Senin, 17 Mei 2021

TERTAWA



Beberapa kali saya mengalami kesulitan untuk tertawa ketika membaca lelucon sendirian di rumah. Akan tetapi, ketika saya mendengar lelucon pada saat bersama-sama teman, saya berteriak keras dengan tawa yang tak terbendung. Ternyata tertawa memiliki fungsi sosial yang penting; itulah cara untuk menjalin hubungan.

Tahun 1992, Robert Provine – ilmuwan University of Maryland Baltimore County, Baltimore, Maryland – melakukan penelitian tentang rangsangan tertawa dengan mewawancarai 128 mahasiswa peserta program sarjana psikologi. Dia ingin melihat potensi tertawa membuay orang lain tertawa dengan mengamati tanggapan dari 128 subjek di tiga kelas psikologi sarjana.  

Subjek mencatat – dari 10 kali percobaan -- apakah mereka tertawa dan atau tersenyum masing-masing sample tertawa selama 18 detik, dan diikuti dengan diam selama 42 detik. 

Sebagian besar subjek tertawa dan tersenyum menanggapi presentasi – yang dianggap – lucu pada sesi pertama. Namun, polaritas responsnya berubah dengan cepat. Pada percobaan ke-10, beberapa subjek tertawa dan / atau tersenyum, dan sebagian besar menganggap stimulus itu "menjengkelkan".

Meskipun penelitian lain telah mendeskripsikan efek tawa, dia tidak mempertimbangkan hipotesis yang terkonfirmasi, bahwa tertawa membangkitkan tertawa. Menurut Provine, hanya 15% dari tawa kita yang berasal dari hiburan lelucon!  Mungkin mekanismenya adalah dengan teraktivakannya detektor fitur pendengaran khusus tawa.

Hasil ini relevan dengan dasar neurologis komunikasi sosial, etologi manusia, dan teori produksi dan persepsi bicara.

Dalam konteks pemasaran atau komunikasi pemasaran, perusahaan atau pengelola metek sering memanfaatkan stimulus yang dapat membuat orang tertawa atau tersenyum. Mereka menggunakan iklan lucu. 

Kenapa? Humor dapat menjelaskan subjek atau situasi sekaligus menciptakan rasa pengalaman dan pemahaman bersama. Ini bisa menjadi cara yang efektif bagi merek untuk terlibat dengan orang-orang individu sambil menjangkau khalayak yang luas.

Cara ini sering dilakukan oleh sejumlah merek besar, termasuk Spotify, Burger King, KFC, Irn-Bru, dan Virgin Trains. Misalnya, sebagai bagian dari kampanye akhir tahun, Spotify memanfaatkan data pendengar sebagai inspirasi untuk kampanye iklan bernama, 'Wrapped'.

Ini termasuk iklan yang mengolok-olok pengguna karena menyusun playlist seperti 'I love gingers' dengan 48 lagu Ed Sheeran di dalamnya, dan bahkan mengajak satu pengguna untuk memutar 'Sorry' sebanyak 42 kali di Hari Valentine.

Kampanye itu diterima dengan sangat baik oleh konsumen. Informasi ini sekaligus memberikan gambaran bahwa ketika merek menangani data pelanggan dengan cara yang lucu, hal itu tidak perlu dilihat sebagai gangguan.

Contoh bagus lainnya adalah restoran ayam siap santap, KFC. Tahun 2018, rantai makanan cepat saji menghadapi kekurangan ayam di seluruh negeri. Gara-garanya, KFC ganti pemasok, yang menyebabkan penutupan toko. Ini tentu saja mendapat reaksi keras dari pelanggan di media sosial.

Menanggapi situasi tersebut, merek memutuskan untuk melakukan permainan cerdas pada tulisan KFC dalam kampanye iklan online. Mereka mencap ember ayam populer mereka dengan 'FCK' sebagai permintaan maaf atas kesalahan mereka. Iklan tersebut menjadi viral di media sosial, membuktikan bahwa penanganan bencana PR yang cerdik dan lucu dapat menyembuhkan sejumlah masalah untuk bisnis.

Jadi? Humor adalah cara yang bagus untuk terhubung dengan orang - tidak ada yang lebih menggembirakan daripada berbagi tawa dengan seseorang. Faktanya, orang memang lebih cenderung bersikap hangat kepada Anda jika Anda bisa membuat mereka tertawa. Artinya, memasukkan humor ke dalam strategi pemasaran Anda, sering kali merupakan cara yang pasti untuk menghasilkan asosiasi merek yang positif. 





Sabtu, 08 Mei 2021

TORIQ HADAD

 


Innalillahiwainnailaihirojiun. Sabtu (8 Mei 2021) seorang teman nge-WA mengabarkan kepulangan sahabat saya Toriq Hadad. Saya juga pasti menyusulnya, entah kapan hanya Allah yang tahu.

Pagi ini (9 Mei 2021) saya membuka kembali chat WA saya dengan Toriq. Saya mencoba mengkilas balik percakapan saya dengan Toriq sambil mengenang masa lalu.

Toriq angkatan 16 (masuk tahun 1979) IPB. Saya angkatan 17 (masuk tahun 1980). Waktu mahasiswa dia jualan majalah Tempo di kampus IPB Baranasngiang, Bogor. Dia pehobbi sepakbola. Perkenalan saya dengan Toriq saat sama-sama KKN di Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara tahun 1983. Saat KKN kami pernah satu Tim sepakbola melawan Tim Muspika yang sebagian besar anggotanya adalah personel Koramil. Kami dicukur habis dg skor 8:0..

