagaimana Pedagang Kakilima Berbisnis



9 Januari 2017, pukul 15.57.10 saya sambil jalan ke stasiun Bogor pukul 11.45 ngobrol sama Ucok, 37 tahun, PKL di Jl. Dewi Sartika. Katanya, sehari omsetnya Rp 1-2 juta hari biasa. Untungnya 10-20%. Kalau hari libur atau puasa bisa dua kalinya...

Dia ngambil barang, busana daleman, dari Rangkuti (Ciawi). Ambilnya sistem bulk, tak boleh milih baik ukuran maupun kualitasnya. Di produknya memang tak tercantum ukuran. Istilah Ucok, all size. Harga _daleman_ di Jl. DS lebih murah dibandingkan di toko seperti Point Square. Busa separoh nya karena barang rijekan pabrik. Istilah kerennya FO.      
   
Rangkuti sendiri ngambil dari Haji Umar atau Haji abdullah di Cipulir, Jaksel. Haji Umar dan Haji Abdullah ngambil barang dari perusahaan garmen seperti Ricky (GT Man) atau Rider. Mereka,  maksudnya Rangkuti - kata Ucok- harus punya deposit Rp 2 M. Umar dan Abdullah tentu lebih besar lagi.

Barang yang dijual barang rijekan yang tak ada mereknya karena dicabutin. Setiap hari Ucok kulakan ke Rangkuti Rp 1-2 juta perhari. Di sepanjang jalan Dewi Sartika ada 250 pedagang KL. Sekitar 10-15 pedagang daleman di DS ngambil barang dari Rangkuti. Selain memasok PKL Jl. DS, Rangkuti juga memasok pedagang di pasar lain. Istilah Ucok se Bogor, bahkan Sukabumi dan sekitarnya.

Setiap kulakan dibayar kontan. Biasanya barang didrop ke pedagang sesuai dg pesanan. Sore hari biasanya. Makanya, kalau kita beli kaos di DS misalnya, harganya tidak beda antara pedagang satu dan pedagang lainnya. Dalam bahasa Clifford Geerts ada model sliding price. Model harga tawar menawar pedagang pembeli.

Tak ada persaingan antar pedagang. Kalau gak ada benang di pedagang A, pedagang A akan ngambil barang dari pedagang B. Begitu sebaliknya. Mungkin karena itu di Pasar jarang terjadi pertikaian sesama pedagang. Kalau di pasar ada pertikaian tapi paling sesama tukang parkir....

Moral Ekonomi Pedagang Pasar Tradisional




Suatu Sabtu di bulan Januari 2018, saya berbelanja makanan kucing di Pasar Bersih Sentul City Bogor. Kebetulan saat mau berangkat Dhyhan, anak saya, pesan untuk beli makanan kucing karena stok makanan kucing di rumah habis. Saya membeli sekantong makanan kucing dan sebungkus kopi Mukini dan Gayo di Toko Alisha Abadi.


Di etalase toko itu ada kopi pasak bumi. Saya ingin mencobanya. Namun mengecewakan karena ternyata segel bungkusnya sedikit terbuka. Tak masalah sebenarnya karena di dalamnya, kopi tersebut dikemas lagi dalam bentuk sache. Namun, buru-buru pramuniaga toko mengatakan, “Pak ini tidak dijual karena rusak. Pilih yang lain yang masih bagus segelnya saja Pak. Yang itu biar saya konsumsi sendiri.”

Luar biasa.. Ada kejujuran pada pramuniaga toko tadi sehingga tak mau merugikan konsumennya. Tak jadi membeli kopi pasak bumi, saya cuma membeli kopi biasa dan makanan kucing. Total yang harus saya bayar Rp 120 ribu. Saya memberi uang Rp 200 ribu dan menerima kembalian dari lelaki yang melayani pembeli di toko itu.

Belanja makanan kucing sudah, saya pun belanja telur. Kemudian pindah lagi ke penjual tahu dan tempe. Saya keliling pasar itu sekitar setengah jam-an. Saat saya belanja makanan tape uli dan kukus, tiba-tiba seorang remaja menghampir saya. Rupanya pelayan toko makanan kucing tadi.
Dia menyodorkan selembar uang Rp 50 ribu dan selembar Rp 100 ribuan kepada saya. “Lho?...” kata saya heran.

“..Iya Pak…Setelah saya hitung lagi, uang yang Bapak serahkan tadi ternyata tiga lembar Rp 100 ribu lengket. Ini kelebhan dan pengembaliannya… Pak,” katanya.

Subhanaallah… saya baru sadar rupanya kembalian yang saya terima di toko makanan tadi Rp 30 ribu jadi kurang Rp 50 ribu. Bahkan lembar yang serahkan juga kelebihan. Saya sendiri tak menyadari itu dan baru menyadari saat remaja tadi menyerahkan kekurangan uang kembalian itu. “Saya juga sudah lupa Mas… Sebenarnya Anda nggak ngembalikan juga nggak apa-apa, toh saya tidak sadar dan lupa.”

Jawaban yang muncul dari pelayan itu sungguh mencengangkan saya, “Tapi Allah tidak lupa dan mencatat bahwa saya curang dalam bertransaksi. Saya nanti diminta pertanggungjawaban saya.”… Masya Allah, dalam hati saya berkata, ternyata ada dan mungkin banyak pedagang muda yang jujur. Saya pun mengembalikan uang itu kepadanya. “Sudah..Mas ambil saja… saya ikhlas.” Namun dengan halus dia menolaknya. Biarlah Pak.. mungkin Bapak lebih perlu,” katanya berlalu setelah mengucapkan terima kasih..

