Kamis, 30 Maret 2023

KEPEMIMPINAN PUBLIC RELATIONS DAN PROBLEMATIKANYA


Kepemimpinan industri public relations (PR) era digital memiliki banyak tantangan. Para profesional public relations saat ini bekerja di lingkungan yang semakin sulit dan kompleks. Tekanan dari luar organisasi meliputi akuntabilitas baru, pemangku kepentingan yang semakin berkuasa, sikap skeptis publik yang semakin meningkat, dan lanskap komunikasi yang baru.

Secara internal, ada tuntutan yang semakin meningkat untuk menunjukkan kontribusi strategis, sekaligus membutuhkan kemampuan untuk melatih dan memberikan saran kepada manajer senior yang terpapar tekanan lingkungan ini. Ini sekaligus mencerminkan adanya problematika yang dihadapi kepemimpinan publis relations saat ini.

Beberapa problematika kepemimpinan public relations dipaparkan Anne Gregory dan Paul E. Willis di buku Strategic Public Relations Leadership (Routledge, 2023).  Salah satu masalah kepemimpinan dalam PR adalah terkait dengan pengukuran hasil yang akurat.

Dalam industri PR, seringkali sulit untuk mengukur dampak dari kampanye PR. Banyak perusahaan hanya memperhatikan output dan bukan outcome, sehingga hasil yang diukur tidak selalu sesuai dengan tujuan awal kampanye PR. Ini menimbulkan masalah ketika para pemimpin PR harus mempertanggungjawabkan anggaran yang telah digunakan kepada manajemen atas dampak kampanye yang dilakukan.

Selain itu, para pemimpin PR juga dihadapkan pada tantangan untuk dapat menavigasi perubahan lingkungan bisnis yang terus berubah. Di era digital saat ini, para pemimpin PR harus mampu memahami dan mengikuti tren media sosial dan teknologi yang terus berkembang, serta dapat menyesuaikan strategi PR dengan berbagai perubahan tersebut.

Problematik kepemimpinan PR juga berkaitan dengan tuntutan untuk memiliki keterampilan yang lebih luas, termasuk kemampuan untuk memahami data dan teknologi. Para pemimpin PR perlu mampu menggunakan teknologi dan alat analitik untuk mengumpulkan data dan menganalisisnya, sehingga dapat memahami kebutuhan dan preferensi konsumen secara lebih baik. Selain itu, kemampuan untuk memahami angka dan data juga sangat penting untuk mengukur keberhasilan kampanye PR dan menentukan arah strategi PR di masa depan.

Kepemimpinan PR juga harus mampu mengembangkan dan mempertahankan budaya perusahaan yang positif dan inklusif. Hal ini dapat membantu meningkatkan kepuasan karyawan dan memperkuat citra merek perusahaan. Para pemimpin PR harus dapat menciptakan budaya yang mendorong kreativitas dan inovasi, serta membangun hubungan yang baik antara karyawan, klien, dan mitra bisnis.

Terakhir, kepemimpinan PR juga harus dapat mengelola krisis dengan baik. Dalam industri PR, krisis dapat terjadi sewaktu-waktu dan dapat berdampak negatif pada citra merek dan reputasi perusahaan. Oleh karena itu, para pemimpin PR harus mampu mengatasi krisis dengan cepat dan tepat, serta mampu membangun kembali citra positif perusahaan dengan cara yang efektif.

Beberapa saran dan solusi yang ditawarkan Willis dan Gregory untuk mengatasi problematik kepemimpinan dalam industri public relations. Pertama, penting bagi pemimpin public relations untuk memahami dan mengevaluasi peran mereka dalam organisasi secara menyeluruh.

Seorang pemimpin public relations harus memahami dan mengambil tanggung jawab dalam memahami tujuan, nilai, dan misi organisasi serta memastikan bahwa public relations berkontribusi secara efektif dalam mencapai tujuan tersebut. Hal ini juga termasuk membangun kemitraan yang strategis dengan pemimpin dan anggota tim lainnya.

Kedua, penting bagi pemimpin public relations untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan yang memadai. Willis dan Gregory menekankan bahwa seorang pemimpin public relations harus memahami tugas dan tanggung jawabnya, termasuk dalam mengembangkan strategi, mengelola tim, mengkomunikasikan informasi dengan jelas, dan memastikan transparansi dan akuntabilitas.

Ketiga, pemimpin public relations juga harus memiliki pemahaman yang baik tentang teknologi dan media sosial serta bagaimana mengelola dampaknya pada organisasi dan masyarakat. Pemimpin public relations harus mampu menggunakan teknologi dan media sosial secara efektif dalam mendukung tujuan organisasi serta mengatasi tantangan dan risiko yang terkait dengan penggunaannya.

Buku ini memberikan wawasan yang berguna tentang kontribusi strategis public relations dan kepemimpinan public relations. Dalam menjelaskan topik yang kompleks, para penulis menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan contoh kasus yang relevan.

Buku ini dapat menjadi sumber bacaan yang berguna bagi praktisi public relations yang ingin meningkatkan kemampuan strategis mereka atau para eksekutif senior yang ingin memahami kontribusi public relations dalam mencapai tujuan organisasi.(Edhy Aruman)

Rujukan:

Gregory, A., & Willis, P. E. (2023). Strategic Public Relations Leadership, Second Edition. Routledge.

Minggu, 19 Maret 2023

ANTARA KOMUNIKASI PERUBAHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN



Komunikasi perubahan dan komunikasi pembangunan memiliki beberapa kesamaan. Keduanya berfokus pada menghasilkan perubahan positif dalam suatu lingkungan atau masyarakat, melibatkan individu dan kelompok secara aktif dalam proses perubahan, dan memerlukan partisipasi masyarakat dalam merancang dan melaksanakan program atau kebijakan. Perbedaannya?

Tahun 2019, Christele J. Amoyan dan Pamela A. Custodio menulis artikel yang menyoroti masalah aktivitas pertambangan di Filipina dan dampaknya terhadap masyarakat terpinggirkan di wilayah tambang. Menurut mereka, kurangnya partisipasi dan pengaruh masyarakat dalam proses pengambilan keputusan berdampak pada penindasan dan ketidakadilan sosial.

Christele J. Amoyan saat ini merupakan dosen di Departemen Komunikasi di Pamantasan ng Lungsod ng Maynila, sedangkan Pamela A. Custodio adalah seorang peneliti dan konsultan komunikasi pembangunan.

