Rabu, 17 Februari 2021

GENERATION GAPS - BAGAIAMANA MEMAHAMI DAN MENANGANI MEREKA

 



Di hampir setiap tempat kerja yang mempekerjakan banyak orang, perbedaan generasi menghadirkan beberapa tantangan. Perbedaan ini sama pentingnya dengan ketika Anda memutuskan mencari nafkah apakah sebagai tenaga kerja lepas, kontrak atau tetap. 

Generalisasi menyeluruh tentang karakter seseorang atau generasi berdasarkan kapan orang dilahirkan mungkin bias, dan tentu saja Anda tidak ingin membuat stereotip.

Tapi kita semua dibentuk oleh budaya dan peristiwa di masa seseorang tumbuh menjadi dewasa. Keyakinan, gaya komunikasi dan pengambilan keputusan, pola interaksi, dan harapan bisa saling bertentangan antara seseorang dan orang lainnya. 

Kesalahpahaman bisa berkembang. Namun demikian, berapapun kelompok usia Anda, Anda akan mendapat manfaat dari mempraktikkan empati terhadap  kelompok yang lain. 

Disinilah pentingnya kita mendapatkan informasi – meski bisa jadi tidak harus demikian – melalui pengamatan sehingga Anda menemukan cara untuk membuat orang-orang dalam kehidupan kerja sehingga Anda bahagia tanpa harus mengorbankan nilai-nilai Anda sendiri.

Generasi Baby Boom (lahir 1946 hingga 1964) sering kali sangat kompetitif dan mendefinisikan diri mereka melalui pencapaian. Banyak diantara generasi baby boomer yang gila kerja. 

Meskipun Boomers ingin mengubah dunia dan berjuang untuk perubahan (hak-hak sipil, peran perempuan), secara keseluruhan mereka menghormati otoritas, loyalitas, posisi, dan kerja keras yang menciptakan kemajuan ke atas. 

Mereka ingin anak-anak muda saat ini maju dengan cara yang sama: mendapatkan penghargaan (dan kepercayaan diri) secara bertahap dari waktu ke waktu.

Gaya komunikasi: Suka kontak langsung dan bagus dalam konfrontasi; sering mengadakan pertemuan; bertelepon, email dan informasi rinci; memperoleh informasi umum dari surat kabar dan televisi; banyak yang menggunakan Facebook, LinkedIn dan Twitter, yang lainnya tidak menyukai semua atau sebagian.

Bereaksi buruk terhadap: Orang yang lebih muda dianggap kurang hormat, tingkat komitmen rendah, ekspektasi akan kemajuan yang cepat, kebutuhan untuk sering dibimbing, kesombongan tentang keterampilan teknologi superior mereka sendiri dan penulisan yang ceroboh!

Bereaksi dengan baik terhadap: Sikap bisa melakukan, kemauan untuk bekerja keras dan mengatasi hambatan, menghormati prestasi dan pengetahuan mereka dan pesan yang terencana dan terbukti.

Generasi X (lahir 1965 hingga 1980) adalah generasi yang relatif kecil yang benar-benar berada di tengah. Mereka sering kali adalah manajer menengah dan harus menerjemahkan antara orang yang mereka laporkan dan yang melapor kepada mereka. Mereka pekerja keras, individualistis, berkomitmen untuk berubah dan mencari keseimbangan hidup. Mereka menghargai peluang untuk membangun keterampilan.

Gaya komunikasi: Bergantung pada email, sebaiknya singkat dan efisien; lebih suka melewatkan rapat; nyaman dengan teknologi baru dan media sosial (terutama Facebook) dalam berbagai tingkatan, tetapi tanpa antusiasme penuh dari orang-orang yang lebih muda; merujuk ke televisi dan pada tingkat yang lebih rendah, surat kabar, untuk informasi.

Bereaksi buruk terhadap: Manajer otokratis, tidak menghargai; suasana hak dari bawahan dan kebutuhan bawahan untuk perhatian terus-menerus, dorongan dan pengawasan dan keengganan untuk bekerja ekstra dan beradaptasi dengan kebutuhan tempat kerja; ketidaksabaran; Keyakinan "tidak diterima".

Bereaksi dengan baik terhadap: Banyak akal, kemandirian, rasa tanggung jawab, perhatian terhadap detail, kemauan untuk mengambil tugas yang "tidak menarik", komunikasi yang baik.

Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) (lahir 1981 hingga 1996) termasuk dalam generasi yang sangat besar dan kuat menghadapi persaingan tetapi peluang yang lebih sedikit. Mereka sangat sosial dan berpikiran komunal, lebih suka bekerja dalam tim dan berhubungan dekat dengan semua orang di dalam dan di luar kantor. 

Mereka menginginkan tanggung jawab – sesegera mungkin - plus pendampingan intensif. Mereka berharap bisa menghabiskan karir mereka dengan terus menerus mencari pekerjaan baru dan bereksperimen dengan sumber pendapatan lain. 

Mereka tidak materialistis dan biasanya segera meninggalkan pekerjaannya bila sudah merasa tidak sreg dan terlibat, bahkan ketika tidak ada pekerjaan lain yang terlihat. Memberikan nilai tinggi untuk pengalaman aktif, inklusivitas, dan toleransi.

Gaya komunikasi: Digital sepenuhnya; lebih suka berinteraksi melalui SMS, pesan instan, dan media sosial, terutama Facebook; menarik berita dan informasi dari Internet; menggunakan email hanya jika diperlukan; tidak antusias dengan kontak telepon, rapat, dan konfrontasi.

Bereaksi buruk terhadap: Kurangnya rasa hormat; dorongan, penghargaan atau inklusi yang tidak memadai; tidak diberi alasan untuk tugas; tidak diakomodasi dalam preferensi gaya hidup; diharuskan bekerja dengan teknologi lama.