Pengalaman itu mengingatkan saya tentang kajian moral ekonomi.  Dalam The Moral Economy of Trade: Ethnicity and Developing Market (1994:7), Hans Dieter Ever menyatakan bahwa dalam pasar yang didominasi oleh masyarakat petani umumnya dicirikan dengan tingkat solidaritas yang tinggi dan dengan suatu sistem nilai yang menekankan tolong menolong, pemilikan bersama atas sumber daya dan keamanan subsistensi.

Moral ekonomi dibentuk dari norma dan sentimen mengenai tanggung jawab dan hak individu dan institusi sehubungan dengan orang lain. Norma dan sentimen ini jauh lebih tinggi dari sekadar masalah keadilan dan persamaan, dan lebih berorientasi pada konsepsi tentang kebaikan, misalnya mengenai kebutuhan dan tujuan kegiatan ekonomi.

Orientasinya mencakup pemeliharaan lingkungan. Istilah ekonomi moral biasanya diterapkan pada masyarakat dimana hanya ada sedikit atau tidak ada pasar. Oleh karena itu tidak ada persaingan dan nilai hukum. Intinya adalah aktivitas ekonomi diatur oleh norma mengenai tanggung jawab atas sebuah pekerjaan, apa dan seberapa besar mereka diperbolehkan untuk mengkonsumsi, mereka bertanggung jawab kepada siapa, kepada siapa mereka terikat dan bergantung (Thompson, 1971).

Dalam konteks pedagang pasar, berjualan atau bekerja adalah ibadah yang berkaitan langsung dengan Allah sebagai Tuhan merupakan suatu pegangan melakukan aktivitas perdagangannya. Konsep ini yang melatarbelakangi kenapa pedagang pasar tidak terlalu banyak mengambil keuntungan, menolong sesama pedagang bila ada barang yang dibutuhkan pembelanja kebetulan tidak ada di stok tokonya, dan sebagainya, termasuk konsep persaingan pedagang di pasar tradisional.

Ketika mengupas soal moral ekonomi, dalam Islam and the Moral Economy, Charles Tripp (2006) menjelaskan soal tanggapan terhadap kapitalisme. Moral yang dilandasi keyakinan terhadap ajaran Islam memberikan alasan sah kepada seorang atau sekelompok orang untuk bertindak dengan cara yang bertentangan dengan kapitalisme. Ini antara lain ditandai dengan bangkitnya sistem perbankan Islam.

Seperti yang dikatakan Braudel, istilah kapitalisme, terutama bersifat politis, pertama kali digunakan oleh beberapa pengkritik selama revolusi industri yang menggambarkan lapangan komersial dan keuangan yang relatif terbatas untuk menjajah semua kehidupan sosial dan ekonomi. Intinya terletak serangkaian negasi atau pengecualian, yang didasarkan pada pemahaman baru tentang properti dan tenaga kerja, dan semakin dimasukkannya perangkat hukum dan pemaksaan tatanan politik.

Proses ini dikritik secara keras oleh banyak orang. Proudhon (dalam Braudel, 1984), misalnya, menggambarkan kapitalisme sebagai sebuah rezim, yang didirikan atas kepemilikan pribadi, di mana modal, sumber pendapatan, pada umumnya tidak termasuk orang-orang yang berhasil karena kerja keras.

Dalam The Moral Economy of The Peasant: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia, James Scott (1976) mendefinisikan moral ekonomi sebagai pengertian petani tentang keadilan ekonomi dan definisi kerja mereka tentang eksploitasi--pandangan mereka tentang pungutan-pungutan terhadap hasil produksi mereka yang dapat ditolerir dan yang tidak dapat.

Menurut James Scott, petani akan memperhatikan etika subsistensi dan norma resiprositas yang berlaku dalam masyarakat mereka. Pelanggaran terhadap norma-norma itu dapat memunculkan kemasygulan dan perlawanan. Bukan hanya karena kebutuhan-kebutuhan tidak dipenuhi, akan tetapi juga karena hak-hak telah dilangar.
   
Etika subsistensi merupakan perspektif petani yang memandang tuntutan-tuntutan yang tidak dapat dielakkan atas sumber daya yang dimilikinya dari pihak sesama warga desa, tuan tanah, atau pejabat. Kriteria petani tentang etika susistensi adalah apa yang tersisa setelah semua tuntutan dari luar terpenuhi, apakah yang tersisa tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya—dan bukannya tingkat tuntutan-tuntutan itu sendiri.

Sejak tahun 1970an media keuangan dan kemudian media global melaporkan secara ekstensif perkembangan bank syariah yang cepat dan pembukaan fasilitas perbankan syariah oleh biluyan kapitalisme konvensional seperti Citibank dan Chase International. Insiatif perbankan bisa dianggap sebagai salah satu bentuk “perlawanan” terhadap sistem yang dianggap tidak sesuai dengan norma agama dan hal tersebut dibenarkan dengan mengacu pada perintah ajaran Islam.

Minggu, 15 Agustus 2021

POTRET MAHASISWA

 



Tahun 2002 – 2005, Kevin Anthony Jones dari Center for Inclusive Digital Enterprise (CeIDE), Singapore, sebagai dosen sekolah teknik komputer di sebuah universitas di Asia Tenggara melakukan penelitian tentang bagaimana mahasiswa berkuliah. Jones yang koordinator penuh waktu dan dosen kuliah 'Rekayasa Perangkat Lunak' menemukan sesuatu yang menarik.