Setelah lulus, kami sama-sama memilih jadi wartawan. Saya masuk koran Jawa Pos tahun 1985, Toriq bergabung dengan Tempo tahun 1984. Tahun 1987an Troriq menjadi Kabiro Tempo Jawa Timur. Kalau nggak salah waktu itu kantor Tempo Biro Jawa Timur di Kembang Jepun menempati sebuah ruangan di gedung Jawa Pos Kembang Jepun. Tapi saya nggak sempat ketemu Toriq karena tahun 1986 saya dipindah ke Jakarta. Saya cuma 6 bulan di Surabaya.

Lama tidak ketemu sampai saya kerja ke Harian Berita Buana dan selanjutnya ke Republika. Ketemu Toriq justru pas ada demo protes pembredelan tiga media, Majalah Tempo, Tabloid Detik, dan Majalah Editor di Monas.

Kami sempat beda jalan sewaktu pembredelan Majalah Tempo. Toriq di Majalah Tempo yang dibredel karena pembelian kapal perang ex Jerman. Saya di Republika (koran ICMI yang identik dg Habibie). Waktu ketemu di Monas (demo pembredelan), Toriq nanya, "Ed gimana?" (Maksudnya ceritanya versi Republika).

Saya bilang, "Saya juga heran. Yang memberitakan pertama kali kan Republika."...

Pemberitaan di Republika itu isinya tentang palka salah satu kapal yang pecah terhempas ombak dalam perjalanan dari Jerman Timur ke Indonesia. Saya lupa di perairan mana persisnya. Republika menurunkan berita itu mengutip kantor berita Reuter. Cukup panjang perdebatan apakah Republika menurunkan berita itu atau tidak. Pimpinan Republika nggak berani memutuskan (kejadian sama saat memberitakan tokoh Petisi 50 yang diundang Habibie ke IPTN).

Saya selaku Redaktur Pelaksana penanggungjawab halaman satu bersikukuh memberitakan. Alasan saya, karena beritanya dari Reuters, koran2 lain pasti memberitakannya. Jadi sangat lucu kalau Republika tidak memberitakan. Akhirnya berita itu dimuat di halaman satu tapi cuma satu kolom. Besoknya ternyata tak ada satupun koran yang memberitakannya..

Alhamdulillah, beberapa tahun terakhir komunikasi – meski jarang ketemu – akrab. Kami sama-sama ada dalam WAG jurnalis alumni IPB. Tahun 2015an, Toriq saya undang FGD tentang Papua di CARE IPB dan hadir.

Sejak itu kami makin akrab. Atas bantuan Toriq saya bisa membawa mahasiswa PR UI – kebetulan saya ngajar disana – jalan-jalan ke Tempo, meski Toriq sendiri tak bisa menemani. Tapi saat itu ada Mas Zulkifli, Pemred Majalah Tempo merangkap Direkur Pemberitaan, Elik Susanto, Redpel Koran Tempo dan Meiky Sofyansya, Direktur Marketing Tempo.

Beberapa masalah sering kami diskusikan melalui WA. Dia sering mengingatkan saya. Tahun lalu, dia saya minta mengsi kelas PR saya di FISIP UI, namun dia sibuk. “Nanti deh klo waktunya memungkinkan. Sekarang masih padat,” katanya.

Pertengahan Februari 2021 lalu, tiba-tiba ngeWA saya menanyakan tentang program S3 IPB. “Dengar2 lagi ambil doktor di ipb ya?”

Rupanya dia tertarik untuk sekolah lagi. Tapi saya nggak tahu apakah dia jadi mendaftar atau tidak.

Pertegahan Desember 2020, kami sama-sama hadir via Zoom di acara mengenang Mas Daru Priyambodo yang pernah menjadi Pemimin Redaksi Koran Tempo. Saat itu Toriq yang memimpin acara memberi kesempatan kepada saya untuk memberikan testimoni tentang kebaikan Mas Daru.

Seperti diketahui, sebelum bergabung ke Kelompok Media Tempo, Daru adalah warawan Hara Republika. Saat sebagai Redaktur Pelaksana Republika, Daru Priyambodo merupakan salah satu redaktur (opini) Republika. Sebelumnya kam bergabung di Harian Berita Buana. Saat di Berita Buana itu, saya dan Daru bikin heboh karena pemberitaan Tiimor Timur di rubric Dialog yang Daru asuh. Gara-gara itu pula – mungkin salah satu pemicu -- kongsi Sutrisno Bachir (belakangan Ketua Umum Partai PAN) dan pemilik lama Harian Berita Buana bubar.

11 April lalu, kami ngobrol lagi soal Laporan Utama Majalah Tempo investigasi praktek jual beli jabatan di sebuah kementrian. Kebetulan ada teman yang menjadi korban praktek itu. Cukup panjang ngobrolnya meski via WA.

Setelah itu kami tak berkabar. Baru beberapa hari lalu, seorang teman ex Republika yang kini bekerja di Tempo mengabarkan kalau Toriq dirawat di ICU Rumah Sakit Pondok Indah.  