Bereaksi dengan baik terhadap: Pelatihan, peluang untuk belajar dan tumbuh, kesadaran akan tujuan, dihargai, penjelasan, pengalaman baru, komunikasi terus-menerus, kerja sama, peluang untuk bekerja dengan orang-orang kreatif cerdas lainnya, penghargaan cepat dan wawasan ke dalam gambaran besar.

Generasi Z (lahir 1997 hingga 2010) mungkin akan dikenal sebagai Generasi yang Tergelincir. Ini dikarenakan sebagian besar dari mereka, ekspektasi karir dan renacanya ke depannya berubah karena , pandemi virus Corona pada tahun 2020. Mereka adalah generasi yang paling beragam. Banyak diantara generasi ini yang teguh memegang prinsip progresif dan berpendidikan tinggi; menghindari risiko; pragmatis; nilai-nilai didorong terutama dalam hal kesempatan yang sama dan lingkungan. Rentang perhatiannya pendek.

Gaya komunikasi: Ini adalah "digital native sejati" pertama dan menggunakan ponsel cerdas mereka untuk semua informasi, hiburan, dan komunikasi, tetapi hindari panggilan telepon. Kumpulkan berita dari Twitter dan saluran online lainnya. Gunakan berbagai platform sosial dan suka media kreatif dan singkat seperti Snapchat dan Instagram. Preferensi kuat untuk video. Sangat dipengaruhi oleh rekan-rekan mereka.

Bereaksi buruk terhadap: Kurangnya kejujuran dan transparansi, diabaikan dalam pengambilan keputusan, tidak dihormati pendapatnya.

Bereaksi dengan baik terhadap: Waktu tatap muka dan umpan balik yang teratur, komunikasi singkat, penggunaan video, diperlakukan sebagai kontributor.

Sumber:

Canovar, Natalie. 2021. Business Writing For Dummies®, 3rd Edition. New Jersey:  John Wiley & Sons.

Selasa, 19 Januari 2021

STATPHOBIA

 


Pemeritah negara tiran paling takut sama statistik. Dulu, sebelum pemerintah Gorbachev, orang Rusia tidak pernah dan takut menggunakan statistik politik untuk menggambarkan kesengsaraan sejarah mereka.

Selama 1920-an hingga 1980-an, menurut Profesor Harvard, Gary King - ilmuwan di AS pertama yang mulai menggunakan statistik politik -- Uni Soviet memblokir akses pembelajaran dan data statistik yang diterbitkan lembaga-lembaga internasional. 

Alergi pemimpin-pemimpin Uni Sovyet terhadap statistik sunggu luar biasa namun mereka menikmatinya. Statistik sering digunakan sebagai alat propaganda. Stalin adalah pemimpin Uni Sovyet mempelopori penggunaan statistik untuk propaganda mengelabui rakyatnya. 

Dia memalsukan angka statistik nasional: Dia menutupi sekitar sembilan juta kematian akibat penindasan Stalin dan tingkat bunuh diri serta penahanan yang sangat tinggi. Lebih buruk lagi, usaha pribadi untuk mengumpulkan statistik juga dilarang, dan Pemerintah Tirai Besi itu mencegah ilmuwan politik mengakses sumber daya statistik asing.

Di akhir tahun 80-an, liberalisasi Gorbachev membawa upaya pertama untuk lebih sering menggunakan statistik politik. Namun, periode di mana statistik dapat dipopulerkan tak berjalan lama. 11 tahun kemudian, Vladimir Putin menjadi Presiden Rusia dan mulai mengecam keras penggunaan statistik, terutama di media massa.

Nuansa itu diciptakan untuk mendukung propaganda. Masyarakat dibuat tidak melek statitik. Publik tidak peduli dengan metode analisis statistik. Disini Putin mendapat banyak mendapat manfaat. Antara lain, ketika Rusia menganeksasi Krimea, Putin tak perlu menjelaskan dengan data statistic soal alasannya. Cukup dengan menggunakan argumen sejarah dan sastra, rakyat Rusia memaklumi atau diam.

Para jurnalis Rusia juga terjebak dalam nuansa itu. Saat memaparkan peristiwa aneksasi itu, wartawan hanya menyinggung soal moralitas, kebanggaan bangsa, dan sejarah. Misalnya, ada seorang komentator yang berkata, “kami layak mendapatkan Krimea; kami adalah sebuah kerajaan dan secara historis kami memilikinya, "atau" Anda lihat, Tolstoy, Pushkin, Mayakovsky, menulis tentang Krimea sebagai wilayah Rusia. "

Padahal, beberapa statistik relevan yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk mempengaruhi keputusan politik, misalnya apakah aneksasi mempunyai motif ekonomi atau ambisi geografis. Sebab bagaimanapun saat itu ekonomi Rusia sedag kendor.  Pada 2014, PDB per kapita Rusia turun dari 14.125 menjadi 9.325, sementara tingkat kemiskinan meningkat dari 11,2 persen menjadi 13,3 persen hanya dalam satu tahun. Data statistik ini sepenuhnya diabaikan.

 


Sabtu, 16 Januari 2021

TUKANG

 

  Ilustrasi: https://www.percetakanmurahsenyum.com/2020/09/lebih-dekat-dengan-alat-pembuat-stempel.html  

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tukang merujuk pada orang yang mempunyai kepandaian dalam suatu pekerjaan tangan (dengan alat atau bahan yang tertentu): -- batu, -- besi, -- kayu; Orang yang pekerjaannya membuat (menjual, memperbaiki, dan sebagainya) sesuatu yang tentu.

Yang membedakan dengan yang lain adalah kekhasannya; indiviualistis, kemandirian, dan inedependen. Toh seperti kata lain pada umumnya, makna dan penggunaan kata tukang bergeser.   

Dulu, pekerjaan bapak saya adalah tukang, tukang stempel. Bukan orang yang pekerjaannya mencap surat resmi, surat berharga atau dokumen lainnya, melainkan membuat stempel. Bahannya dari karet alami. Saya sering diajak bapak membeli karet (bentuk lembaran) dari pabriknya yang ada di Malang. Sementara gagang kayunya dibeli dari pengrajin dari Blitar. Saya lupa persinya. Yang saya ingat daerah di dekat makam Bung Karno.