 

Dalam buku Higher Education 4.0: The Digital Transformation of Classroom Lectures to Blended Learning yang ditulis bersama Ravi S. Sharma dari Zayed University, Dubai, Abu Dhabi, United Arab Emirates, Jones menulis sepertinya ada ketidaksesuaian kecil dalam perilaku siswa. Menurut dia, ada kelesuan yang ditunjukkan para siswa terhadap pembelajaran dan pengajaran yang mapan.

 

Situasi menjadi semakin jelas: kecuali untuk sebagian kecil siswa berprestasi tinggi. Mereka ini sangat jauh dari dan apatis terhadap pembelajaran mereka, namun hampir seolah-olah itu adalah tugas berat yang dipaksakan. Tentu saja, para siswa terlalu tertutup untuk menyuarakan sentimen seperti itu secara terbuka, tetapi perilaku mereka berbicara banyak.

 

Ada beberapa temuan menarik yang didapat Jones. *Pertama*, mahasiswa sering tidak menghadiri kuliah dan tutorial. Pada beberapa sesi pembelajaran pertama, kehadirannya tinggi, tetapi dengan cepat berkurang hingga pertengahan semester, kehadiran umumnya stabil di bawah 50%. Ini sangat kontras dengan kehadiran hampir penuh di sesi lab.

 

*Kedua*, tidak mengajukan pertanyaan kepada guru. Mengajukan pertanyaan selama kuliah yang cukup baik tidak pernah terjadi. Bertanya setelah kelas dalam interaksi satu lawan satu dan mengirim email adalah pendekatan yang lebih disukai untuk mengajukan pertanyaan; jumlah siswa tertinggi yang mengajukan pertanyaan kepada guru dalam satu semester adalah 15 siswa dalam ukuran kelas lebih dari 100.

 

Dalam dialog santai, siswa menunjukkan kesadaran akan keefektifan mencari klarifikasi dari guru tentang bidang-bidang ketidakpastian dalam pengetahuan baru. Ketika ditekan untuk menjelaskan ketidakkonsistenan pemahaman dan tindakan mereka, beberapa siswa menyatakan bahwa mereka tidak memiliki ketidakpastian.

 

Namun, penilaian di tempat berikutnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa ini tidak berada di dekat tingkat pemahaman materi yang dianut. Siswa lain mengaku rasa malu sebagai alasan mereka untuk tidak mengajukan pertanyaan.

 

*Ketiga*, tidak mencoba mengerjakan tugas formatif dan latihan soal. Dalam beberapa tutorial pertama, beberapa siswa telah memulai tugas, dan tidak ada yang menyelesaikannya. (Perhatikan bahwa ini formatif, dimaksudkan untuk membangun pengetahuan.) Setelah itu, jumlah siswa yang memulai tugas berkurang menjadi nihil.

 

*Keempat*, tidak meninjau dan merevisi pengetahuan baru secara teratur atau bahkan sama sekali, kecuali selama beberapa hari menjejalkan secara intens sebelum ujian. Buktinya bersifat situasional dan testimonial.

 

Ada banyak meja belajar untuk siswa sekolah. Biasanya, pada minggu-minggu pengajaran semester, mereka ditempati oleh siswa dari sekolah lain. Hanya selama minggu revisi ujian siswa sekolah menempati meja.

 

Dalam diskusi santai, beberapa siswa secara terang-terangan mengaku memfokuskan upaya belajar mereka semata-mata untuk lulus ujian, setelah itu mereka akan (secara metaforis) 'membuang' ilmunya. Siswa lain menjelaskan bahwa itu adalah kebiasaan yang dipelajari untuk menjejalkan pelajaran yang mereka terima.

 

Akibat wajar dari ini adalah bahwa siswa tidak menerapkan pengetahuan yang relevan dari kesempatan belajar sebelumnya untuk memperoleh pengetahuan baru, yang pada dasarnya menggagalkan proses konstruksi berulang dari pengetahuan pribadi yang merupakan landasan sistem pendidikan formal.

 

*Kelima*, tidak mempelajari referensi yang ditentukan untuk pengetahuan baru. Buktinya, kata Jones, adalah laporan penggunaan dari perangkat lunak manajemen pembelajaran universitas, serta penilaian dan lokakarya di tempat mereka kuliah. Referensi yang paling banyak digunakan adalah instruksi lab dengan penggunaan satu kali saja yang tertinggi (sekitar 80% dari kelompok) dan rekaman kuliah dengan penggunaan berulang yang tertinggi (sekitar 30% dari kelompok).

 

Apakah ini kecenderungan umum? Untuk sampai pada kesimpulan itu membutuhkan penelitian yang lebih. Dengan kata lain, perlu pembuktian luas apakah mahasiswa seperti itu dan motivasinya apa. Ini karena – kalau kita diperhatikan banyak juga mereka yang lulus empat tahun setelah penelitin itu dilakukan kini berhasil. 

Senin, 17 Mei 2021

TERTAWA



Beberapa kali saya mengalami kesulitan untuk tertawa ketika membaca lelucon sendirian di rumah. Akan tetapi, ketika saya mendengar lelucon pada saat bersama-sama teman, saya berteriak keras dengan tawa yang tak terbendung. Ternyata tertawa memiliki fungsi sosial yang penting; itulah cara untuk menjalin hubungan.