NB dari Prof Radjab Ritonga: Kapal yang dimaksud adalah KRI Teluk Lampung, nyaris karam di Teluk Biscay, Atlantik Utara. ABK diselamatkan helikopter tim SAR Spanyol. Kapal bisa diselamatkan dan dievakuasi ke Malaga. Komandan kapalnya, Letkol Laut (P) Tedjo Edhy Purdjijatno, kelak menjadi Kasal dan Menkopolhukamnya Jokowi.



Rabu, 17 Februari 2021

GENERATION GAPS - BAGAIAMANA MEMAHAMI DAN MENANGANI MEREKA

 



Di hampir setiap tempat kerja yang mempekerjakan banyak orang, perbedaan generasi menghadirkan beberapa tantangan. Perbedaan ini sama pentingnya dengan ketika Anda memutuskan mencari nafkah apakah sebagai tenaga kerja lepas, kontrak atau tetap. 

Generalisasi menyeluruh tentang karakter seseorang atau generasi berdasarkan kapan orang dilahirkan mungkin bias, dan tentu saja Anda tidak ingin membuat stereotip.

Tapi kita semua dibentuk oleh budaya dan peristiwa di masa seseorang tumbuh menjadi dewasa. Keyakinan, gaya komunikasi dan pengambilan keputusan, pola interaksi, dan harapan bisa saling bertentangan antara seseorang dan orang lainnya. 

Kesalahpahaman bisa berkembang. Namun demikian, berapapun kelompok usia Anda, Anda akan mendapat manfaat dari mempraktikkan empati terhadap  kelompok yang lain. 

Disinilah pentingnya kita mendapatkan informasi – meski bisa jadi tidak harus demikian – melalui pengamatan sehingga Anda menemukan cara untuk membuat orang-orang dalam kehidupan kerja sehingga Anda bahagia tanpa harus mengorbankan nilai-nilai Anda sendiri.

Generasi Baby Boom (lahir 1946 hingga 1964) sering kali sangat kompetitif dan mendefinisikan diri mereka melalui pencapaian. Banyak diantara generasi baby boomer yang gila kerja. 

Meskipun Boomers ingin mengubah dunia dan berjuang untuk perubahan (hak-hak sipil, peran perempuan), secara keseluruhan mereka menghormati otoritas, loyalitas, posisi, dan kerja keras yang menciptakan kemajuan ke atas. 

Mereka ingin anak-anak muda saat ini maju dengan cara yang sama: mendapatkan penghargaan (dan kepercayaan diri) secara bertahap dari waktu ke waktu.

Gaya komunikasi: Suka kontak langsung dan bagus dalam konfrontasi; sering mengadakan pertemuan; bertelepon, email dan informasi rinci; memperoleh informasi umum dari surat kabar dan televisi; banyak yang menggunakan Facebook, LinkedIn dan Twitter, yang lainnya tidak menyukai semua atau sebagian.

Bereaksi buruk terhadap: Orang yang lebih muda dianggap kurang hormat, tingkat komitmen rendah, ekspektasi akan kemajuan yang cepat, kebutuhan untuk sering dibimbing, kesombongan tentang keterampilan teknologi superior mereka sendiri dan penulisan yang ceroboh!

Bereaksi dengan baik terhadap: Sikap bisa melakukan, kemauan untuk bekerja keras dan mengatasi hambatan, menghormati prestasi dan pengetahuan mereka dan pesan yang terencana dan terbukti.

Generasi X (lahir 1965 hingga 1980) adalah generasi yang relatif kecil yang benar-benar berada di tengah. Mereka sering kali adalah manajer menengah dan harus menerjemahkan antara orang yang mereka laporkan dan yang melapor kepada mereka. Mereka pekerja keras, individualistis, berkomitmen untuk berubah dan mencari keseimbangan hidup. Mereka menghargai peluang untuk membangun keterampilan.

Gaya komunikasi: Bergantung pada email, sebaiknya singkat dan efisien; lebih suka melewatkan rapat; nyaman dengan teknologi baru dan media sosial (terutama Facebook) dalam berbagai tingkatan, tetapi tanpa antusiasme penuh dari orang-orang yang lebih muda; merujuk ke televisi dan pada tingkat yang lebih rendah, surat kabar, untuk informasi.

Bereaksi buruk terhadap: Manajer otokratis, tidak menghargai; suasana hak dari bawahan dan kebutuhan bawahan untuk perhatian terus-menerus, dorongan dan pengawasan dan keengganan untuk bekerja ekstra dan beradaptasi dengan kebutuhan tempat kerja; ketidaksabaran; Keyakinan "tidak diterima".

Bereaksi dengan baik terhadap: Banyak akal, kemandirian, rasa tanggung jawab, perhatian terhadap detail, kemauan untuk mengambil tugas yang "tidak menarik", komunikasi yang baik.

Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) (lahir 1981 hingga 1996) termasuk dalam generasi yang sangat besar dan kuat menghadapi persaingan tetapi peluang yang lebih sedikit. Mereka sangat sosial dan berpikiran komunal, lebih suka bekerja dalam tim dan berhubungan dekat dengan semua orang di dalam dan di luar kantor. 

Mereka menginginkan tanggung jawab – sesegera mungkin - plus pendampingan intensif. Mereka berharap bisa menghabiskan karir mereka dengan terus menerus mencari pekerjaan baru dan bereksperimen dengan sumber pendapatan lain. 