Dalam konteks pemberdayaan masyarakat ini, Christele J. Amoyan dan Pamela A. Custodio mengajukan tesis tentang pentingnya komunikasi pembangunan (DevCom) dalam memberdayakan masyarakat yang menghadapi masalah sosial. Model komunikasinya adalah dengan menciptakan ruang dialogis untuk mengangkat suara orang-orang yang terpinggirkan.

DevCom, menurut mereka, dapat menciptakan ruang dialogis di mana suara yang terpinggirkan dapat didengar, dan perspektif mereka dapat dimasukkan dalam proses pengambilan keputusan. Disini pentingnya melihat dinamika kekuasaan yang terlibat dalam kegiatan pertambangan, dan perlunya DevCom untuk menjadikan masyarakat berpartisipati dan inklusif.

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

Meminjam pendapat Nora C. Quebral (2012), Amoyan dan Custodio mendefinisikan komunikasi pembangunan (DevCom) sebagai teori komunikasi yang berkembang dari disiplin akademik di Asia Tenggara. Tujuan akhir DevCom adalah memberdayakan individu dan komunitas untuk mewujudkan potensi penuh mereka. Sejak kelahirannya pada tahun 1950-an, DevCom awalnya bertindak sebagai komunikator agenda pedesaan dan pertanian. Namun, teori ini terus berkembang dan mulai terlibat dalam wacana sosial-ekonomi, serta berkembang seiring dengan era baru teknologi informasi dan komunikasi.

Ketika mengangkat masalah terpinggirkannya penambang di Filipina, Amoyan dan Custodio menyoroti perlunya diskusi yang bukan hanya membahas DevCom dalam konteks teoritis, melainkan pada tindakan praktis yang dapat meningkatkan komunitas dan menciptakan perubahan sosial. Secara keseluruhan, penulis membuat argumen yang meyakinkan tentang potensi Nora C. Quebral untuk menciptakan praktik pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Berdialog dalam konteks komunikasi pembangunan (DevCom) sangat penting untuk memberdayakan individu dan komunitas yang terpinggirkan, termasuk dalam konteks aktivitas pertambangan. Berdialog dapat menciptakan ruang dialogis di mana suara-suara yang terpinggirkan dapat didengar dan perspektif mereka dapat dimasukkan dalam proses pengambilan keputusan.

Dalam konteks pertambangan, berdialog penting untuk mengatasi dinamika kekuasaan yang terlibat dalam aktivitas pertambangan, dan DevCom harus menjadi partisipatif dan inklusif dalam memasukkan suara dan perspektif yang beragam. Lebih jauh, berdialog tidak hanya berbicara mengenai teori, tetapi juga harus fokus pada tindakan konkret yang dapat meningkatkan masyarakat dan menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.

Gagasan tersebut memiliki makna bahwa aspek yang lebih kritis dari DevCom tidaklah murni teoretis. Sebagai komunikator untuk perubahan sosial, DevCom berkonsentrasi pada penerapan teori ke dalam tindakan yang sungguh-sungguh yang akan mengangkat orang dari segala bentuk kemiskinan.

Konsep komunikasi pembangunan terus berkembang dan mulai terlibat dalam wacana sosial-ekonomi, serta berkembang dengan era baru teknologi informasi dan komunikasi. Dalam prakteknya, DevCom menggunakan pendekatan pengembangan yang berbeda dan menempatkan orang di pusat transformasi sosial dengan kapasitas manusia kolektif mereka, dari perspektif pembangunan pedesaan terpadu.

Pertanyaan penting yang mereka ajukan adalah bagaimana DevCom dapat membantu mengatasi situasi konflik sosial di negara-negara berkembang, dan memberi suara kepada mayoritas populasi yang terpinggirkan dalam dialog, terutama ketika perhatian terpusat di kabupaten dan kota perkotaan.

Namun, sebelum itu, Amoyan dan Custodio menyarankan untuk mengkritik pertanyaan Quebral tentang "Bagaimana memberi suara kepada yang tidak bersuara?" Mengutip Freire (1985), ketiadaan suara bukan berarti ketiadaan tanggapan. Sebaliknya, proposisi ini menyampaikan pesan bahwa ketiadaan suara sebagai bentuk dari kurangnya konten kritis dari mereka yang menderita ketidakadilan (Freire, 1985).

Dalam pandangan Freire, "kurangnya konten kritis" merujuk pada ketidakmampuan seseorang untuk secara kritis menganalisis situasi sosial dan politik di sekitarnya, serta kesadaran akan hak-hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara yang aktif.

Dalam konteks Filipina seperti yan ditunjukkan Amoyan dan Custodio (2019), individu atau kelompok yang menderita ketidakadilan kurang memiliki pengetahuan atau kesadaran tentang hak-hak mereka dan kurang mampu mengartikulasikan perspektif mereka secara kritis. Mereka kurang berpartisipasi dalam proses dialog dan pengambilan keputusan yang mempengaruhi hidup mereka. Disinilah perlunya memperkuat suara mereka agar dapat terlibat secara aktif dalam perubahan sosial dan pembangunan yang lebih adil.

DIALOG

Dalam konteks dialog sebagai model komunikasi, ada persamaan dan sekaligus perbedaan antara komunikasi perubahan dan komunikasi pembangun. Persamaan pandangan antara komunikasi pembangunan dan komunikasi perubahan, keduanya mendorong partisipasi aktif individu atau kelompok yang terlibat dalam perubahan.

Dalam konteks pembangunan maupun perubahan, dialog dianggap penting untuk menciptakan ruang bagi individu atau kelompok yang terpinggirkan untuk menyuarakan perspektif mereka. Keduanya juga mendorong keterlibatan partisipatif dan inklusif dari seluruh pihak yang terlibat dalam perubahan untuk mencapai hasil yang lebih baik dan lebih berkelanjutan.

Persamaan lainnya antara komunikasi pembangunan dan komunikasi perubahan adalah pada fokus keduanya dalam membawa perubahan pada individu, kelompok, dan masyarakat secara keseluruhan. Kedua disiplin ini juga memperhatikan aspek partisipatif dan inklusif dalam proses perubahan.

Namun, perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada tujuan akhirnya. Tujuan akhir dari komunikasi pembangunan adalah memberdayakan individu dan komunitas untuk mencapai potensi penuh mereka dan membangun masyarakat yang lebih baik dan berkelanjutan. Sementara tujuan akhir dari komunikasi perubahan adalah mempengaruhi perubahan perilaku, sikap, dan pandangan individu atau kelompok tertentu dalam konteks organisasi atau perusahaan.