Alamat persisnya saya lupa.  Yang saya tahu, dari awal ya belinya disitu tak pernah berpindah. “Karetnya bagus. Jarang ledeh dan stempelnya tahan lama,” kata bapak saya. Pernah dicoba membeli karet dari tempat lainnya, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Stempel cepat leleh dan pada titik tertentu, saat produksi stempel juga sering _ledeh_.

Saya tidak tahu bagaimana sebutan tukang stempel ke bapak saya itu muncul. Tahunya, julukan itu sangat popular melekat di Bapak. Jika ada orang luar Gresik yang menanyakan dimana rumah Basjir (itu nama bapak saya), orang akan bertanya, Basjir siapa? Tukang stempel? Orang akan menunjukkan alamat rumahnya.

Dalam buku _Penjaja dan Raja: Perubahan Sosial dan Modernisasi Ekonomi di Dua Kota Indonesia_, antropolog Amerika – Clifford Geertz, menyebut tukang untuk pengrajin tangan. Istilah “tukang” digunakan untuk menyebut setiap orang yang mempunyai ketrampilan kerja tertentu, apapun itu. Jadi istilah itu bisa merujuk pada tukang jahit, tukang potong (bisa potong rambut, tukang daging, atau yng sejenisnya), tukang masak, dan sebagainya.

Kekhasan tukang adalah mereka bekerja secara independen dan swasembada. Tukang kayu dan tukang jahit merupakan contoh yang menunjukkan cara kerja tukang yang individualistis itu Tukang stempel seperti bapak saya menggunakan rumah sebagai bengkel kerjanya.       

Pekerjaan membuat stempel secara manual membutuhkan ketrampilan. Pebuatannya dimulai dari membuat cetakan berupa susunan huruf dan kata sesuai dengan yang diinginkan pemesan. Huruf-huruf (font dan tipenya beragam) berupa batangan kecil dan ukurannya mulai dari batang korek api hingga seukuran jari kelingking sesuai dengan font dan tipenya. Batangan itu terbuat dari timah hitam.

Batangan-batangan disusun dan diikat dengan karet bekas ban dalam roda sepeda yang dipotong kecil-kecil yang kemudian atasnya disemen dengan gips sehingga kuat dan tidak berantakan. Susunan huruf itu kemudian dicetakkan pada hamparan gips (kapur) yang dipadatkan berukuran 15x30 sentimeter. Jadi bila ukuran stempel sekitar 7x 5 sentimeter, dalam hamparan cetakan itu bisa dibuat 5-6 stempel. Pemadatan dilakukan dengan pemasanan.

Setelah padat, di atas gips tadi dihamparkan karet sesuai ukuran cetakan gips. Karet harus menutupi semua permukaan gips namun tidak boleh dalam satu potongan, ada beberapa yang harus dipotong terutama pada permukaan yang ada cetakan bakal stempel itu. Setelah penuh baru dipres dengan alat dan dipanaskan dengan menempatkan kompor di bawahnya. Disitulah saya paham kenapa bapak saya disebut tukang.     

Semua tugas itu dengan mudah dikerjakan sendiri. Kadang-kadang memang ada bantuan. Kalau bapak saya yang membantu adalah anak-anaknya yang biasanya diangggap magang. Siapa tahu bisa meneruskan usahanya. Namun, kini tak ada yang melanjutkan usaha kerajinan stempel itu.

Situasinya memang berubah. Anak-anaknya tetap menjadi tukang, tapi bukan tukang stempel. Begitu pula dengan istilah tukang. Istilah tukang dapat dipergunakan untuk menyebut ketrampilan yang hampir tak terbatas.

Ironisnya, orang Jawa – seperti kata Geertz – menyebut politikus yang korup sebagai “tukang kursi” (kursi parlemen); Tukang omong kosong untuk pembicara yang suka ngomong bertele-tele; atau tukang main perempuan untuk seorang Don Juan.    

Pergeseran tidak berhenti sampai disitu. Bila tukang selama itu disebut independen, swasembada dan individualistis, sekarang berubah menjadi betergantungan, dan kolektif. Bahkan -- ketika sering wawancara dengan Ridwan Saidi -- tokoh Betawi sering itu menyebut kata "ditukangi" untuk orang yang dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan tertentu. 

Rabu, 07 Oktober 2020

BRANDING BERAS

 


Banyak perusahaan yang mem-brand-kan komoditi beras. Tapi hanya sedikit yang  mengkomunikasikan merek itu ke pasar. Padahal, tanpa komunikasi pencantuman brand itu hampir tidak ada artinya mengingat beras generik dengan kualitas bagus pun availabitity-nya sangat tinggi.


Sampai dekade 80-an orang mengenal beras hanya berdasarkan jenisnya: rojolele, pandanwangi, cianjur, citra ramos, IR-64 dan lain-lain. Pada dekade 90-an orang mulai berfikir untuk memberikan nilai tambah pada komoditas ini dan melakukan fungsi pemasaran melalui pencantuman brand seperti Ayam Jago, Oryza, Slyp, Tiga Ketupat dan lain-lain.

Beberapa merek bahkan kemudian melakukan aktivitas pemasaran yang gencar melalui promosi lini atas dan lini bawah. Ayam Jago dan Oryza, misalnya. Selain beriklan di media cetak dan elektronik, mereka melakukan edukasi kepada konsumen.

Memang, belum banyak brand beras yang melakukan kegiatan marketing secara agresif—selain membubuhkan brand sebagai jaminan kualitas—seperti Ayam Jago dan Oryza.

Padahal, tanpa komunikasi kepada konsumen, pencantuman brand hampir tidak ada artinya mengingat produk generik beras dengan kualitas yang bagus mudah diperoleh di berbagai saluran distribusi seperti pasar, toko, warung, hingga outlet modern.