Mereka tidak materialistis dan biasanya segera meninggalkan pekerjaannya bila sudah merasa tidak sreg dan terlibat, bahkan ketika tidak ada pekerjaan lain yang terlihat. Memberikan nilai tinggi untuk pengalaman aktif, inklusivitas, dan toleransi.

Gaya komunikasi: Digital sepenuhnya; lebih suka berinteraksi melalui SMS, pesan instan, dan media sosial, terutama Facebook; menarik berita dan informasi dari Internet; menggunakan email hanya jika diperlukan; tidak antusias dengan kontak telepon, rapat, dan konfrontasi.

Bereaksi buruk terhadap: Kurangnya rasa hormat; dorongan, penghargaan atau inklusi yang tidak memadai; tidak diberi alasan untuk tugas; tidak diakomodasi dalam preferensi gaya hidup; diharuskan bekerja dengan teknologi lama.

Bereaksi dengan baik terhadap: Pelatihan, peluang untuk belajar dan tumbuh, kesadaran akan tujuan, dihargai, penjelasan, pengalaman baru, komunikasi terus-menerus, kerja sama, peluang untuk bekerja dengan orang-orang kreatif cerdas lainnya, penghargaan cepat dan wawasan ke dalam gambaran besar.

Generasi Z (lahir 1997 hingga 2010) mungkin akan dikenal sebagai Generasi yang Tergelincir. Ini dikarenakan sebagian besar dari mereka, ekspektasi karir dan renacanya ke depannya berubah karena , pandemi virus Corona pada tahun 2020. Mereka adalah generasi yang paling beragam. Banyak diantara generasi ini yang teguh memegang prinsip progresif dan berpendidikan tinggi; menghindari risiko; pragmatis; nilai-nilai didorong terutama dalam hal kesempatan yang sama dan lingkungan. Rentang perhatiannya pendek.

Gaya komunikasi: Ini adalah "digital native sejati" pertama dan menggunakan ponsel cerdas mereka untuk semua informasi, hiburan, dan komunikasi, tetapi hindari panggilan telepon. Kumpulkan berita dari Twitter dan saluran online lainnya. Gunakan berbagai platform sosial dan suka media kreatif dan singkat seperti Snapchat dan Instagram. Preferensi kuat untuk video. Sangat dipengaruhi oleh rekan-rekan mereka.

Bereaksi buruk terhadap: Kurangnya kejujuran dan transparansi, diabaikan dalam pengambilan keputusan, tidak dihormati pendapatnya.

Bereaksi dengan baik terhadap: Waktu tatap muka dan umpan balik yang teratur, komunikasi singkat, penggunaan video, diperlakukan sebagai kontributor.

Sumber:

Canovar, Natalie. 2021. Business Writing For Dummies®, 3rd Edition. New Jersey:  John Wiley & Sons.

Selasa, 19 Januari 2021

STATPHOBIA

 


Pemerintah negara tiran paling takut sama statistik. Dulu, sebelum pemerintah Gorbachev, orang Rusia tidak pernah menggunakan statistik politik untuk menggambarkan kesengsaraan sejarah mereka. Mereka takut publik mengetahui realitas yang ditampilkan dengan angka-angka statistik. Mereka khawatir atau takut orang lebih mempercayai tampilan data statistik ketimbang narasi omongan.

Selama 1920-an hingga 1980-an, menurut Profesor Harvard, Gary King - ilmuwan di AS pertama yang mulai menggunakan statistik politik -- Uni Soviet memblokir akses pembelajaran dan data statistik yang diterbitkan lembaga-lembaga internasional. 

Alergi pemimpin-pemimpin Uni Sovyet terhadap statistik sunggu luar biasa namun mereka menikmatinya. Satu sisi rezim Uni Sovyet membenci statistik, tapi di sisi lain mereka sering menggunakan statistik sebagai alat propaganda. Pelpornya adalah Stalin. Pemimpin Uni Sovyet itu yang pertama menggunakan  statistik untuk propaganda mengelabui rakyatnya. 

Dia sering memalsukan angka statistik nasional. Misalnya, dia menutupi kematian sekitar sembilan juta orang akibat penindasan yang dilakukan rezimnya. Dia juga menyembunyikan tingkat bunuh diri serta penahanan yang jumlah sangat tinggi selama pemerintahannya. Lebih buruk lagi, rezim Stalin sangat tidak menyukai dan melarang orang-orang dan setiap usaha seseorang mengumpulkan statistik.  Pemerintah Tirai Besi itu mencegah ilmuwan politik mereka mengakses sumber daya statistik yang keluarkan pihak asing, terutama yang menyangkut data tentang negerinya.

Di akhir tahun 80-an, liberalisasi Gorbachev membawa angn segar bagi statistik. Untuk pertama kalinya, Uni Sovyet di bawah kepemimpinan Gorbachev lebih sering menggunakan statistik politik. Namun, periode di mana statistik dapat dipopulerkan tidak berjalan lama. 11 tahun kemudian, Vladimir Putin menjadi Presiden Rusia dan dia mengecam keras penggunaan statistik, terutama di media massa.