Tahun 1992, Robert Provine – ilmuwan University of Maryland Baltimore County, Baltimore, Maryland – melakukan penelitian tentang rangsangan tertawa dengan mewawancarai 128 mahasiswa peserta program sarjana psikologi. Dia ingin melihat potensi tertawa membuay orang lain tertawa dengan mengamati tanggapan dari 128 subjek di tiga kelas psikologi sarjana.  

Subjek mencatat – dari 10 kali percobaan -- apakah mereka tertawa dan atau tersenyum masing-masing sample tertawa selama 18 detik, dan diikuti dengan diam selama 42 detik. 

Sebagian besar subjek tertawa dan tersenyum menanggapi presentasi – yang dianggap – lucu pada sesi pertama. Namun, polaritas responsnya berubah dengan cepat. Pada percobaan ke-10, beberapa subjek tertawa dan / atau tersenyum, dan sebagian besar menganggap stimulus itu "menjengkelkan".

Meskipun penelitian lain telah mendeskripsikan efek tawa, dia tidak mempertimbangkan hipotesis yang terkonfirmasi, bahwa tertawa membangkitkan tertawa. Menurut Provine, hanya 15% dari tawa kita yang berasal dari hiburan lelucon!  Mungkin mekanismenya adalah dengan teraktivakannya detektor fitur pendengaran khusus tawa.

Hasil ini relevan dengan dasar neurologis komunikasi sosial, etologi manusia, dan teori produksi dan persepsi bicara.

Dalam konteks pemasaran atau komunikasi pemasaran, perusahaan atau pengelola metek sering memanfaatkan stimulus yang dapat membuat orang tertawa atau tersenyum. Mereka menggunakan iklan lucu. 

Kenapa? Humor dapat menjelaskan subjek atau situasi sekaligus menciptakan rasa pengalaman dan pemahaman bersama. Ini bisa menjadi cara yang efektif bagi merek untuk terlibat dengan orang-orang individu sambil menjangkau khalayak yang luas.

Cara ini sering dilakukan oleh sejumlah merek besar, termasuk Spotify, Burger King, KFC, Irn-Bru, dan Virgin Trains. Misalnya, sebagai bagian dari kampanye akhir tahun, Spotify memanfaatkan data pendengar sebagai inspirasi untuk kampanye iklan bernama, 'Wrapped'.

Ini termasuk iklan yang mengolok-olok pengguna karena menyusun playlist seperti 'I love gingers' dengan 48 lagu Ed Sheeran di dalamnya, dan bahkan mengajak satu pengguna untuk memutar 'Sorry' sebanyak 42 kali di Hari Valentine.

Kampanye itu diterima dengan sangat baik oleh konsumen. Informasi ini sekaligus memberikan gambaran bahwa ketika merek menangani data pelanggan dengan cara yang lucu, hal itu tidak perlu dilihat sebagai gangguan.

Contoh bagus lainnya adalah restoran ayam siap santap, KFC. Tahun 2018, rantai makanan cepat saji menghadapi kekurangan ayam di seluruh negeri. Gara-garanya, KFC ganti pemasok, yang menyebabkan penutupan toko. Ini tentu saja mendapat reaksi keras dari pelanggan di media sosial.

Menanggapi situasi tersebut, merek memutuskan untuk melakukan permainan cerdas pada tulisan KFC dalam kampanye iklan online. Mereka mencap ember ayam populer mereka dengan 'FCK' sebagai permintaan maaf atas kesalahan mereka. Iklan tersebut menjadi viral di media sosial, membuktikan bahwa penanganan bencana PR yang cerdik dan lucu dapat menyembuhkan sejumlah masalah untuk bisnis.

Jadi? Humor adalah cara yang bagus untuk terhubung dengan orang - tidak ada yang lebih menggembirakan daripada berbagi tawa dengan seseorang. Faktanya, orang memang lebih cenderung bersikap hangat kepada Anda jika Anda bisa membuat mereka tertawa. Artinya, memasukkan humor ke dalam strategi pemasaran Anda, sering kali merupakan cara yang pasti untuk menghasilkan asosiasi merek yang positif. 





Sabtu, 08 Mei 2021

TORIQ HADAD

 


Innalillahiwainnailaihirojiun. Sabtu (8 Mei 2021) seorang teman nge-WA mengabarkan kepulangan sahabat saya Toriq Hadad. Saya juga pasti menyusulnya, entah kapan hanya Allah yang tahu.

Pagi ini (9 Mei 2021) saya membuka kembali chat WA saya dengan Toriq. Saya mencoba mengkilas balik percakapan saya dengan Toriq sambil mengenang masa lalu.

Toriq angkatan 16 (masuk tahun 1979) IPB. Saya angkatan 17 (masuk tahun 1980). Waktu mahasiswa dia jualan majalah Tempo di kampus IPB Baranasngiang, Bogor. Dia pehobbi sepakbola. Perkenalan saya dengan Toriq saat sama-sama KKN di Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara tahun 1983. Saat KKN kami pernah satu Tim sepakbola melawan Tim Muspika yang sebagian besar anggotanya adalah personel Koramil. Kami dicukur habis dg skor 8:0..

Setelah lulus, kami sama-sama memilih jadi wartawan. Saya masuk koran Jawa Pos tahun 1985, Toriq bergabung dengan Tempo tahun 1984. Tahun 1987an Troriq menjadi Kabiro Tempo Jawa Timur. Kalau nggak salah waktu itu kantor Tempo Biro Jawa Timur di Kembang Jepun menempati sebuah ruangan di gedung Jawa Pos Kembang Jepun. Tapi saya nggak sempat ketemu Toriq karena tahun 1986 saya dipindah ke Jakarta. Saya cuma 6 bulan di Surabaya.