“Jadi komunikasi penting untuk menyosialisasikan atribut pembeda atau diferensiasi merek ini dari brand lain atau beras generik,” kata pengamat pemasaran dari Prasetiya Mulya Business School Agus W. Soehadi.

Guru besar di bidang marketing ini menegaskan ada dua syarat utama agar branding komoditas seperti yang dilakukan para pengusaha beras itu berdampak signifikan kepada penjualan, yaitu ada atribut pembeda (diferensiasi produk) dan proses komunikasi atribut pembeda tersebut kepada target market.          

Menurut catatan Tabloid Marketing, perusahaan yang mem-brand-kan beras di Indonesia pada umumnya hanya memenuhi satu diantara dua syarat tersebut, yaitu hanya menawarkan diferensiasi produk tanpa mengkomunikasikan atribut pembedanya kepada pasar.

Padahal, dalam kasus beras, atribut pembedanya nyaris seragam antara satu merek dengan merek lain., yaitu sama-sama mengklaim beras pulen dan harum. Jadi, tanpa komunikasi, brand ini tidak akan melekat erat di benak konsumen karena diferensiasinya kabur ditelan diferensiasi beras lain.

Berbeda dengan Ayam Jago yang meskipun mengusung atribut pembeda sebagai beras pulen, dia tetap aktif mengkomunikasikan diferensiasinya kepada pasar. Tetapi Sayang, manajemen Ayam Jago belum mau berbagi cerita tentang keberhasilannya mem-brand-kan komoditas beras. Padahal dia adalah satu-satunya merek beras yang berani mengkomunikasikan produknya melalui iklan di televisi.          

Tapi jangan khawatir, ada Oryza yang mau berbagi cerita. Oryza memang tidak menggeber promosi lewat iklan televisi. Untuk mengkomunikasikan produknya, dia hanya beriklan di media cetak (majalah) dan radio. 

Tapi istimewanya, brand ini tidak mengusung atribut pembeda pulen seperti umumnya beras. Oryza menawarkan diferensiasi sekaligus memosisikan brand-nya sebagai beras organik yang proses budidayanya ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia yang bisa mencemari lingkungan dan menyisakan dampak genetis yang tidak menguntungkan.

Menurut Manajer Pemasaran Oryza Arief Wibowo, pengolahan tanah, pengendalian hama, dan pemupukan tanaman padi cikal bakal beras oryza seluruhnya dilakukan secara organik oleh petani binaan.

Secara fisik beras organik tidak ada bedanya dengan beras lain. Tapi kalau diuji di laboratorium, jelas kandungannya berbeda. “Ini sudah dibuktikan oleh Sucofindo—salah satu perusahaan sertifikasi di Indonesia,” tutur Arief. Sebagai produk organik, Arief menjamin nasi dari beras Oryza tahan basi hingga 60 jam (di luar magic jar) dan rasanya lebih pulen. “Jadi ibarat ayam, beras ini ayam kampung,” ujarnya. 

Dengan diferensiasi itu, tidak heran kalau Arief berani memasang harga tinggi untuk berasnya, rata-rata Rp 6.000 per kg untuk semua jenis (citra ramos, pandan wangi dan rojolele). Harga ini lebih mahal dibandingkan harga beras premium dari berbagai merek yang dipatok pada level Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per kg 

Dengan harga tersebut, jelas pasar yang dibidik Oryza adalah kelas A atau kalangan menengah atas. Lebih spesifik lagi Arif menunjukkan bahwa pelanggan mereka adalah kalangan berpenghasilan di atas Rp 1,5 juta per bulan yang peduli pada lingkungan—biasanya kalangan ini adalah masyarakat terpelajar yang memahami pentingnya memasyarakatkan green product.

Dengan positioning seperti itu, pasar Oryza saat ini memang tidak terlalu besar. Arief menaksir pangsanya di tanah air ini hanya sekitar 10%. Untuk mengembangkan customer based, dia berencana mengekspor Oryza ke manca negara. “Untuk itu kami sedang mengurus sertifikasi sebagai beras organik. Kalau itu sudah selesai, kami akan langsung ekspor.”

Dengan positioning seperti ini pula, kata Arief, distribusi Oryza hanya dilakukan ke outlet modern seperti Carrefour, Hero, Goro, Matahari dan Jogja Department Store di Jakarta dan sekitarnya, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.  

Di luar itu, penjualan Oryza dilakukan secara door to door oleh para distributor. Dari omzet sekitar 500 ton per bulan, menurut Arief, 60% di antaranya berasal dari penjualan di gerai modern. Sisanya dari penjualan secara door  to door.

Arief menyadari kegiatan marketing yang dilakukannya sejak 1997 ini terbukti bisa meningkatkan penjualannya. Sebelum menggunakan merek Oryza dan aktif melakukan aktivitas pemasaran, kata Arief, penjualan beras ini per bulannya hanya puluhan ton. Kini, setelah branded dan gencar berpromosi, omzetnya meningkat drastis hingga rata-rata 500 ton (Rp 3 miliar) per bulan.

Hebatnya lagi, dengan prestasi itu tim pemasaran Oryza yang ditangani oleh Koperasi Pertanian Nusantara ini sama sekali tidak mempunyai tenaga penjual. Pendapat pakar pemasaran Hermawan Kertajaya bahwa kalau pemasaran berjalan dengan baik, sesungguhnya tidak diperlukan tenaga penjual berlaku pada Oryza. 

Menurut Arief, Koperasi Pertanian Nusantara tidak memiliki sales force. “Outlet modern seperti Carrefour dan Hero sudah tahu produk kami. Mereka biasanya langsung mengirim order kepada kami. Sedangkan untuk yang door to door, penjualannya langsung ditangani distributor,” tutur Arief.

Arief yakin komunikasi tentang kelebihan brand Oryza sangat besar andilnya dalam keberhasilan penjualan beras organik ini. Selain promosi di lini atas melalui media cetak dan radio, menurut Arief, Oryza juga aktif mengedukasi konsumen melalui program talkshow dan pendekatan langsung kepada ibu-ibu PKK dan kelompok pengajian.