Nuansa itu diciptakan untuk mendukung propaganda. Masyarakat dibuat tidak melek statistik. Publik berusaha dijauhkan dan dibuat tidak peduli dengan metode analisis statistik. Disini Putin mendapat banyak mendapat manfaat. Antara lain, ketika Rusia menganeksasi Krimea. Untuk membela keputusannya, Putin tak perlu menjelaskan dengan data statistik soal alasan penyerbuan ke Krimea itu.  Argumen pembelaannya, cukup dia sampaikan dengan menggunakan cerita sejarah dan sastra, rakyat Rusia pun memakluminya dan diam.

Para jurnalis Rusia juga terjebak dalam nuansa itu. Saat memaparkan peristiwa aneksasi itu, wartawan hanya menyinggung soal moralitas, kebanggaan bangsa, dan sejarah. Misalnya, ada seorang komentator yang berkata, “Kami layak mendapatkan Krimea; Kami adalah sebuah kerajaan dan secara historis kami berhak memilikinya," atau "Anda lihat, Tolstoy, Pushkin, Mayakovsky, menulis tentang Krimea sebagai wilayah Rusia. "

Padahal, beberapa statistik relevan yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk mempengaruhi keputusan politik, misalnya apakah aneksasi mempunyai motif ekonomi atau ambisi geografis. Sebab bagaimanapun saat itu ekonomi Rusia sedag kendor.  Pada 2014, PDB per kapita Rusia turun dari 14.125 menjadi 9.325, sementara tingkat kemiskinan meningkat dari 11,2 persen menjadi 13,3 persen hanya dalam satu tahun. Data statistik ini sepenuhnya diabaikan.

 


Sabtu, 16 Januari 2021

TUKANG

 

  Ilustrasi: https://www.percetakanmurahsenyum.com/2020/09/lebih-dekat-dengan-alat-pembuat-stempel.html  

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tukang merujuk pada orang yang mempunyai kepandaian dalam suatu pekerjaan tangan (dengan alat atau bahan yang tertentu): -- batu, -- besi, -- kayu; Orang yang pekerjaannya membuat (menjual, memperbaiki, dan sebagainya) sesuatu yang tentu.

Yang membedakan dengan yang lain adalah kekhasannya; indiviualistis, kemandirian, dan inedependen. Toh seperti kata lain pada umumnya, makna dan penggunaan kata tukang bergeser.   

Dulu, pekerjaan bapak saya adalah tukang, tukang stempel. Bukan orang yang pekerjaannya mencap surat resmi, surat berharga atau dokumen lainnya, melainkan membuat stempel. Bahannya dari karet alami. Saya sering diajak bapak membeli karet (bentuk lembaran) dari pabriknya yang ada di Malang. Sementara gagang kayunya dibeli dari pengrajin dari Blitar. Saya lupa persinya. Yang saya ingat daerah di dekat makam Bung Karno.

Alamat persisnya saya lupa.  Yang saya tahu, dari awal ya belinya disitu tak pernah berpindah. “Karetnya bagus. Jarang ledeh dan stempelnya tahan lama,” kata bapak saya. Pernah dicoba membeli karet dari tempat lainnya, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Stempel cepat leleh dan pada titik tertentu, saat produksi stempel juga sering _ledeh_.

Saya tidak tahu bagaimana sebutan tukang stempel ke bapak saya itu muncul. Tahunya, julukan itu sangat popular melekat di Bapak. Jika ada orang luar Gresik yang menanyakan dimana rumah Basjir (itu nama bapak saya), orang akan bertanya, Basjir siapa? Tukang stempel? Orang akan menunjukkan alamat rumahnya.

Dalam buku _Penjaja dan Raja: Perubahan Sosial dan Modernisasi Ekonomi di Dua Kota Indonesia_, antropolog Amerika – Clifford Geertz, menyebut tukang untuk pengrajin tangan. Istilah “tukang” digunakan untuk menyebut setiap orang yang mempunyai ketrampilan kerja tertentu, apapun itu. Jadi istilah itu bisa merujuk pada tukang jahit, tukang potong (bisa potong rambut, tukang daging, atau yng sejenisnya), tukang masak, dan sebagainya.

Kekhasan tukang adalah mereka bekerja secara independen dan swasembada. Tukang kayu dan tukang jahit merupakan contoh yang menunjukkan cara kerja tukang yang individualistis itu Tukang stempel seperti bapak saya menggunakan rumah sebagai bengkel kerjanya.       

Pekerjaan membuat stempel secara manual membutuhkan ketrampilan. Pebuatannya dimulai dari membuat cetakan berupa susunan huruf dan kata sesuai dengan yang diinginkan pemesan. Huruf-huruf (font dan tipenya beragam) berupa batangan kecil dan ukurannya mulai dari batang korek api hingga seukuran jari kelingking sesuai dengan font dan tipenya. Batangan itu terbuat dari timah hitam.

Batangan-batangan disusun dan diikat dengan karet bekas ban dalam roda sepeda yang dipotong kecil-kecil yang kemudian atasnya disemen dengan gips sehingga kuat dan tidak berantakan. Susunan huruf itu kemudian dicetakkan pada hamparan gips (kapur) yang dipadatkan berukuran 15x30 sentimeter. Jadi bila ukuran stempel sekitar 7x 5 sentimeter, dalam hamparan cetakan itu bisa dibuat 5-6 stempel. Pemadatan dilakukan dengan pemasanan.