Selain itu, dalam praktiknya, komunikasi pembangunan lebih sering digunakan dalam konteks pembangunan sosial, ekonomi, dan politik, sementara komunikasi perubahan lebih sering digunakan dalam konteks perubahan organisasi atau perusahaan. Komunikasi perubahan cenderung lebih terfokus pada peningkatan efisiensi dan produktivitas organisasi, sedangkan komunikasi pembangunan cenderung lebih terfokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Dalam hal strategi, komunikasi pembangunan cenderung lebih mengutamakan strategi partisipatif dan pemberdayaan masyarakat, sementara komunikasi perubahan cenderung lebih mengutamakan strategi top-down dan menggunakan otoritas untuk mempengaruhi perubahan.

REFERENSI

Amoyan, C. J., & Custodio, P. A. (2019). Development Communication and the Dialogic Space: Finding the Voices Under the Mines. In M. J. Dutta & D. B. Zapata (Eds.), Communicating for Social Change: Meaning, Power, and Resistance (pp. 71-87). Palgrave Macmillan.

Freire, P. (1985). The politics of education: Culture, power, and liberation. South Hadley, MA.: Bergin & Garvey.

Librero, F. (2005). Status and trends in development communication research in the Philippines. Media Asia, 32(1), 35–38

Quebral, N.  C. (2012). Development communication primer. Penang, MY: Southbound Sdn. Bhd.

 

 

Kamis, 16 Maret 2023

KOMUNIKASI PERUBAHAN: ANTARA DRAMATURGI DAN STORYTELLING


Tahun 2017, aktris Hollywood, Alyssa Milano, mengajukan tagar #MeToo di Twitter untuk memberikan dukungan kepada korban pelecehan seksual. Gerakan ini kemudian menyebar ke seluruh dunia dan melibatkan jutaan orang yang membagikan pengalaman mereka terkait pelecehan seksual melalui media sosial dan kampanye publik.

Milano adalah seorang aktris, produser, dan aktivis asal Amerika Serikat. Ia dikenal atas perannya dalam sejumlah film dan serial televisi, seperti "Who's the Boss?", "Charmed", dan "Melrose Place". Sebagai seorang aktris Hollywood yang dikenal luas, Milano memiliki posisi sosial yang relatif tinggi dalam masyarakat dan industri hiburan. Sebagai seorang publik figur, ia memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap penggemar dan pengikutnya di media sosial.

Beberapa tokoh terkenal seperti Ashley Judd, dan Taylor Swift telah menjadi bagian dari gerakan ini dengan menceritakan pengalaman mereka terkait pelecehan seksual yang mereka alami. Ashley Judd misalnya, menceritakan pengalamannya terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh produser film Harvey Weinstein. Sementara Taylor Swift menceritakan pengalamannya terkait pelecehan seksual yang dialami saat berpose untuk foto bersama seorang DJ.

Selain mereka, beerapa artis juga pernah mengalami pelecehan dan mereka berani berbagi pengalaman mereka. Rose McGowan menceritakan pengalamannya terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh Harvey Weinstein dan berperan penting dalam mengangkat isu ini ke permukaan. Ada lagi, Asia Argento -aktris Italia - yang menceritakan pengalamannya terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh Harvey Weinstein, dan Kesha (penyanyi) yang menceritakan pengalamannya terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh produser musik Dr. Luke.

Rose McGowan adalah seorang aktris, penulis, dan aktivis asal Amerika Serikat. Ia terkenal dalam perannya dalam beberapa film seperti "Scream", "Jawbreaker", dan "Grindhouse". Ia juga dikenal sebagai salah satu korban pelecehan seksual oleh produser film Harvey Weinstein.

Setelah mengungkapkan pengalamannya, ia menjadi salah satu penggiat utama dalam gerakan #MeToo dan berperan penting dalam mengangkat isu pelecehan seksual di industri hiburan dan mendorong perubahan dalam budaya kerja yang lebih aman dan adil. McGowan juga merupakan penulis buku otobiografi yang berjudul "Brave" yang menceritakan pengalamannya dalam industri film dan perjuangannya sebagai aktivis.

Para korban pelecehan seksual ini secara ternag-terangan menunjukkan dampak yang telah mereka rasakan. Ini memberikan peluang bagi mereka untuk mendapatkan dukungan dan simpati dari masyarakat, dan sekaligus memperkuat gerakan #MeToo sebagai sebuah gerakan sosial. Para korban membagikan kisah-kisah mereka melalui media sosial dan berbagai media lainnya, yang membantu membangun kesadaran tentang masalah ini dan mendorong tindakan.

Fenomena ini memberikan petunjuk bahwa -- dalam gerakan #MeToo -- storytelling menjadi alat yang sangat penting untuk memperkuat sebuah Gerakan. Banyaknya korban pelecehan seksual yang berani berbicara dan membagikan pengalaman mereka dengan cara yang sangat emosional dan mendalam. Ini  memungkinkan orang lain memahami betapa pentingnya isu tersebut.

Storytelling dalam gerakan #MeToo juga membantu memperjuangkan perubahan dalam hukum, kebijakan organisasi, dan budaya seksual yang lebih aman dan adil. Dengan memperlihatkan dampak nyata dari pelecehan seksual dan kebutuhan untuk perubahan, storytelling dalam gerakan #MeToo membantu mengubah pandangan masyarakat tentang isu ini dan memperjuangkan tindakan nyata untuk memerangi pelecehan seksual.

Gerakan #MeToo adalah contoh yang sangat kuat dari bagaimana gerakan pengalaman dan storytelling dapat digunakan untuk menciptakan perubahan sosial dan membantu orang untuk terlibat secara aktif dalam isu-isu penting yang mempengaruhi kehidupan mereka. Storytelling dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam menciptakan perubahan sosial dan membantu orang untuk terlibat secara aktif dalam isu-isu penting yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Tahun 2017, Cojuharenco dan Patient menulis artikel Journal of Management. Artikel ini mmbahas tentang bagaimana storytelling dapat mempengaruhi orang lain, baik secara individual maupun kelompok. Menurut mereka, ada empat empat elemen penting dalam storytelling, yakni konten, kredibilitas, emosi, dan koneksi.

Konten mengacu pada apa yang diceritakan dan bagaimana ceritanya disusun. Kredibilitas mengacu pada kepercayaan orang terhadap narator atau sumber cerita. Emosi terkait dengan bagaimana cerita dapat memengaruhi emosi orang dan koneksi terkait dengan bagaimana cerita dapat membentuk hubungan dan koneksi antara narator dan pendengar.

Dalam pandangan Tufte (2017), Gerakan #MeToo menggunakan elemen-elemen dramaturgi, seperti cerita (naratif), karakter, dan adegan, untuk menciptakan pesan dan aksi yang efektif dalam mencapai tujuan perubahan sosial. Konsep ini mengacu pada cara komunikasi dan tindakan yang dapat diorganisir dan dipersiapkan untuk menciptakan perubahan sosial yang diinginkan.