Pengamat pemasaran Agus Soehadi melihat potensi pasar beras organik di Indonesia masih cukup luas. Namun untuk mengembangkan customer based di tanah air ini, menurut Agus, Oryza perlu memperbaiki komunikasinya.

Oryza, lanjutnya, harus “menerjemahkan” terminologi organik ke dalam bahasa yang lebih populer yang berhubungan langsung dengan benefit yang akan dirasakan konsumen setelah mengonsumsi beras Oryza. 

“Misalnya dikomunikasikan sebagai beras yang baik untuk kesehatan manusia,” tutur sarjana pertanian yang kemudian menekuni dunia pemasaran ini menutup pembicaraan dengan Tabloid Marketing. (Tabloid Marketing, 05 April 2002)

Senin, 05 Oktober 2020

OBJECTIVITAS


Perdebatan utama dalam jurnalisme adalah soal *objektivitas* - apakah ia baik atau buruk dan bahkan apakah kita mungkin mencapainya. Beberapa jurnalis terkenal, termasuk Hunter Thompson, Bill Moyers, dan David Brinkley, telah menjabarkan objektivitas sebagai sebuah mitos.

Sedangkan beberapa jurnalis terkenal lainnya, seperti Clifton Daniel dan Herbert Brucker, berpendapat bahwa objektivitas adalah penting sekali dalam penyampaian berita.

Beberapa konsep yang diperkenalkan oleh S. I. Hayakawa (1964) dapat membantu jurnalis untuk memaknai kontroversi atas objektivitas. Hayakawa membahas tiga jenis pernyataan yang bisa dibuat ole seseorang; yakni laporan (_report_), inferensi (_inferences_), penilaian (_judgments_) - dan hal-hal yang berkenaan dengan _slanting_.

Sebuah laporan adalah pernyataan yang bisa diverifikasi dan tidak ada unsur inferensi atau penilaian. Satu contohnya adalah pernyataan, "Temperatur rendah tadi malam di Gresik adalah 28 derajat Celcius." 

Pernyataan ini bisa diverifikasi, diperiksa kebenarannya. Anda bisa pergi ke stasiun ramalan cuaca di BMKG dan melihat rekaman cuaca atau mewawancarai ahli meteorologi di sana. Contoh lain laporan adalah pernyataan berikut ini:

Dewan Kota (DPRD) menyetujui dana $237 juta untuk tahun fiskal 1995. (_Apakah mereka melakukan atau tidak, tindakan tersebut dapat diverifikasi dengan mengecek melalui para anggota dewan, saksi mata yang menghadiri sidang, dan laporan pejabat mengenai sidang tersebut._)

Tersangka perampokan Larry Joe Smith terlihat di Bandara Kota Sabtu sore. (Laporan ini akan lebih sulit diverifkasi, dan tidak bisa diverifikasi sampai Smith ditangkap dan dikenali di pengadilan oleh seorang saksi mata, tetapi pernyataan itu masih dapat diverifikasi.)

Inferensi adalah pernyataan tentang sesuatu yang tidak terlihat berdasarkan pada sesuatu yang terlihat. Contohnya adalah berbagai pernyataan tentang pikiran atau pernyataan seseorang. Anda mungkin dapat melihat seseorang menggebrakkan tinju pada meja, nada meninggi, dan wajahnya merah padam. 

Semua itu adalah aspek-aspek yang terlihat. Jika kemudian Anda membuat peryataan, "Chris marah", maka Anda membuat pernyataan suatu yang tidak terlihat, yaitu emosi orang tersebut. Berarti Anda membuat sebuah inferensi. 

Dalam berbagai kasus, cara paling aman adalah dengan berpatokan pada apa yang dilihat dan melaporkannya -- menggebrakkan tinju, nada suara meninggi, dan wajah yang merah padam. Permyataan-pemnyataan tentang karakteristik yang bisa dilihat ini dapat diverifikasi dan merupakan laporan.

Berbagai pernyataan tentang masa depan adalah sebuah inferensi, karena masa depan tidak diketahui. Pernyataan, "Presiden akan masuk rumah sakit hari Kamis untuk checkup" adalah sebuah inferensi, karena ia berkenaan dengan masa yang akan datang. Pernyataan yang lebih aman dalam hal ini adalah, "Sekretaris presiden mengatakan bahwa presiden akan masuk rumah sakit hari Kamis untuk checkup." Pernyataan tersebut bisa diverifikasi - itu berarti pernyataan itu adalah sebuah laporan.

Seseorang yang diserang menceritakan tentang orang yang menyerangnya, "Tingginya pasti enam kaki dan mungkin sedang mabuk." Pernyataan bahwa si penyerang "sedang mabuk" adalah sebuah inferensi, meskipun mungkin yang paling akurat adalah menyebutnya sebagai inferensi tambahan karena dipakai kata mungkin. Dalam sebuah contoh lain, seorang koresponden televisi yang sedang menjelaskan kegagalan Kongres untuk menolak veto presiden atas rancangan undang-undang kerja darurat. Sang pelapor mengatakan, "Partai Demokrat tampaknya tercengang dengan apa yang terjadi."

Sebuah penilaian adalah suatu ekspresi kesetujuan atau ketidaksetujuan atas sebuah kejadian, orang, atau objek. Misalnya, siswa kadang kala menggunakan kata hebat/jago/top (kesetujuan) atau menyebalkan/galak (ketidaksetujuan) untuk mendeskripsikan seorang guru.

Surat-surat yang masuk pada redaksi koran kadang kala mengandung penilaian. Renungkan tentang surat yang menjabarkan serial televisi Roots sebagai sebuah "kebencian etnis - yang menjual kritik" dan "fiksi yang berlebihan."

Kadang kala sumber sebuah cerita koran akan menyatakan penilaian, dan penting sekali bagi seorang jurnalis yang waspada untuk menentang hal itu.