Setelah padat, di atas gips tadi dihamparkan karet sesuai ukuran cetakan gips. Karet harus menutupi semua permukaan gips namun tidak boleh dalam satu potongan, ada beberapa yang harus dipotong terutama pada permukaan yang ada cetakan bakal stempel itu. Setelah penuh baru dipres dengan alat dan dipanaskan dengan menempatkan kompor di bawahnya. Disitulah saya paham kenapa bapak saya disebut tukang.     

Semua tugas itu dengan mudah dikerjakan sendiri. Kadang-kadang memang ada bantuan. Kalau bapak saya yang membantu adalah anak-anaknya yang biasanya diangggap magang. Siapa tahu bisa meneruskan usahanya. Namun, kini tak ada yang melanjutkan usaha kerajinan stempel itu.

Situasinya memang berubah. Anak-anaknya tetap menjadi tukang, tapi bukan tukang stempel. Begitu pula dengan istilah tukang. Istilah tukang dapat dipergunakan untuk menyebut ketrampilan yang hampir tak terbatas.

Ironisnya, orang Jawa – seperti kata Geertz – menyebut politikus yang korup sebagai “tukang kursi” (kursi parlemen); Tukang omong kosong untuk pembicara yang suka ngomong bertele-tele; atau tukang main perempuan untuk seorang Don Juan.    

Pergeseran tidak berhenti sampai disitu. Bila tukang selama itu disebut independen, swasembada dan individualistis, sekarang berubah menjadi betergantungan, dan kolektif. Bahkan -- ketika sering wawancara dengan Ridwan Saidi -- tokoh Betawi sering itu menyebut kata "ditukangi" untuk orang yang dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan tertentu. 

Rabu, 07 Oktober 2020

BRANDING BERAS

 


Banyak perusahaan yang mem-brand-kan komoditi beras. Tapi hanya sedikit yang  mengkomunikasikan merek itu ke pasar. Padahal, tanpa komunikasi pencantuman brand itu hampir tidak ada artinya mengingat beras generik dengan kualitas bagus pun availabitity-nya sangat tinggi.


Sampai dekade 80-an orang mengenal beras hanya berdasarkan jenisnya: rojolele, pandanwangi, cianjur, citra ramos, IR-64 dan lain-lain. Pada dekade 90-an orang mulai berfikir untuk memberikan nilai tambah pada komoditas ini dan melakukan fungsi pemasaran melalui pencantuman brand seperti Ayam Jago, Oryza, Slyp, Tiga Ketupat dan lain-lain.

Beberapa merek bahkan kemudian melakukan aktivitas pemasaran yang gencar melalui promosi lini atas dan lini bawah. Ayam Jago dan Oryza, misalnya. Selain beriklan di media cetak dan elektronik, mereka melakukan edukasi kepada konsumen.

Memang, belum banyak brand beras yang melakukan kegiatan marketing secara agresif—selain membubuhkan brand sebagai jaminan kualitas—seperti Ayam Jago dan Oryza.

Padahal, tanpa komunikasi kepada konsumen, pencantuman brand hampir tidak ada artinya mengingat produk generik beras dengan kualitas yang bagus mudah diperoleh di berbagai saluran distribusi seperti pasar, toko, warung, hingga outlet modern.

“Jadi komunikasi penting untuk menyosialisasikan atribut pembeda atau diferensiasi merek ini dari brand lain atau beras generik,” kata pengamat pemasaran dari Prasetiya Mulya Business School Agus W. Soehadi.

Guru besar di bidang marketing ini menegaskan ada dua syarat utama agar branding komoditas seperti yang dilakukan para pengusaha beras itu berdampak signifikan kepada penjualan, yaitu ada atribut pembeda (diferensiasi produk) dan proses komunikasi atribut pembeda tersebut kepada target market.          

Menurut catatan Tabloid Marketing, perusahaan yang mem-brand-kan beras di Indonesia pada umumnya hanya memenuhi satu diantara dua syarat tersebut, yaitu hanya menawarkan diferensiasi produk tanpa mengkomunikasikan atribut pembedanya kepada pasar.

Padahal, dalam kasus beras, atribut pembedanya nyaris seragam antara satu merek dengan merek lain., yaitu sama-sama mengklaim beras pulen dan harum. Jadi, tanpa komunikasi, brand ini tidak akan melekat erat di benak konsumen karena diferensiasinya kabur ditelan diferensiasi beras lain.

Berbeda dengan Ayam Jago yang meskipun mengusung atribut pembeda sebagai beras pulen, dia tetap aktif mengkomunikasikan diferensiasinya kepada pasar. Tetapi Sayang, manajemen Ayam Jago belum mau berbagi cerita tentang keberhasilannya mem-brand-kan komoditas beras. Padahal dia adalah satu-satunya merek beras yang berani mengkomunikasikan produknya melalui iklan di televisi.          

Tapi jangan khawatir, ada Oryza yang mau berbagi cerita. Oryza memang tidak menggeber promosi lewat iklan televisi. Untuk mengkomunikasikan produknya, dia hanya beriklan di media cetak (majalah) dan radio. 

Tapi istimewanya, brand ini tidak mengusung atribut pembeda pulen seperti umumnya beras. Oryza menawarkan diferensiasi sekaligus memosisikan brand-nya sebagai beras organik yang proses budidayanya ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia yang bisa mencemari lingkungan dan menyisakan dampak genetis yang tidak menguntungkan.