Lama tidak ketemu sampai saya kerja ke Harian Berita Buana dan selanjutnya ke Republika. Ketemu Toriq justru pas ada demo protes pembredelan tiga media, Majalah Tempo, Tabloid Detik, dan Majalah Editor di Monas.

Kami sempat beda jalan sewaktu pembredelan Majalah Tempo. Toriq di Majalah Tempo yang dibredel karena pembelian kapal perang ex Jerman. Saya di Republika (koran ICMI yang identik dg Habibie). Waktu ketemu di Monas (demo pembredelan), Toriq nanya, "Ed gimana?" (Maksudnya ceritanya versi Republika).

Saya bilang, "Saya juga heran. Yang memberitakan pertama kali kan Republika."...

Pemberitaan di Republika itu isinya tentang palka salah satu kapal yang pecah terhempas ombak dalam perjalanan dari Jerman Timur ke Indonesia. Saya lupa di perairan mana persisnya. Republika menurunkan berita itu mengutip kantor berita Reuter. Cukup panjang perdebatan apakah Republika menurunkan berita itu atau tidak. Pimpinan Republika nggak berani memutuskan (kejadian sama saat memberitakan tokoh Petisi 50 yang diundang Habibie ke IPTN).

Saya selaku Redaktur Pelaksana penanggungjawab halaman satu bersikukuh memberitakan. Alasan saya, karena beritanya dari Reuters, koran2 lain pasti memberitakannya. Jadi sangat lucu kalau Republika tidak memberitakan. Akhirnya berita itu dimuat di halaman satu tapi cuma satu kolom. Besoknya ternyata tak ada satupun koran yang memberitakannya..

Alhamdulillah, beberapa tahun terakhir komunikasi – meski jarang ketemu – akrab. Kami sama-sama ada dalam WAG jurnalis alumni IPB. Tahun 2015an, Toriq saya undang FGD tentang Papua di CARE IPB dan hadir.

Sejak itu kami makin akrab. Atas bantuan Toriq saya bisa membawa mahasiswa PR UI – kebetulan saya ngajar disana – jalan-jalan ke Tempo, meski Toriq sendiri tak bisa menemani. Tapi saat itu ada Mas Zulkifli, Pemred Majalah Tempo merangkap Direkur Pemberitaan, Elik Susanto, Redpel Koran Tempo dan Meiky Sofyansya, Direktur Marketing Tempo.

Beberapa masalah sering kami diskusikan melalui WA. Dia sering mengingatkan saya. Tahun lalu, dia saya minta mengsi kelas PR saya di FISIP UI, namun dia sibuk. “Nanti deh klo waktunya memungkinkan. Sekarang masih padat,” katanya.

Pertengahan Februari 2021 lalu, tiba-tiba ngeWA saya menanyakan tentang program S3 IPB. “Dengar2 lagi ambil doktor di ipb ya?”

Rupanya dia tertarik untuk sekolah lagi. Tapi saya nggak tahu apakah dia jadi mendaftar atau tidak.

Pertegahan Desember 2020, kami sama-sama hadir via Zoom di acara mengenang Mas Daru Priyambodo yang pernah menjadi Pemimin Redaksi Koran Tempo. Saat itu Toriq yang memimpin acara memberi kesempatan kepada saya untuk memberikan testimoni tentang kebaikan Mas Daru.

Seperti diketahui, sebelum bergabung ke Kelompok Media Tempo, Daru adalah warawan Hara Republika. Saat sebagai Redaktur Pelaksana Republika, Daru Priyambodo merupakan salah satu redaktur (opini) Republika. Sebelumnya kam bergabung di Harian Berita Buana. Saat di Berita Buana itu, saya dan Daru bikin heboh karena pemberitaan Tiimor Timur di rubric Dialog yang Daru asuh. Gara-gara itu pula – mungkin salah satu pemicu -- kongsi Sutrisno Bachir (belakangan Ketua Umum Partai PAN) dan pemilik lama Harian Berita Buana bubar.

11 April lalu, kami ngobrol lagi soal Laporan Utama Majalah Tempo investigasi praktek jual beli jabatan di sebuah kementrian. Kebetulan ada teman yang menjadi korban praktek itu. Cukup panjang ngobrolnya meski via WA.

Setelah itu kami tak berkabar. Baru beberapa hari lalu, seorang teman ex Republika yang kini bekerja di Tempo mengabarkan kalau Toriq dirawat di ICU Rumah Sakit Pondok Indah.  

NB dari Prof Radjab Ritonga: Kapal yang dimaksud adalah KRI Teluk Lampung, nyaris karam di Teluk Biscay, Atlantik Utara. ABK diselamatkan helikopter tim SAR Spanyol. Kapal bisa diselamatkan dan dievakuasi ke Malaga. Komandan kapalnya, Letkol Laut (P) Tedjo Edhy Purdjijatno, kelak menjadi Kasal dan Menkopolhukamnya Jokowi.



Rabu, 17 Februari 2021

GENERATION GAPS - BAGAIAMANA MEMAHAMI DAN MENANGANI MEREKA

 



Di hampir setiap tempat kerja yang mempekerjakan banyak orang, perbedaan generasi menghadirkan beberapa tantangan. Perbedaan ini sama pentingnya dengan ketika Anda memutuskan mencari nafkah apakah sebagai tenaga kerja lepas, kontrak atau tetap. 

Generalisasi menyeluruh tentang karakter seseorang atau generasi berdasarkan kapan orang dilahirkan mungkin bias, dan tentu saja Anda tidak ingin membuat stereotip.