Tahun 1959, Irving Goffmann menulis buku "The Presentation of Self in Everyday Life" yang membahas tentang konsep dramaturgi dalam kehidupan sehari-hari. Goffman menganggap kehidupan sosial sebagai panggung di mana setiap individu memainkan peran yang berbeda-beda. Seperti seorang aktor, setiap orang mempersiapkan diri dan mempresentasikan dirinya secara berbeda tergantung pada situasi dan orang yang ada di sekitarnya.

Buku ini membahas bagaimana individu memanipulasi citra dirinya dan menciptakan "kesan" tertentu dalam interaksi sosial mereka. Goffman menjelaskan bahwa kesan yang dihasilkan dari interaksi sosial adalah hasil dari upaya individu untuk mempresentasikan diri sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang lain dan konteks sosial yang ada.

Goffman juga membahas tentang peran kelas sosial dalam mempengaruhi cara individu mempresentasikan diri. Dia menunjukkan bahwa individu dari kelas sosial yang berbeda dapat memainkan peran yang berbeda dalam interaksi sosial, dan citra diri mereka akan dipengaruhi oleh identitas sosial mereka.

Dalam konteks Gerakan #MeToo, Tufte (2017) membandingkan gerakan sosial dengan drama, di mana ada elemen-elemen penting yang harus dipertimbangkan agar aksi dan pesan dapat disampaikan secara efektif. Seperti dalam drama, gerakan sosial harus mempertimbangkan beberapa elemen penting, termasuk cerita (naratif), karakter, dan adegan, untuk menciptakan sebuah "dramaturgy" atau tatacara drama yang efektif untuk mencapai tujuan gerakan sosial.

Cerita (naratif) dalam dramaturgy of social change merujuk pada cara pesan atau informasi disampaikan dalam gerakan sosial. Pesan tersebut harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi pandangan masyarakat dan memicu tindakan yang diinginkan.

Karakter dalam dramaturgy of social change merujuk pada siapa yang terlibat dalam gerakan sosial dan bagaimana karakter tersebut dipersepsikan oleh masyarakat. Karakter yang kuat dan konsisten dapat membantu membangun dukungan dan mengubah pandangan masyarakat terhadap isu sosial.

Adegan dalam dramaturgy of social change merujuk pada lingkungan dan konteks di mana gerakan sosial berlangsung. Lingkungan ini dapat mempengaruhi cara pesan dan tindakan diinterpretasikan oleh masyarakat.

Dengan memperhatikan elemen-elemen ini, dramaturgy of social change dapat membantu gerakan sosial untuk menciptakan pesan dan aksi yang efektif untuk mencapai tujuan perubahan sosial yang diinginkan.

REFERENSI

Cojuharenco, I., & Patient, D. (2017). Storytelling and social influence: A literature review, theoretical framework, and agenda for future research. Journal of Management, 43(1), 166-195.

Goffman, I. (1959). The presentation of self in everyday life. Anchor Books.

Tufte, T. (2017). Dramaturgy of social change: The #MeToo movement. In T. Tacchi & T. Tufte (Eds.),    Communicating for change: Concepts to think with (pp. 67-80). ANU Press.


Jumat, 10 Maret 2023

MENGAPA PERUBAHAN ITU PERLU?


Ruangguru adalah sebuah platform pembelajaran yang menawarkan video tutorial interaktif yang didasarkan pada kurikulum sekolah, serta dilengkapi dengan animasi yang dapat diakses melalui aplikasi pada perangkat ponsel dan komputer. Perusahaan ini didirikan pada April 2014 oleh Belva Devara dan Iman Usman. 

Pada tahun 2021, Ruangguru berhasil meraih peringkat 25 sebagai perusahaan paling inovatif di seluruh dunia dan menempati peringkat kedua di kategori pendidikan menurut Fast Company. 

Selama pandemi, Ruangguru telah menjadi startup yang cukup terkenal sebagai platform edtech dengan layanan terlengkap. Layanannya terbukti efektif untuk pembelajaran daring, dan pada tahun 2020, mereka berhasil mencatatkan 22 juta pengguna. Menurut perusahaan, pada tahun 2021, mereka mencapai Net Promoter Score (NPS) tertinggi di semua kategori produk, dan pendapatan mereka meningkat dengan lipat ganda, sehingga menghasilkan laba pertama mereka.

Anak perusahaan Ruangguru, yaitu Skill Academy, juga menjadi platform yang paling sukses dalam memfasilitasi program peningkatan kompetensi yang disponsori oleh pemerintah melalui Kartu Pra-Kerja. Ruangguru juga melakukan melakukan rekrutmen karyawan besar-besaran. Tiba-tiba Ruangguru melakukan layoff terhadap ratusan karyawannya.

Pekan ini (10/03/23), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 600 karyawan. Ini merupakan PHK kedua setelah November 2022 lalu GOTO mem-PHK 1.300 karyawannya. Manajemen GoTo menginformasikan PHK Maret 2023 merupakan 5,6 persen dari total karyawan GoTo. Per 30 September 2022, jumlah karyawan GoTo mencapai 10.541 orang.

Perubahan organisasi, seperti perampingan, restrukturisasi, merger dan akuisisi, telah menjadi kejadian sehari-hari sehingga merupakan tantangan serius bagi organisasi (Kitchen and Daly, 2002). Selama periode 2020 misalnya terjadi gelombang perubahan organisasi yang sangat besar karena adanya pandemi COVID-19. Pandemi memaksa organisasi untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan dalam lingkungan bisnis.

Dalam periode 2020, banyak perusahaan yang melakukan perubahan seperti perampingan dan restrukturisasi untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, ada pula perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi dilakukan untuk memperkuat posisi pasar dan mengurangi persaingan di industri tertentu.

Perusahaan yang melakukan perampingan menariknya adalah perusahaan tersebut sebelumnya digadang-gadang sebagai perusahaan pengganggu, distruptor. Mereka adalah perusahaan yang mengganggu industri atau pasar yang sudah mapan dengan cara menghadirkan inovasi baru atau model bisnis yang berbeda. Perusahaan disruptor seringkali menggunakan teknologi dan pengalaman pengguna yang lebih baik untuk memenangkan pasar.