Selama beberapa acara bedah buku di Texas, kritik seorang feminis terhadap seksisme di dalam buku berbunyi demikian, "Tahun ini terdapat beberapa buku yang sangat kami sukai, dan banyak buku - buku jelek."

Kemudian yang mewawancarai bertanya, "Yang bagaimanakah buku jelek tersebut?" Dia langsung menjawab: "Buku yang jelek adalah yang menunjukkan 75 persen atau lebih peran pria di dunia kerja."

Hal ini menyimpangkan wawancara dari bidang penilaian menjadi bidang laporan.Seorang jurnalis bisa berbuat banyak agar objektif dengan menghapuskan inferensi dan penilaian dan tetap sebisa mungkin mengacu pada laporan. Meski demikian, hal itu sendiri tidak menjamin objektivitas.

Sumber:

Severin, Werner J. & James W. Tankard, Jr. 2001. Communication Theorie: Origins, Methods, & Uses in the Mass Media. Addison Wesley Longman, Inc.

Rabu, 23 September 2020

Mengapa Orang Masih Enggan Mencuci Tangan?

 


Tahun 1999 - dalam buku best sellernya, Why Men Don't Listen & Women Can't Read Maps  -- Barbara dan Allan Pease menulis, pria dan wanita berbeda. Tapi bukan berarti pria lebih baik dari wanita atau sebaliknya. Seperti bilangan data nominal, mereka berbeda saja, tidak lebih baik atau lebih buruk.

Satu-satunya kesamaan yang mereka miliki adalah bahwa mereka termasuk spesies yang sama. Mereka hidup di dunia yang berbeda, dengan nilai yang berbeda dan mengikuti seperangkat aturan yang sangat berbeda.

Semua orang tahu ini, meski sangat sedikit orang, terutama pria, yang mau mengakuinya. Namun, kebenarannya ada. Lihatlah buktinya. Di negara-negara Barat, sekitar 50% pernikahan berakhir dengan perceraian. Sementara hubungan paling serius berhenti menjadi jangka panjang.

Pria dan wanita dari setiap budaya, keyakinan dan warna kulit terus-menerus berdebat tentang pendapat, perilaku, sikap, dan kepercayaan pasangan mereka. Tidak percaya? Coba kalau ada lelaki yang ditanya pasangan lawan jenis, “apakah menurutmu saya cantik?” Dijamin kaum lelaki bingung menjawabnya.

Produsen produk higienis kamar kecil dari Eropa – masih menurut buku itu -- melakukan survei terhadap 100.000 (bukan salah ketik) pria dan wanita. Dalam survey itu ditanyakan tentang apakah mereka mencuci tangan setelah menggunakan kamar mandi.

Studi ini menemukan bahwa 60 persen wanita dan 38 persen pria mencuci tangan setelah menggunakan kamar kecil. Untuk sesi ini, secara keseluruhan wanita jauh lebih baik. Sebuah survei yang dilakukan Tim dari Michigan State University 2013 juga mengungkapkan temuan serupa: Persentase perempuan yang mencuci tangan lebih tinggi.

Selesai? Belum karena masih ada ruang untuk melihat kegiatan mencuci tangan di toilet tersebut dan ini bisa jadi merupakan berita bagus bagi germophobes. Beberapa waktu kemudian, American Society for Microbiology melakukan penelitian di empat kota besar di enam tempat wisata. Masih tentang kegiatan mencuci tangan di toilet.

Hasil penelitian itu memberikan gambaran yang menarik. Rupanya, kegiatan mencuci tangan di toilet itu bukan karena mereka memang merasa harus mencuci tangan. Mereka terdorong untuk mencuci tangan karena kehadiran orang di toilet itu.

Dengan kata kalau tidak ada orang lain di dalam toilet umum itu, mereka jarang mencuci tangan. Penelitian yang dilakukan dengan pengamatan rahasia itu mendapati, 90 persen wanita dan 75 persen pria mencuci tangan ketika orang lain berada di dekat mereka di toilet umum.

Pada tahun 2009, sebuah Tim dari Macquarie University, Australia, meneliti kegiatan mencuci tangan di toilet pada beberapa siswa. Setelah menanyakan mereka tentang kebiasaan mencuci tangan saat ini dan kepekaan terhadap rasa jijik, mereka diminta untuk menonton salah satu dari tiga video: video pendidikan biasa (maksudnya tidak ada visual yang menjijikan),  satu dengan visual yang menjijikkan dan kontrol - klip dari dokumentasi lain tentang alam yang tidak relevan.

Sekitar seminggu kemudian, para siswa diundang kembali, dan duduk di meja. Di dekat mereka diletakkan tisu antibakteri dan gel tangan alkohol. Sementara di depannya, digelar beberapa benda yang sangat tidak higienis -- mulai dari pemukul lalat kotor hingga sikat toilet bekas. Usai memegang setiap benda, mereka diminta untuk makan kerupuk dari piring. Apakah mereka menggunakan disinfektan  untuk mencuci tangan mereka sebelum menyentuh makanan?

Seperti yang diperkirakan, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang telah menonton video dan merasa jijik jauh lebih mungkin untuk membersihkan tangan mereka daripada orang-orang dari kelompok lain yang tidak menonton video tentang kejijikan. Mereka yang menggunakan disinfektan sebelum makan, jumlahnya lebih banyak dari yang tidak menggunakan.

Masih belum puas, tim yang sama melakukan studi lanjutan. Mereka mengadakan penelitian lain.  Dengan diam-diam memantau pencucian tangan orang-orang di beberapa kamar mandi. Mereka menemukan bahwa orang-orang secara signifikan lebih termotivasi untuk melakukannya ketika mereka diingatkan oleh poster-poster yang menggambarkan feses di atas roti gulungnya. Tujuan poster itu - untuk menunjukkan bagaimana kuman menyebar jika Anda tidak mencuci tangan - sebagai kebalikannya. untuk yang murni mendidik.