Tapi kita semua dibentuk oleh budaya dan peristiwa di masa seseorang tumbuh menjadi dewasa. Keyakinan, gaya komunikasi dan pengambilan keputusan, pola interaksi, dan harapan bisa saling bertentangan antara seseorang dan orang lainnya. 

Kesalahpahaman bisa berkembang. Namun demikian, berapapun kelompok usia Anda, Anda akan mendapat manfaat dari mempraktikkan empati terhadap  kelompok yang lain. 

Disinilah pentingnya kita mendapatkan informasi – meski bisa jadi tidak harus demikian – melalui pengamatan sehingga Anda menemukan cara untuk membuat orang-orang dalam kehidupan kerja sehingga Anda bahagia tanpa harus mengorbankan nilai-nilai Anda sendiri.

Generasi Baby Boom (lahir 1946 hingga 1964) sering kali sangat kompetitif dan mendefinisikan diri mereka melalui pencapaian. Banyak diantara generasi baby boomer yang gila kerja. 

Meskipun Boomers ingin mengubah dunia dan berjuang untuk perubahan (hak-hak sipil, peran perempuan), secara keseluruhan mereka menghormati otoritas, loyalitas, posisi, dan kerja keras yang menciptakan kemajuan ke atas. 

Mereka ingin anak-anak muda saat ini maju dengan cara yang sama: mendapatkan penghargaan (dan kepercayaan diri) secara bertahap dari waktu ke waktu.

Gaya komunikasi: Suka kontak langsung dan bagus dalam konfrontasi; sering mengadakan pertemuan; bertelepon, email dan informasi rinci; memperoleh informasi umum dari surat kabar dan televisi; banyak yang menggunakan Facebook, LinkedIn dan Twitter, yang lainnya tidak menyukai semua atau sebagian.

Bereaksi buruk terhadap: Orang yang lebih muda dianggap kurang hormat, tingkat komitmen rendah, ekspektasi akan kemajuan yang cepat, kebutuhan untuk sering dibimbing, kesombongan tentang keterampilan teknologi superior mereka sendiri dan penulisan yang ceroboh!

Bereaksi dengan baik terhadap: Sikap bisa melakukan, kemauan untuk bekerja keras dan mengatasi hambatan, menghormati prestasi dan pengetahuan mereka dan pesan yang terencana dan terbukti.

Generasi X (lahir 1965 hingga 1980) adalah generasi yang relatif kecil yang benar-benar berada di tengah. Mereka sering kali adalah manajer menengah dan harus menerjemahkan antara orang yang mereka laporkan dan yang melapor kepada mereka. Mereka pekerja keras, individualistis, berkomitmen untuk berubah dan mencari keseimbangan hidup. Mereka menghargai peluang untuk membangun keterampilan.

Gaya komunikasi: Bergantung pada email, sebaiknya singkat dan efisien; lebih suka melewatkan rapat; nyaman dengan teknologi baru dan media sosial (terutama Facebook) dalam berbagai tingkatan, tetapi tanpa antusiasme penuh dari orang-orang yang lebih muda; merujuk ke televisi dan pada tingkat yang lebih rendah, surat kabar, untuk informasi.

Bereaksi buruk terhadap: Manajer otokratis, tidak menghargai; suasana hak dari bawahan dan kebutuhan bawahan untuk perhatian terus-menerus, dorongan dan pengawasan dan keengganan untuk bekerja ekstra dan beradaptasi dengan kebutuhan tempat kerja; ketidaksabaran; Keyakinan "tidak diterima".

Bereaksi dengan baik terhadap: Banyak akal, kemandirian, rasa tanggung jawab, perhatian terhadap detail, kemauan untuk mengambil tugas yang "tidak menarik", komunikasi yang baik.

Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) (lahir 1981 hingga 1996) termasuk dalam generasi yang sangat besar dan kuat menghadapi persaingan tetapi peluang yang lebih sedikit. Mereka sangat sosial dan berpikiran komunal, lebih suka bekerja dalam tim dan berhubungan dekat dengan semua orang di dalam dan di luar kantor. 

Mereka menginginkan tanggung jawab – sesegera mungkin - plus pendampingan intensif. Mereka berharap bisa menghabiskan karir mereka dengan terus menerus mencari pekerjaan baru dan bereksperimen dengan sumber pendapatan lain. 

Mereka tidak materialistis dan biasanya segera meninggalkan pekerjaannya bila sudah merasa tidak sreg dan terlibat, bahkan ketika tidak ada pekerjaan lain yang terlihat. Memberikan nilai tinggi untuk pengalaman aktif, inklusivitas, dan toleransi.

Gaya komunikasi: Digital sepenuhnya; lebih suka berinteraksi melalui SMS, pesan instan, dan media sosial, terutama Facebook; menarik berita dan informasi dari Internet; menggunakan email hanya jika diperlukan; tidak antusias dengan kontak telepon, rapat, dan konfrontasi.

Bereaksi buruk terhadap: Kurangnya rasa hormat; dorongan, penghargaan atau inklusi yang tidak memadai; tidak diberi alasan untuk tugas; tidak diakomodasi dalam preferensi gaya hidup; diharuskan bekerja dengan teknologi lama.

Bereaksi dengan baik terhadap: Pelatihan, peluang untuk belajar dan tumbuh, kesadaran akan tujuan, dihargai, penjelasan, pengalaman baru, komunikasi terus-menerus, kerja sama, peluang untuk bekerja dengan orang-orang kreatif cerdas lainnya, penghargaan cepat dan wawasan ke dalam gambaran besar.