Uber misalnya, pada tahun 2020, mengumumkan rencananya melakukan perampingan besar-besaran dan memecat sekitar 3.700 karyawan di seluruh dunia. Perubahan organisasi ini dilakukan sebagai respons terhadap pandemi Covid-19 yang mempengaruhi bisnis dan ekonomi secara global. Pandemi memaksa perusahaan untuk melakukan penyesuaian dalam rangka mempertahankan keberlangsungan bisnis. Perubahan ini juga berdampak pada karyawan perusahaan yang terkena pemutusan hubungan kerja atau perubahan kondisi kerja mereka.

Pada awal pandemi, Airbnb mengalami penurunan permintaan yang signifikan dan harus melakukan pemotongan biaya besar-besaran, termasuk pemotongan sekitar 1.900 karyawan atau sekitar 25% dari total karyawan perusahaan. Demikian pula Boeing. Pada tahun 2020, Boeing mengumumkan rencananya melakukan perampingan dan memberhentikan sekitar 16.000 karyawan di seluruh dunia karena pandemi Covid-19 yang mempengaruhi permintaan untuk pesawat terbang.

Walt Disney Company -- terkenal dengan produksi film animasi, film live-action, program televisi, park hiburan, dan produk konsumen seperti mainan dan merchandise bertema Disney -- pada tahun 2020 mengumumkan melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan fokus pada bisnis streaming. Hal ini menyebabkan pemotongan sekitar 28.000 karyawan di seluruh dunia.

Di sisi lain, untuk memperkuat posisinya di industri game, pada tahun 2020 Microsoft melakukan akuisisi terhadap perusahaan game video Bethesda Softworks dengan nilai sekitar $7,5 miliar. Akuisisi ini memungkinkan Microsoft memperluas portofolio game eksklusif di platform Xbox. Microsoft yang memiliki layanan game berlangganan populer, Xbox Game Pass, dapat meningkatkan nilai layanan dengan menambahkan game-game populer dari Bethesda ke dalamnya.

Namun, perubahan organisasi juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi karyawan dan organisasi itu sendiri. Karyawan mungkin mengalami ketidakpastian dan kekhawatiran tentang keamanan pekerjaan mereka, sedangkan organisasi dapat menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan budaya dan sistem yang berbeda dari organisasi yang digabungkan.

Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk mempersiapkan perubahan organisasi secara hati-hati dan memperhatikan dampaknya terhadap karyawan dan organisasi secara keseluruhan. Penting juga bagi organisasi untuk memastikan bahwa perubahan organisasi dilakukan dengan transparan dan adil, serta memberikan dukungan dan sumber daya yang cukup untuk karyawan selama dan setelah periode perubahan.

Mengelola proses perubahan dengan sukses sangat penting untuk kelangsungan hidup organisasi. Faktor penting untuk perubahan yang sukses telah terbukti sikap positif dan dukungan di antara karyawan (Erwin and Garman, 2009; Oreg et al., 2011). Alasan kegagalan, di sisi lain, bermacam-macam, mulai dari ketiadakan dukungan dari manajemen dan pimpinan, ketiadaan atau minimnya keterlibatan dari karyawan, kurangnya komunikasi yang jelas, kurangnya sumber daya, ketidakcocokan budaya organisasi, hingga resistensi terhadap perubahan.

Faktor-faktor tadi, beberapa diantaranya saling terkait. Mengkomunikasikan informasi terntang perubahan yang tidak memadai dan tidak lengkap, misalnya, dapat menyebabkan perlawanan di antara karyawan, yang menghambat implementasi perubahan dan meningkatkan biayanya (Christensen, 2014). Ini karena komunikasi yang buruk atau tidak jelas bisa menyebabkan kesalahpahaman dan ketidakpastian, yang bisa menghambat keberhasilan perubahan

Rabu, 08 Maret 2023

KOMUNIKASI PERUBAHAN: PENTINGNYA KREDIBILITAS KOMUNIKATOR


Pada tahun 2003, pemerintah Nigeria memulai program vaksinasi polio yang tidak berhasil karena masih ada segmen masyarakat yang belum divaksinasi, kekurangan stok vaksin dan sebagainya. Penyebaran virus polio semakin meluas di Nigeria dan menyebar ke negara-negara tetangga.

Salah satu faktor penyebab kegagalan program vaksinasi polio di Nigeria pada tahun 2003-2004 adalah kurangnya komunikasi efektif antara pemerintah dan masyarakat. Banyak masyarakat di Nigeria yang tidak percaya bahwa vaksin polio aman dan dianggap sebagai bagian dari konspirasi pemerintah dan organisasi internasional. 

Penyebaran polio di Nigeria juga disebabkan oleh adanya kelompok militan yang menguasai wilayah tertentu dan tidak memberikan akses bagi petugas kesehatan untuk melakukan vaksinasi.

Pemerintah Nigeria kemudian memperbaiki komunikasi dengan masyarakat, termasuk dengan melibatkan pemimpin-pemimpin agama dan masyarakat dalam kampanye vaksinasi. Dalam beberapa tahun terakhir, Nigeria berhasil mengurangi jumlah kasus polio secara signifikan melalui program vaksinasi yang lebih efektif dan komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat.

Tahun 2020, Jo Tacchi dan Thomas Tufte menerbitkan buku yang berjudul "Communicating for Change: Concepts to Think With." Buku ini membahas berbagai konsep penting yang terkait dengan komunikasi untuk perubahan sosial.

Jo Tacchi adalah seorang profesor di bidang komunikasi dan teknologi di RMIT University di Melbourne, Australia, sedangkan Thomas Tufte adalah seorang profesor di bidang desain komunikasi di Universitas Roskilde di Denmark. Keduanya memiliki latar belakang yang luas dalam penelitian dan praktik komunikasi untuk perubahan sosial dan pembangunan berkelanjutan.

Top of Form

Tachi dan Tufte mendefinisikan perubahan sosial sebagai suatu proses yang melibatkan berbagai tindakan dan praktik untuk menghasilkan transformasi sosial yang positif. Contoh transformasi sosial yang positif seperti muncul atau meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental, dan semakin terbukanya masyarakat untuk mencari bantuan dan dukungan dalam mengatasi masalah mental. Ini menghasilkan transformasi positif dalam cara pandang dan stigma terhadap masalah kesehatan mental misalnya.

Menurut Tacchi dan Tufte, proses perubahan dapat terjadi dalam berbagai skala, mulai dari individu – seperti gangguan kepribadian antisosial, borderline, dan narcissistic -- hingga masyarakat secara keseluruhan. Transformasi sosial di masyarakat secara keseluruhan dapat melibatkan perubahan-perubahan dalam tata nilai, kebiasaan, cara berpikir, cara hidup, dan pola interaksi sosial yang lebih luas.