Apa implikasi dari hasil penelitin-penelitian ini? Dalam komunikasi, untuk membujuk orang mengubah perilakunya, mereka harus diubah dulu persepsi dan sikapnya. Dalam konteks mencuci tangan, yang diubah adalah pandangannya terhadap pentingnya mencuci tangan.

Bagaimana caranya? Ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama adalah menakut-nakuti mereka bila tidak mencuci tangan. Yang kedua, adalah menggunakan pihak ketiga untuk membujuknya. Dua pemikiran itu lalu digunakan oleh beberapa lembaga untuk kampanye pencegahan penyebaran virus dengan menempel poster-poster di beberapa sudut, terutama di toilet.

      



Kamis, 17 September 2020

SLIDING PRICE SYSTEM

 


Pak Tantra, 59 Tahun, sudah sekitar 20 tahun berdagang sayuran dan bumbu di kios lantai dasar Pasar Bogor. Dua hari sekali atau tiga sampai empat kali seminggu Pak Tantra berbelanja (kulakan) barang dagangannya.

Biasanya Pak Trantra kulakan sayuran, cabe, bawang, tomat, kentang dan sebagainya di Pasar Induk Kemang Bogor. Volume belanjaannya yang besar membuat Pak Tantra menggunakan mobil pick-up bila kulakan.

Selain itu, Pak Tantra juga membeli barang untuk dijual lagi pada pedagang grosir yang biasa datang atau jualan di Pasar Bogor. Barang yang dibeli dari pedagang grosir ini biasanya cuma satu macam karena untuk memenuhi permintaan dari pembeli yang kebetulan saat itu Pak Tantra kehabisan barang. Misalnya bila ada pembeli yang membutuhkan sayur bayam, 

Pak Tantra membeli sayur bayam tadi ke pedagang grosir sebanyak 20-30 kg. Para pedagang grosir ini iasanya menggunakan mobil pick-up juga. “Jadi biasanya dia juga jualan disini dan pedagang lain beli dari dia. Jadi dianggap sebagai grosir nya gitu,” kata Pak Tantra.

Untuk kulakan tadi, rata-rata dalam seminggu Pak Tantra menghabiskan dana antara Rp 7,5-Rp 10 juta. Jumlahnya tergantung pada stok dan harga. Menurut Pak Tantra, karena harga sayuran itu tidak menentu, jumlah uang yang dibelanjakan juga beragam. 

Misalnya, lima hari lalu Pak Tantra bisa menjual tomat dengan harga Rp 5.000/Kg, sekarang (saat wawancara dilakukan, 5 November 2016) harga beli dari pedagang di Pasar Induk Rp 12.000/Kg. Jadi uang yang dibelanjakan juga berbeda dari minggu sebelumnya.

Demikian pula, bila pada tiga hari sebelumnya harga cabe dar ipedagang grosir Rp 28.000/kg, tiga hari berikutnya menjadi Rp 55.000/kg. Jadi modal kerja bervariasi antara Rp 7,5 juta hingga Rp 10 juta, tergantung harga barang. “Karena biasanya nyetok seperti bawang untuk 2 hari. 

Namun ya itu biasanya emang sengaja beli barang yang biar 2 hari habis, karena kan liat ketahanan barang juga ya, biasanya emang mau nya yang habis dalam jangka pendek, biar gausah mikir apa-apa lagi. Dan kalau harga nya lagi mahal gini, walaupun jualnya kuantatifnya lebih sedikit, tapi omsetnya lebih besar karena harganya lebih mahal.”

Jadi apa yang ingin dicapai Pak Tantra? “Jangan sampai pelanggan saya kecewa karena barang yang mereka butuhkan tidak tersedia. Mereka datang ke tempat saya dari rumahnya dengan harapan barang yang mereka butuhkan ada di tempat saya. Alangkah kecewanya bila mereka mendapati barang yang mereka butuhkan itu tidak ada. Mereka kecewa dan berusaha lagi yang mungkin tidak bisa didapatkan saat mereka berjalan dua atau lima meter dari tempat saya.”

“Kalau mereka kecewa saya berdosa. Karenanya saya berusaha mencarikan baran yang dibutuhkannya, meski keuntungan yang saya dapatkan tipis atau tidak ada sekali karna saya mendapatkannya dari orang lain yang juga ingin mengambil untung. Biarlah keuntungan didapat dari pembeli lainnya. Toh, rezeki sudah digariskan oleh yang diatas.”

Dalam lingungan pasar tadisional, persaingan yang terjadi bukan antara penjual dengan penjual sebagaimana dalam perekonomian firma, melainkan antara pembeli dan penjual. Menurut Geertz (1992:33) di pasar tradisional berlaku sistem harga luncur (sliding price system) untuk membedakan antara ekonomi pasar dan ekonomi firma.

Konsep firma dalam Geertz ditandai dengan tempat permanen, hari kerja yang penuh, harga yang agak lebih pasti sehingga jarang terjadi tawar menawar, penyesuaian barang dengan selera kekotaan, pegawai toko yang tetap, perencanaan berdasarkan tata buku yang sistematis dan semuanya ditujukan untuk mencapai tujuan jangka panjang, agresif mencari pelanggan, dan sebagainya.

Dengan sistem harga luncur, persaingan bukan antara pedagang dengan pedagang melainkan antara pedagang yang ingin mendapat keuntungan yang besar dengan pembeli yang ingin mendapatkan harga murah. Tak ada upaya pedagang pasar untuk “menarik” pengunjung pasar untuk mampir ke tokonya. Di sisi lain tak ada upaya menata barang sedemikian sehingga membuat pengunjung pasar menghampiri kios atau lapaknya.

Dalam berbisnis ada dua prinsip yang dipegang pedagang. Pertama, pedagang berkeyakinan bahwa rezeki sudah ada yang mengatur, berserah saja sama yang di atas. Kedua, pedagang tidak terlalu memikirkan soal bersaing dengan sesame pedagang. Yang berjualan sayur misalnya, jumlahnya banyak. Tetapi, dalam pandangan pedagang, semua pedagang di pasar tersebut adalah kawan dan teman dekat.