Menurut Manajer Pemasaran Oryza Arief Wibowo, pengolahan tanah, pengendalian hama, dan pemupukan tanaman padi cikal bakal beras oryza seluruhnya dilakukan secara organik oleh petani binaan.

Secara fisik beras organik tidak ada bedanya dengan beras lain. Tapi kalau diuji di laboratorium, jelas kandungannya berbeda. “Ini sudah dibuktikan oleh Sucofindo—salah satu perusahaan sertifikasi di Indonesia,” tutur Arief. Sebagai produk organik, Arief menjamin nasi dari beras Oryza tahan basi hingga 60 jam (di luar magic jar) dan rasanya lebih pulen. “Jadi ibarat ayam, beras ini ayam kampung,” ujarnya. 

Dengan diferensiasi itu, tidak heran kalau Arief berani memasang harga tinggi untuk berasnya, rata-rata Rp 6.000 per kg untuk semua jenis (citra ramos, pandan wangi dan rojolele). Harga ini lebih mahal dibandingkan harga beras premium dari berbagai merek yang dipatok pada level Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per kg 

Dengan harga tersebut, jelas pasar yang dibidik Oryza adalah kelas A atau kalangan menengah atas. Lebih spesifik lagi Arif menunjukkan bahwa pelanggan mereka adalah kalangan berpenghasilan di atas Rp 1,5 juta per bulan yang peduli pada lingkungan—biasanya kalangan ini adalah masyarakat terpelajar yang memahami pentingnya memasyarakatkan green product.

Dengan positioning seperti itu, pasar Oryza saat ini memang tidak terlalu besar. Arief menaksir pangsanya di tanah air ini hanya sekitar 10%. Untuk mengembangkan customer based, dia berencana mengekspor Oryza ke manca negara. “Untuk itu kami sedang mengurus sertifikasi sebagai beras organik. Kalau itu sudah selesai, kami akan langsung ekspor.”

Dengan positioning seperti ini pula, kata Arief, distribusi Oryza hanya dilakukan ke outlet modern seperti Carrefour, Hero, Goro, Matahari dan Jogja Department Store di Jakarta dan sekitarnya, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.  

Di luar itu, penjualan Oryza dilakukan secara door to door oleh para distributor. Dari omzet sekitar 500 ton per bulan, menurut Arief, 60% di antaranya berasal dari penjualan di gerai modern. Sisanya dari penjualan secara door  to door.

Arief menyadari kegiatan marketing yang dilakukannya sejak 1997 ini terbukti bisa meningkatkan penjualannya. Sebelum menggunakan merek Oryza dan aktif melakukan aktivitas pemasaran, kata Arief, penjualan beras ini per bulannya hanya puluhan ton. Kini, setelah branded dan gencar berpromosi, omzetnya meningkat drastis hingga rata-rata 500 ton (Rp 3 miliar) per bulan.

Hebatnya lagi, dengan prestasi itu tim pemasaran Oryza yang ditangani oleh Koperasi Pertanian Nusantara ini sama sekali tidak mempunyai tenaga penjual. Pendapat pakar pemasaran Hermawan Kertajaya bahwa kalau pemasaran berjalan dengan baik, sesungguhnya tidak diperlukan tenaga penjual berlaku pada Oryza. 

Menurut Arief, Koperasi Pertanian Nusantara tidak memiliki sales force. “Outlet modern seperti Carrefour dan Hero sudah tahu produk kami. Mereka biasanya langsung mengirim order kepada kami. Sedangkan untuk yang door to door, penjualannya langsung ditangani distributor,” tutur Arief.

Arief yakin komunikasi tentang kelebihan brand Oryza sangat besar andilnya dalam keberhasilan penjualan beras organik ini. Selain promosi di lini atas melalui media cetak dan radio, menurut Arief, Oryza juga aktif mengedukasi konsumen melalui program talkshow dan pendekatan langsung kepada ibu-ibu PKK dan kelompok pengajian.

Pengamat pemasaran Agus Soehadi melihat potensi pasar beras organik di Indonesia masih cukup luas. Namun untuk mengembangkan customer based di tanah air ini, menurut Agus, Oryza perlu memperbaiki komunikasinya.

Oryza, lanjutnya, harus “menerjemahkan” terminologi organik ke dalam bahasa yang lebih populer yang berhubungan langsung dengan benefit yang akan dirasakan konsumen setelah mengonsumsi beras Oryza. 

“Misalnya dikomunikasikan sebagai beras yang baik untuk kesehatan manusia,” tutur sarjana pertanian yang kemudian menekuni dunia pemasaran ini menutup pembicaraan dengan Tabloid Marketing. (Tabloid Marketing, 05 April 2002)

Senin, 05 Oktober 2020

OBJECTIVITAS


Perdebatan utama dalam jurnalisme adalah soal *objektivitas* - apakah ia baik atau buruk dan bahkan apakah kita mungkin mencapainya. Beberapa jurnalis terkenal, termasuk Hunter Thompson, Bill Moyers, dan David Brinkley, telah menjabarkan objektivitas sebagai sebuah mitos.

Sedangkan beberapa jurnalis terkenal lainnya, seperti Clifton Daniel dan Herbert Brucker, berpendapat bahwa objektivitas adalah penting sekali dalam penyampaian berita.