Generasi Z (lahir 1997 hingga 2010) mungkin akan dikenal sebagai Generasi yang Tergelincir. Ini dikarenakan sebagian besar dari mereka, ekspektasi karir dan renacanya ke depannya berubah karena , pandemi virus Corona pada tahun 2020. Mereka adalah generasi yang paling beragam. Banyak diantara generasi ini yang teguh memegang prinsip progresif dan berpendidikan tinggi; menghindari risiko; pragmatis; nilai-nilai didorong terutama dalam hal kesempatan yang sama dan lingkungan. Rentang perhatiannya pendek.

Gaya komunikasi: Ini adalah "digital native sejati" pertama dan menggunakan ponsel cerdas mereka untuk semua informasi, hiburan, dan komunikasi, tetapi hindari panggilan telepon. Kumpulkan berita dari Twitter dan saluran online lainnya. Gunakan berbagai platform sosial dan suka media kreatif dan singkat seperti Snapchat dan Instagram. Preferensi kuat untuk video. Sangat dipengaruhi oleh rekan-rekan mereka.

Bereaksi buruk terhadap: Kurangnya kejujuran dan transparansi, diabaikan dalam pengambilan keputusan, tidak dihormati pendapatnya.

Bereaksi dengan baik terhadap: Waktu tatap muka dan umpan balik yang teratur, komunikasi singkat, penggunaan video, diperlakukan sebagai kontributor.

Sumber:

Canovar, Natalie. 2021. Business Writing For Dummies®, 3rd Edition. New Jersey:  John Wiley & Sons.

Selasa, 19 Januari 2021

STATPHOBIA

 


Pemerintah negara tiran paling takut sama statistik. Dulu, sebelum pemerintah Gorbachev, orang Rusia tidak pernah menggunakan statistik politik untuk menggambarkan kesengsaraan sejarah mereka. Mereka takut publik mengetahui realitas yang ditampilkan dengan angka-angka statistik. Mereka khawatir atau takut orang lebih mempercayai tampilan data statistik ketimbang narasi omongan.

Selama 1920-an hingga 1980-an, menurut Profesor Harvard, Gary King - ilmuwan di AS pertama yang mulai menggunakan statistik politik -- Uni Soviet memblokir akses pembelajaran dan data statistik yang diterbitkan lembaga-lembaga internasional. 

Alergi pemimpin-pemimpin Uni Sovyet terhadap statistik sunggu luar biasa namun mereka menikmatinya. Satu sisi rezim Uni Sovyet membenci statistik, tapi di sisi lain mereka sering menggunakan statistik sebagai alat propaganda. Pelpornya adalah Stalin. Pemimpin Uni Sovyet itu yang pertama menggunakan  statistik untuk propaganda mengelabui rakyatnya. 

Dia sering memalsukan angka statistik nasional. Misalnya, dia menutupi kematian sekitar sembilan juta orang akibat penindasan yang dilakukan rezimnya. Dia juga menyembunyikan tingkat bunuh diri serta penahanan yang jumlah sangat tinggi selama pemerintahannya. Lebih buruk lagi, rezim Stalin sangat tidak menyukai dan melarang orang-orang dan setiap usaha seseorang mengumpulkan statistik.  Pemerintah Tirai Besi itu mencegah ilmuwan politik mereka mengakses sumber daya statistik yang keluarkan pihak asing, terutama yang menyangkut data tentang negerinya.

Di akhir tahun 80-an, liberalisasi Gorbachev membawa angn segar bagi statistik. Untuk pertama kalinya, Uni Sovyet di bawah kepemimpinan Gorbachev lebih sering menggunakan statistik politik. Namun, periode di mana statistik dapat dipopulerkan tidak berjalan lama. 11 tahun kemudian, Vladimir Putin menjadi Presiden Rusia dan dia mengecam keras penggunaan statistik, terutama di media massa.

Nuansa itu diciptakan untuk mendukung propaganda. Masyarakat dibuat tidak melek statistik. Publik berusaha dijauhkan dan dibuat tidak peduli dengan metode analisis statistik. Disini Putin mendapat banyak mendapat manfaat. Antara lain, ketika Rusia menganeksasi Krimea. Untuk membela keputusannya, Putin tak perlu menjelaskan dengan data statistik soal alasan penyerbuan ke Krimea itu.  Argumen pembelaannya, cukup dia sampaikan dengan menggunakan cerita sejarah dan sastra, rakyat Rusia pun memakluminya dan diam.

Para jurnalis Rusia juga terjebak dalam nuansa itu. Saat memaparkan peristiwa aneksasi itu, wartawan hanya menyinggung soal moralitas, kebanggaan bangsa, dan sejarah. Misalnya, ada seorang komentator yang berkata, “Kami layak mendapatkan Krimea; Kami adalah sebuah kerajaan dan secara historis kami berhak memilikinya," atau "Anda lihat, Tolstoy, Pushkin, Mayakovsky, menulis tentang Krimea sebagai wilayah Rusia. "

Padahal, beberapa statistik relevan yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk mempengaruhi keputusan politik, misalnya apakah aneksasi mempunyai motif ekonomi atau ambisi geografis. Sebab bagaimanapun saat itu ekonomi Rusia sedag kendor.  Pada 2014, PDB per kapita Rusia turun dari 14.125 menjadi 9.325, sementara tingkat kemiskinan meningkat dari 11,2 persen menjadi 13,3 persen hanya dalam satu tahun. Data statistik ini sepenuhnya diabaikan.