Yang pedagang pasar lakukan untuk menarik pengunjung hanya menyebut barang yang dia jual. Atau sekadar menanyakan kebutuhan mereka. Pedagang tidak terlalu berfokus dalam menarik pelanggan. Ketika ada pelanggan yang datang menghampiri lapak atau kiosnya, pedagang bersikap ramah dalam memperlakukan pelanggannya. Apabila pembeli datang mencari sayuran misalnya, pedagang langsung melayani.

Agar pembeli senang, pedagang sesekali menurunkan harga sedikit dan memberi bonus sayuran yg dibeli. Dalam aanggapan pedagang, tak ada persaingan harga. Yang ada adalah persaingan dalam melakukan layanan. “Sebenarnnya harga itu rata – rata di pasar ini sama aja, mungkin tergantung dari pembeli melihat dari kebersihan atau keramahan si penjualnya,” kata Andi, 21 tahun, pedagang sayuran di Pasar Kranggan Mas Kota, Bekasi.

Sistem ini tidak memungkinkan salah satu pihak mendapat keuntungan yang luar biasa sehingga terjadi eksploitasi keuntungan yang terlalu besar, karena perdagangan dalam pasar tradisonal tidak memungkinkan terjadinya monopoli.

Di pasar tradisional, tempatnya pedagang saling berdekatan dan menjual produk yang sama. Namun demikian antara satu sama lain terdapat tenggang rasa untuk tidak saling berebut pelanggan. Ada kebijaksanaan dan perasaan malu bila di antara mereka terjadi persaingan berebut konsumen atau pembeli. Mereka tidak ingin merebut pelanggan dari pedagang lainnya.

Tidak adanya persaingan diantara sesama penjual ini juga nampak bahwa sebelum sampai ke pasar barang tersebut bisa jadi sudah berputar di tangan beberapa bakul. Bahkan jika ada pembeli menanyakan barang yang sebenarnya tidak dia miliki, dapat saja dia “meminjam” barang dagangan pada sesama pedagang.

Proses “barter” ini tidak diawali dengan pertanyaan soal harga. Tak ada tawar menawar diantara sesama pedagang. Bila laku baru diberi sejumlah harga tertentu dengan menambahkan dengan sedikit keuntungan yang diperolehnya. Pernah ribut? Tidak, kata Andi. Karena biasanya, harga jual pedagang ke pedagang lain lebih rendah dari pedagang ke pembeli. “Harganya memang berbeda dengan pembeli. Biasanya yang ditawarkan lebih murah.”

Selain itu, ada mekanisme lain yang secara tak nampak mengatur bagaimana pedagang pasar bersang,  yakni rendahnya entry barrier dalam pasar tradisional. Sebab bagaimana pun, sebagai lembaga ekonomi kerakyatan, tak ada yang bisa membatasi keluar masuknya pedagang untuk melakukan aktivitas bisnisnya di pasar.

Kemudahan masuk ke dalam bidang perdagangan ini sekaligus dapat menjamin yang bersangkutan, bahwa tidak ada yang mengambil keuntungan yang luar biasa (Dewey, 1992:96) karena dalam pasar tidak bisa diciptakan monopoli atas jenis barang tertentu.

Seperti yang dikatakan Geertz (1992) kegiatan ekonomi yang berlangsung di pasar tradisional diwarnai oleh nuansa kultural yang menekankan pentingnya tatap muka dalam kaitan dengan hubungan personal antara penjual dan pembeli. Hal ini ditunjukkan oleh adanya pelanggan yang loyal pada pedagang tertentu. Deden, pedagang di Pasar Blok B Bogor misalnya memiliki pelanggan tetap dari luar kota yang membeli produk dalam jumlah besar hampir setiap bulan.

Adanya pelanggan di satu sisi merupakan sesuatu yang positif karena mereka memiliki pembeli tetap sehingga merupakan satu bagian dari jaminan kelangsungan usaha, tapi di sisi lain hal ini berdampak negatif karena pedagang enggan untuk menambah jumlah pembelinya. Deden, misalnya, enggan untuk membujuk pengunjung yang lewat di depan kiosnya untuk mampir atau melihat-melihat barang dagangannya. “Saya sih paling ya di sini aja nawarin ke pelanggan yang lewat,” katanya.

Pasar sebagai komunikasi antar budaya bisa diartikan sebagai tempat terjadinya interaksi orang dari beragam etnis. Mereka berkumpul, bertatap muka secara langsung, dan berinterkasi antar orang-orang yang berbeda latar belakang etnis dan budaya. Seperti pasar di Bogor, pedagang bukan hanya dari etnis Sunda, ada juga Jawa, Batak, Minang, Tionghoa dan sebagainya.

Keakraban mereka terjaga sehingga diantara mereka tidak terjadi persaingan yang tidak wajar. Di pasar tradisional terdapat aturan tidak tertulis yang menabukan pedagang satu menjelek-jelekan pedagang lainnya. Ada keyakinan bahwa rejeki pedagang sudah ada jatahnya sehingga mereka tidak merebut pelanggan kios lainnya. “….. misalnya meskipun toko lain lebih ramai yang penting percaya rejeki sudah ada yang mengatur, alhamdulillah tidak pernah ada yang berantem,” kata De.

“Bersaing, bersaing sehat tergantung hubungan kita dengan orang daerah, tidak ada oh.. disitu barangnya bagus, gak boleh orang berdagang berkata seperti itu. Saya berani jual 120.000/kodi sana murah pak barang kali disitu kamu bisa beli coba, jadi kita gak boleh menjelek - jelekan yang namanya dagang,senang silahkan gak senang diam, jangan di banding - bandingkan begitu,” kata Bus, 42 tahun, pedagang sepatu di kios Blok B.