Contohnya, perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat yang awalnya memiliki nilai konservatif yang kuat dalam hal ekonomi misalnya. Dalam konteks ini, perubahan sosial yang terjadi dapat melibatkan perubahan struktur sosial, seperti terjadinya pergeseran dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri atau dari masyarakat berbasis keluarga menjadi masyarakat yang lebih individualis. Perubahan sosial ini sering kali disebabkan oleh faktor-faktor seperti teknologi, ekonomi, politik, dan budaya.

Proses perubahan tersebut bisa meliputi pengenalan dan pengakuan adanya masalah, pencarian dukungan dan sumber daya, pengambilan tindakan, dan pembentukan kebiasaan sehat untuk menjaga kesehatan mental di masa depan. Perubahan ini dapat memberikan dampak positif pada kesehatan fisik, interaksi sosial, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Proses ini melibatkan banyak aktor dan organisasi dalam menciptakan pemahaman yang lebih baik dan solusi untuk berbagai masalah sosial dan lingkungan yang ada. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap sebagai alat yang sangat penting dalam mencapai perubahan sosial yang diinginkan.

Dalam membawa perubahan sosial sosal, komunikator memainkan peran penting. Dalam konteks ini, komunikator harus memahami konteks dan masyarakat yang dituju, serta memiliki keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk mengkomunikasikan pesan dengan efektif.

Jo Tacchi dan Thomas Tufte tidak secara khusus berfokus pada komunikasi organisasi. Mereka lebih memfokuskan bahasannya pada penggunaan komunikasi sebagai alat untuk perubahan sosial dan pengembangan masyarakat. Buku ini membahas berbagai konsep dan teori dalam komunikasi yang dapat digunakan dalam konteks komunikasi untuk perubahan sosial, seperti komunikasi partisipatif, komunikasi pemberdayaan, dan komunikasi alternatif.

Komunikator dianggap sebagai fasilitator yang menghubungkan dan memfasilitasi interaksi antara individu, kelompok, dan organisasi dalam konteks perubahan. Contoh konkret dari peran komunikator sebagai fasilitator dapat terlihat dalam proyek pengembangan masyarakat yang melibatkan partisipasi warga dalam proses perencanaan dan implementasi program.

KREDIBILITAS KOMUNIKATOR

Seorang komunikator dapat bertindak sebagai mediator antara kelompok warga dan pihak pengembang program, membantu menjembatani perbedaan pandangan dan memfasilitasi dialog yang konstruktif. Selain itu, seorang komunikator juga dapat memfasilitasi sesi pelatihan atau workshop yang memungkinkan para peserta untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga dapat memperkuat kapasitas individu dan kelompok dalam merespons perubahan sosial yang terjadi.

Terdapat beberapa faktor yang membuat komunikator mudah diikuti orang lain atau tidak. Salah satunya adalah kredibilitas. Komunikator yang memiliki kredibilitas tinggi cenderung lebih mudah diikuti karena dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman, atau otoritas yang mumpuni dalam topik yang dibahas.

Hasil penelitian Aruman et al. (2018, 2023) memperlihatkan bahwa kredibilitas komunikator (sumber pesan) memiliki peran dalam membentuk kualitas komunikasi, dan Kesiapan Berubah. Sedangkan variable lainnya tidak memiliki peran.  Kredibilitas adalah persepsi bahwa seseorang memiliki informasi yang bisa dipercaya. Jika khalayak menilai tinggi komunikator dan menghargai informasi yang diberikan, komunikasi tersebut dikatakan memiliki kredibilitas tinggi.

Menurut Hovland & Weiss (1951), sumber pesan – asal dari pesan disampaikan -- memiliki pengaruh yang kuat pada kepercayaan terhadap pesan. Kredibilitas terkait erat dengan kepercayaan, sebuah elemen penting dalam hubungan pribadi dan profesional.

Kredibilitas sumber mengacu pada persepsi penerima pesan bahwa sumber pesan adalah ahli dan dapat dipercaya (Kelman & Hovland, 1953; Tormala et al., 2006). Pesan dan argumen dari sumber yang dipersepsikan memiliki keahlian lebih dipercaya (Sternthal et al., 1978). Penelitian Aruman et al. (2018; 2023) menunjukkan pengaruh kredibilitas sumber pesan sangat menonjol, sedangkan pesan dan komunikasi partisipatif tidak berpengaruh.

Dalam konteks perubahan konteks komunikasi biasanya melibatkan dialog, umpan balik, keterbukaan, kebersamaan, rasa saling percaya antara komunikator dan komunikan, serta rasa keadilan. Kualitas saluran komunikasi yang digunakan dalam komunikasi bisa saja tidak memuaskan, namun hal ini bisa diatasi dengan menampilkan komunikator yang memiliki kredibiltas.  

Menurut Johnson et al (2005), atribut dari sumber pesan juga dapat menimbulkan insentif tertentu pada perubahan sikap. Konsisten dengan model perubahan sikap, pesan dari sumber yang menarik, memiliki status sosial yang tinggi, disukai, diangap ahli, dapat dipercaya, dan kuat lebih, efektif daripada pesan dari sumber yang tidak memiliki atribut ini. Hal itu berlaku sebaliknya. Bila sumber pesan kurang kredibel, akan memberikan dampak sebaliknya (Johnson et al., 2005)

Sebagaimana didefinisikan oleh Hovland & Weiss (1951), kredibilitas pesan adalah aspek yang bergantung pada pesan yang dikomunikasikan, bukan pada sumbernya atau media komunikasi. Dengan demikian, kredibilitas pesan tergantung pada semua informasi yang terkandung dalam pesan itu sendiri.

Pesan-pesan yang disampaikan kepada pedagang terkait dengan revitalisasi (transformasi dari pasar tradisional ke modern) bisa jadi dilakukan dengan lebih banyak pengulangan pesan-pesan lama yang sudah disampaikan. Hal ini berisiko karena bisa menimbulkan kejemuan. Seperti yang dikatakan Rethans, Swasy, dan Marks (1986), ketika pengulangan pesan meningkat, dua proses psikologis yang berbeda dan berlawanan - pembiasaan positif dan kebosanan - ikut bermain (teori dua faktor, Berlyne 1970).

Pembiasaan positif menyiratkan bahwa, saat paparan stimulus baru meningkat, ketidakpastian orang dan perasaan konflik tentang stimulus berkurang. Akan tetapi, dengan meningkatnya paparan terhadap suatu stimulus, maka afek seseorang terhadap stimulus tersebut berkurang karena mengalami kebosanan, kebosanan, dan reaktansi.