 


Sabtu, 16 Januari 2021

TUKANG

 

  Ilustrasi: https://www.percetakanmurahsenyum.com/2020/09/lebih-dekat-dengan-alat-pembuat-stempel.html  

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tukang merujuk pada orang yang mempunyai kepandaian dalam suatu pekerjaan tangan (dengan alat atau bahan yang tertentu): -- batu, -- besi, -- kayu; Orang yang pekerjaannya membuat (menjual, memperbaiki, dan sebagainya) sesuatu yang tentu.

Yang membedakan dengan yang lain adalah kekhasannya; indiviualistis, kemandirian, dan inedependen. Toh seperti kata lain pada umumnya, makna dan penggunaan kata tukang bergeser.   

Dulu, pekerjaan bapak saya adalah tukang, tukang stempel. Bukan orang yang pekerjaannya mencap surat resmi, surat berharga atau dokumen lainnya, melainkan membuat stempel. Bahannya dari karet alami. Saya sering diajak bapak membeli karet (bentuk lembaran) dari pabriknya yang ada di Malang. Sementara gagang kayunya dibeli dari pengrajin dari Blitar. Saya lupa persinya. Yang saya ingat daerah di dekat makam Bung Karno.

Alamat persisnya saya lupa.  Yang saya tahu, dari awal ya belinya disitu tak pernah berpindah. “Karetnya bagus. Jarang ledeh dan stempelnya tahan lama,” kata bapak saya. Pernah dicoba membeli karet dari tempat lainnya, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Stempel cepat leleh dan pada titik tertentu, saat produksi stempel juga sering _ledeh_.

Saya tidak tahu bagaimana sebutan tukang stempel ke bapak saya itu muncul. Tahunya, julukan itu sangat popular melekat di Bapak. Jika ada orang luar Gresik yang menanyakan dimana rumah Basjir (itu nama bapak saya), orang akan bertanya, Basjir siapa? Tukang stempel? Orang akan menunjukkan alamat rumahnya.

Dalam buku _Penjaja dan Raja: Perubahan Sosial dan Modernisasi Ekonomi di Dua Kota Indonesia_, antropolog Amerika – Clifford Geertz, menyebut tukang untuk pengrajin tangan. Istilah “tukang” digunakan untuk menyebut setiap orang yang mempunyai ketrampilan kerja tertentu, apapun itu. Jadi istilah itu bisa merujuk pada tukang jahit, tukang potong (bisa potong rambut, tukang daging, atau yng sejenisnya), tukang masak, dan sebagainya.

Kekhasan tukang adalah mereka bekerja secara independen dan swasembada. Tukang kayu dan tukang jahit merupakan contoh yang menunjukkan cara kerja tukang yang individualistis itu Tukang stempel seperti bapak saya menggunakan rumah sebagai bengkel kerjanya.       

Pekerjaan membuat stempel secara manual membutuhkan ketrampilan. Pebuatannya dimulai dari membuat cetakan berupa susunan huruf dan kata sesuai dengan yang diinginkan pemesan. Huruf-huruf (font dan tipenya beragam) berupa batangan kecil dan ukurannya mulai dari batang korek api hingga seukuran jari kelingking sesuai dengan font dan tipenya. Batangan itu terbuat dari timah hitam.

Batangan-batangan disusun dan diikat dengan karet bekas ban dalam roda sepeda yang dipotong kecil-kecil yang kemudian atasnya disemen dengan gips sehingga kuat dan tidak berantakan. Susunan huruf itu kemudian dicetakkan pada hamparan gips (kapur) yang dipadatkan berukuran 15x30 sentimeter. Jadi bila ukuran stempel sekitar 7x 5 sentimeter, dalam hamparan cetakan itu bisa dibuat 5-6 stempel. Pemadatan dilakukan dengan pemasanan.

Setelah padat, di atas gips tadi dihamparkan karet sesuai ukuran cetakan gips. Karet harus menutupi semua permukaan gips namun tidak boleh dalam satu potongan, ada beberapa yang harus dipotong terutama pada permukaan yang ada cetakan bakal stempel itu. Setelah penuh baru dipres dengan alat dan dipanaskan dengan menempatkan kompor di bawahnya. Disitulah saya paham kenapa bapak saya disebut tukang.     

Semua tugas itu dengan mudah dikerjakan sendiri. Kadang-kadang memang ada bantuan. Kalau bapak saya yang membantu adalah anak-anaknya yang biasanya diangggap magang. Siapa tahu bisa meneruskan usahanya. Namun, kini tak ada yang melanjutkan usaha kerajinan stempel itu.

Situasinya memang berubah. Anak-anaknya tetap menjadi tukang, tapi bukan tukang stempel. Begitu pula dengan istilah tukang. Istilah tukang dapat dipergunakan untuk menyebut ketrampilan yang hampir tak terbatas.

Ironisnya, orang Jawa – seperti kata Geertz – menyebut politikus yang korup sebagai “tukang kursi” (kursi parlemen); Tukang omong kosong untuk pembicara yang suka ngomong bertele-tele; atau tukang main perempuan untuk seorang Don Juan.    

Pergeseran tidak berhenti sampai disitu. Bila tukang selama itu disebut independen, swasembada dan individualistis, sekarang berubah menjadi betergantungan, dan kolektif. Bahkan -- ketika sering wawancara dengan Ridwan Saidi -- tokoh Betawi sering itu menyebut kata "ditukangi" untuk orang yang dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan tertentu.