Beberapa konsep yang diperkenalkan oleh S. I. Hayakawa (1964) dapat membantu jurnalis untuk memaknai kontroversi atas objektivitas. Hayakawa membahas tiga jenis pernyataan yang bisa dibuat ole seseorang; yakni laporan (_report_), inferensi (_inferences_), penilaian (_judgments_) - dan hal-hal yang berkenaan dengan _slanting_.

Sebuah laporan adalah pernyataan yang bisa diverifikasi dan tidak ada unsur inferensi atau penilaian. Satu contohnya adalah pernyataan, "Temperatur rendah tadi malam di Gresik adalah 28 derajat Celcius." 

Pernyataan ini bisa diverifikasi, diperiksa kebenarannya. Anda bisa pergi ke stasiun ramalan cuaca di BMKG dan melihat rekaman cuaca atau mewawancarai ahli meteorologi di sana. Contoh lain laporan adalah pernyataan berikut ini:

Dewan Kota (DPRD) menyetujui dana $237 juta untuk tahun fiskal 1995. (_Apakah mereka melakukan atau tidak, tindakan tersebut dapat diverifikasi dengan mengecek melalui para anggota dewan, saksi mata yang menghadiri sidang, dan laporan pejabat mengenai sidang tersebut._)

Tersangka perampokan Larry Joe Smith terlihat di Bandara Kota Sabtu sore. (Laporan ini akan lebih sulit diverifkasi, dan tidak bisa diverifikasi sampai Smith ditangkap dan dikenali di pengadilan oleh seorang saksi mata, tetapi pernyataan itu masih dapat diverifikasi.)

Inferensi adalah pernyataan tentang sesuatu yang tidak terlihat berdasarkan pada sesuatu yang terlihat. Contohnya adalah berbagai pernyataan tentang pikiran atau pernyataan seseorang. Anda mungkin dapat melihat seseorang menggebrakkan tinju pada meja, nada meninggi, dan wajahnya merah padam. 

Semua itu adalah aspek-aspek yang terlihat. Jika kemudian Anda membuat peryataan, "Chris marah", maka Anda membuat pernyataan suatu yang tidak terlihat, yaitu emosi orang tersebut. Berarti Anda membuat sebuah inferensi. 

Dalam berbagai kasus, cara paling aman adalah dengan berpatokan pada apa yang dilihat dan melaporkannya -- menggebrakkan tinju, nada suara meninggi, dan wajah yang merah padam. Permyataan-pemnyataan tentang karakteristik yang bisa dilihat ini dapat diverifikasi dan merupakan laporan.

Berbagai pernyataan tentang masa depan adalah sebuah inferensi, karena masa depan tidak diketahui. Pernyataan, "Presiden akan masuk rumah sakit hari Kamis untuk checkup" adalah sebuah inferensi, karena ia berkenaan dengan masa yang akan datang. Pernyataan yang lebih aman dalam hal ini adalah, "Sekretaris presiden mengatakan bahwa presiden akan masuk rumah sakit hari Kamis untuk checkup." Pernyataan tersebut bisa diverifikasi - itu berarti pernyataan itu adalah sebuah laporan.

Seseorang yang diserang menceritakan tentang orang yang menyerangnya, "Tingginya pasti enam kaki dan mungkin sedang mabuk." Pernyataan bahwa si penyerang "sedang mabuk" adalah sebuah inferensi, meskipun mungkin yang paling akurat adalah menyebutnya sebagai inferensi tambahan karena dipakai kata mungkin. Dalam sebuah contoh lain, seorang koresponden televisi yang sedang menjelaskan kegagalan Kongres untuk menolak veto presiden atas rancangan undang-undang kerja darurat. Sang pelapor mengatakan, "Partai Demokrat tampaknya tercengang dengan apa yang terjadi."

Sebuah penilaian adalah suatu ekspresi kesetujuan atau ketidaksetujuan atas sebuah kejadian, orang, atau objek. Misalnya, siswa kadang kala menggunakan kata hebat/jago/top (kesetujuan) atau menyebalkan/galak (ketidaksetujuan) untuk mendeskripsikan seorang guru.

Surat-surat yang masuk pada redaksi koran kadang kala mengandung penilaian. Renungkan tentang surat yang menjabarkan serial televisi Roots sebagai sebuah "kebencian etnis - yang menjual kritik" dan "fiksi yang berlebihan."

Kadang kala sumber sebuah cerita koran akan menyatakan penilaian, dan penting sekali bagi seorang jurnalis yang waspada untuk menentang hal itu.

Selama beberapa acara bedah buku di Texas, kritik seorang feminis terhadap seksisme di dalam buku berbunyi demikian, "Tahun ini terdapat beberapa buku yang sangat kami sukai, dan banyak buku - buku jelek."

Kemudian yang mewawancarai bertanya, "Yang bagaimanakah buku jelek tersebut?" Dia langsung menjawab: "Buku yang jelek adalah yang menunjukkan 75 persen atau lebih peran pria di dunia kerja."

Hal ini menyimpangkan wawancara dari bidang penilaian menjadi bidang laporan.Seorang jurnalis bisa berbuat banyak agar objektif dengan menghapuskan inferensi dan penilaian dan tetap sebisa mungkin mengacu pada laporan. Meski demikian, hal itu sendiri tidak menjamin objektivitas.

Sumber:

Severin, Werner J. & James W. Tankard, Jr. 2001. Communication Theorie: Origins, Methods, & Uses in the Mass Media. Addison Wesley Longman, Inc.