Sumber informasi yang kredibel lebih handal dan lebih dapat dipercaya karena sumber-sumber ini mewakili tingkat keahlian tertentu. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa keahlian pengelola pasar yang dipersepsikan pedagang masih rendah. Sementara itu, tanpa ketepercayaan, pembelajaran bersama, berbagi dan transfer pengetahuan, pemecahan masalah secara kreatif, dan perbaikan proses sulit dihasilkan (Argyris, 1999).

Hal ini, seperti dikatakan Morosan & Fesenmaier (2007), persepsi kualitas informasi atau argumen dan kredibilitas sumber sangat penting dalam hal kekuatan konten untuk mempengaruhi sikap seseorang. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan dalam sumber pesan. Berdasarkan penelitian Tormala & Petty (2004), perubahan sumber pesan dapat membuat orang yang semula menolak perubahan, berubah menjadi menerima.

Dari sudut pandang teori response kognitif (Blackwell, 1995), kesediaan orang yang menerima perubahan karena kredibilitas sumber pesan dapat menghalangi argumentasi kontra terhadap pesan semisal yang tidak menyokong sehingga menghasilkan penerimaan.

Jika sumber memiliki kredibilitas rendah, penerima pesan sulit mendengarkan pesan dari sumber (Walster & Festinger, 1962). Sumber yang memiliki kredibilitas rendah bisa mempengaruhi penerima pesan bila menyajikan bukti faktual (McCroskey, 1969). Dalam hal revitalisasi pasar, yang disampaikan sumber masih bersifat harapan, bukan bukti faktual. Situasi ini yang membuat pesan yang disampaikan sumber tidak diperhatikan.

Penelitian menunjukkan bahwa sumber yang sangat kredibel menghasilkan pesan yang lebih persuasif apabila argumen yang disampaikan cocok dengan pandangan penerima pesan (Tormala et al., 2006). Kredibilitas sumber dapat menjadi petunjuk penting dalam melihat pengaruh kepercayaan terhadap kualitas penyedia layanan kepercayaan, dan persepsi risiko perilaku yang kurang baik. 

Tingkat ketepercayaan terhadap sumber pesan juga mempengaruhi tingkat penerimaan pesan. Priester dan Petty (1995) menemukan bahwa sumber pesan yang tidak dapat dipercaya menyebabkan seseorang melakukan lebih banyak elaborasi pesan. Hal ini dikarenakan ketika menghadapi sumber yang tidak dapat dipercaya, orang tidak yakin apakah informasi yang diberikan akurat. Karenanya, mereka semakin berhati-hati sebelum memastikan validitas pesan yang disampaikan sumber pesan yang kurang dipercaya tadi.

Sebaliknya, ketika dihadapkan dengan sumber yang dapat dipercaya, orang dengan mudah yakin bahwa informasi yang diberikan akurat dan dengan demikian menerima pesan tersebut tanpa berpikir lagi apakah pesan itu valid atau tidak. Nan (2009) memperluas gagasan tersebut pada sumber kredibilitas lainnya, yakni keahlian sumber pesan. Jika sumber memiliki keahlian rendah, orang cenderung untuk terlibat dalam elaborasi pesan yang lebih luas untuk memastikan validitas informasi yang disampaikannya. Di sisi lain, jika sumber memiliki keahlian yang tinggi, orang cenderung untuk menerima pesan sebagai sah tanpa terlalu banyak berpikir (Nan 2009).

Berdasarkan itu, Nan (2009) menyimpulkan kredibilitas sumber yang mempengaruhi tingkat elaborasi sebuah pesan, dapat berdampak terhadap sikap kepastian. Lebih khusus, sumber pesan dengan kredibilitas yang rendah, dibandingkan dengan satu dengan kredibilitas tinggi, untuk membangun sikap kepastian penerima pesan, sumber pesan harus berusaha lebih keras untuk membangun keahlian dan tingkat kepercayaannya.

 

Selasa, 07 Maret 2023

BAGAIMANA PERUSAHAAN MENGUMUMKAN ALASAN DILAKUKAN PERUBAHAN?


Menyampaikan alasan perubahan merupakan hal yang penting dalam manajemen perubahan karena dapat membantu karyawan dan stakeholder organisasi memahami mengapa perubahan perlu dilakukan. 

Tanpa pemahaman yang jelas mengenai alasan perubahan, karyawan dan stakeholder dapat merasa bingung, tidak yakin, atau bahkan resisten terhadap perubahan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan perubahan gagal atau tidak mencapai hasil yang diharapkan.

Dalam menyampaikan alasan perubahan, penting untuk menjelaskan bagaimana perubahan tersebut akan memberikan manfaat bagi organisasi, karyawan, dan stakeholder lainnya. Selain itu, juga perlu dijelaskan dampak yang mungkin terjadi jika tidak ada perubahan, seperti penurunan kinerja atau kehilangan pasar.

Dengan memberikan pemahaman yang jelas mengenai alasan perubahan, karyawan dan stakeholder dapat merasa lebih terlibat dan mendukung perubahan tersebut, sehingga meningkatkan kesuksesan perubahan dan mencapai tujuan organisasi. 

Mengumumkan alasan perubahan berarti menjelaskan  secara gambling mengapa perubahan perlu dilakukan, apa tujuan utamanya, dan mengapa itu penting bagi organisasi.

Pada awal 2000-an, Microsoft menjadi pemimpin pasar perangkat lunak dengan produk-produk seperti Windows dan Office. Namun, persaingan yang semakin ketat dari perusahaan-perusahaan cloud seperti Amazon dan Google mengancam posisi dominan Microsoft di pasar.

Microsoft menganggap Amazon dan Google karena keduanya memiliki kekuatan yang mumpuni dalam bisnis internet dan teknologi informasi yang berkembang pesat. Amazon, sebagai salah satu situs e-commerce terbesar di dunia, telah membangun infrastruktur IT yang kuat dan mengembangkan layanan cloud computing yang inovatif. Sementara Google, sebagai mesin pencari terbesar di dunia pada saat itu, telah menguasai pasar iklan online dan mengembangkan berbagai layanan online yang sukses seperti Gmail, Google Maps, dan Google Docs.

Di sisi lain, Microsoft, yang saat itu fokus pada bisnis perangkat lunak dan komputer pribadi, tidak memiliki keunggulan yang sama dalam bisnis internet dan layanan cloud computing. 

Kehadiran Amazon dan Google dalam bisnis teknologi informasi dan internet yang berkembang pesat membuat Microsoft merasa terancam dan membutuhkan perubahan strategi untuk tetap bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Oleh karena itu, Microsoft kemudian mengubah fokus bisnisnya dari perangkat lunak ke layanan cloud untuk menghadapi persaingan dari Amazon dan Google.

Untuk menghadapi tantangan ini, Microsoft mengubah strategi bisnisnya dengan memperkenalkan layanan cloud seperti Microsoft Azure dan Office 365. Perusahaan ini juga memperkuat portofolio perangkat lunaknya dengan memperkenalkan Windows 10.

Supaya perubahan itu berhasil, Microsoft menjelaskan alasan perubahan fokus dari perangkat lunak komputer ke layanan cloud melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media massa, konferensi pers, dan komunikasi internal kepada karyawan. Perusahaan ini juga menyampaikan alasan perubahan kepada para investor melalui laporan keuangan dan pertemuan pemegang saham.

Microsoft juga menggunakan situs web perusahaan dan media sosial untuk menyampaikan informasi tentang rencana perubahan, termasuk alasan di balik perubahan strategi. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan mengkomunikasikan pesan secara efektif.

Selain itu, Microsoft juga melakukan kampanye pemasaran untuk memperkenalkan layanan cloud baru dan mempromosikan manfaatnya bagi pelanggan. Kampanye ini dirancang untuk menunjukkan kepada pelanggan dan pemangku kepentingan bahwa Microsoft memiliki visi jangka panjang dan berkomitmen untuk memberikan solusi teknologi terbaik bagi mereka.

Saat mengubah fokusnya dari perangkat lunak ke layanan cloud, Microsoft mengambil strategi pesan yang terdiri dari beberapa elemen seperti memberikan penjelasan yang jelas tentang alasan perubahan. 

Dalam konteks ini Microsoft menjelaskan bahwa perubahan itu dilakukan untuk menghadapi persaingan yang semakin sengit dari perusahaan cloud seperti Amazon dan Google. Perusahaan juga menunjukkan bahwa perubahan itu akan membawa manfaat bagi para pelanggan.

PESAN-PESAN YANG DISAMPAIKAN

Dalam kaitannya dengan manfaat, Microsoft menekankan manfaat yang diberikan oleh perubahan tersebut, seperti kemampuan untuk mengakses data dan aplikasi dari mana saja dan pada berbagai perangkat.

Secara mendetail Microsoft menekankan manfaat yang diberikan oleh perubahan fokus ke layanan cloud. Disini Microsoft menekankan bahwa dengan fokus ke layanan cloud, perusahaan akan dapat mengakomodasi pertumbuhan pengguna dan permintaan lebih baik daripada hanya fokus pada perangkat lunak (Skalabilitas).

Microsoft juga mengangkat isu soal efisiensi biaya. Menurut Microsoft, fokus ke layanan cloud dapat mengurangi biaya infrastruktur dan pengembangan produk, karena layanan cloud lebih fleksibel dan efisien. Pesan lainnya diambil dengan melihat isu yang berkembang saat sebua perusahaan mengaddopsi teknologi atau inovasi, yakni masalah keamanan dan privasi.

Dalam konteks keamanan dan privasi, Microsoft menekankan bahwa layanan cloud-nya memiliki standar keamanan dan privasi yang tinggi, sehingga pelanggan dapat merasa aman dan terlindungi saat menggunakan layanan tersebut. Sementara dari sisi inovasi, menurut Microsoft, fokus ke layanan cloud memungkinkan perusahaan untuk lebih fokus pada inovasi dan pengembangan produk baru, karena tidak terlalu banyak terikat pada produk yang sudah ada.

Dalam keseluruhan pesannya, Microsoft berusaha meyakinkan pelanggan bahwa perubahan fokus ke layanan cloud bukan hanya untuk kepentingan perusahaan, tetapi juga untuk memberikan manfaat yang lebih baik kepada pelanggan.

REFERENSI:

Hill, C. W. L., Jones, T. M., & Schilling, M. A. (2014). Strategic management: theory: an integrated approach. Cengage Learning. 

KOMUNIKASI PERUBAHAN


Komunikasi perubahan adalah suatu proses komunikasi yang digunakan untuk memperkenalkan, mengimplementasikan, dan memperkuat perubahan dalam suatu organisasi atau lingkungan bisnis. Tujuan dari komunikasi perubahan adalah untuk memastikan bahwa karyawan, pelanggan, pemangku kepentingan, dan orang-orang terkait lainnya memahami tujuan dan manfaat dari perubahan tersebut dan mendukungnya. 

Gagasan dalam komunikasi perubahan ini mencakup bagaimana yang berkepentingn mengumumkan perubahan, memberikan penjelasan tentang alasan di balik perubahan, serta pelatihan dan dukungan yang dibutuhkan agar karyawan dan pelanggan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Komunikasi perubahan sangat penting untuk mengurangi ketidakpastian, kecemasan, dan resistensi yang mungkin terjadi dalam menghadapi perubahan.

Buku KOMUNIKASI PERUBAHAN yang disusun berdasarkan disertasi sang penulis, membahas tentang pentingnya komunikasi dalam perubahan organisasi dan bagaimana komunikasi yang efektif dapat membantu menciptakan perubahan yang sukses. 

Buku ini menempatkan komunikasi bukan hanya penting dalam mengumumkan perubahan, tetapi juga dalam membantu mempersiapkan staf dan karyawan menghadapi perubahan tersebut. Buku ini  mengidentifikasi lima prinsip utama dalam komunikasi perubahan: konsistensi, jangkauan, pesan yang sesuai, umpan balik, dan partisipasi.

Prinsip konsistensi menekankan pentingnya mengkomunikasikan pesan yang konsisten dan terkoordinasi kepada seluruh organisasi agar tidak terjadi kontradiksi atau kebingungan. Prinsip jangkauan menunjukkan pentingnya menjangkau seluruh stakeholder organisasi dan mengkomunikasikan informasi perubahan yang relevan kepada mereka.

Prinsip pesan yang sesuai menunjukkan pentingnya mengkomunikasikan pesan perubahan yang tepat dan relevan dengan audiens yang berbeda-beda. Prinsip umpan balik menekankan pentingnya mendengarkan dan merespons umpan balik dari stakeholder, sehingga perubahan dapat disesuaikan dan dioptimalkan sesuai kebutuhan.

Prinsip partisipasi menunjukkan pentingnya melibatkan stakeholder dalam proses perubahan, sehingga mereka merasa terlibat dan memiliki kepentingan dalam kesuksesan perubahan tersebut.

Intinya, buku ini menekankan bahwa komunikasi perubahan harus dianggap sebagai bagian penting dari strategi perubahan organisasi dan harus dipersiapkan dan diimplementasikan secara matang untuk mencapai hasil yang sukses.