Sabtu, 09 Februari 2019

SAYA DAN KORAN BERITA BUANA



 Awal tahun 1991, khazanah media di Jakarta bertambah dengan munculnya koran hasil revitalisasi koran lama, namanya Berita Buana. Koran ini diambil alih – sebut saja direvitalisasi karena saat itu tidak boleh ada pemindahtanganan kepemilikian media – dari pemilik lama, kelompok wartawan kawakan yang dipimpin Sk H Wibowo.

Koran itu berhasil disulap dengan desain yang elegan. Tipogragi dan grafis yang keren. Motornya, selain Sutrisno Bachir sebagai penyandang dana, ada Abdurahman (kini salah satu komisaris kumparan.com), Zaim Ukhrowi (belakangan pernah jadi Dirut Balai Pustaka dan Dewan Pengawas LPP Antara), Budiono (sama dengan Abdurahman) Suharjoa, Tommy Tamtomo, dan Ahmadie Thaha. Saya sendiri bergabung setelah mereka.

Bergabung dengan Berita Buana adalah pilihan yang sulit. Meski salah tapi itulah yang terbaik diberikan Allah kepada saya. Awal tahun 1990 -- sekitar dua bulan sepulang dari penugasan di Australia oleh Jawa Pos, Pak Dahlan Iskan, bos Jawa Pos, meminta saya untuk balik lagi ke Australia.

Namun, dalam hati saya berpikir, usia saya sudah hampir 30 tahun. Hidup di Australia berarti menjauhkan dari jodoh, karena saya yakin jodoh saya ada di Indonesia. Di Australia memang banyak cewek, terutama Indonesia. Bahkan selama di Australia, saya banyak atau bahkan lebih sering bergaul dengan cewek-cewek Indonesia yang belajar di Australia. Setiap akhir pekan. Namun, mereka bukan jodoh saya.

Kedua, saya sudah berjanji untuk segera me”mergikan” teman saya di Jawa Pos, Dhimam Abror. Sebelum berangkat ke Australia, saya dan Abror sangat dekat. Walau dia ada di Surabaya dan saya di Jakarta, selalu kontak.

Kalau saya pulang ke Surabaya, saya keliling Surabaya dengan Abror. Dia juga sempat ngajak ke rumah pacarnya. Saya nggak tahu apakah isterinya yang sekarang ini, pacarnya dulu yang sempat dikenalkan saya atau bukan. Keakraban itu mungkin karena kesamaan nasib dan persamaan visi dalam melihat suatu peristiwa. Kami berdua sama-sama berurusan dengan aparat keamanan.

Waktu itu, Pak Bos – panggilan akrab Pak Dahlan Iskan – berencana menempatkan beberapa wartawannya di luar negeri. Djoko Susilo sudah di Amerika Serikat. Widjojo Hartono di Belgia. Nah, saya recananya di Australia dan Abror di Inggris. Setelah diurus-urus, saya duluan yang mendapat visa ke Australia sementara Abror belum. Akhirnya saya pun berangkat, sementara Abror belum.

Sampai enam bulan, Abror juga belum dapat visa sehingga akhirnya yang dapat adalah Djoko Susilo. Jadilah Djoko Susilo yang berangkat ke Inggris. Mendengar kabar itu, saya merasa berhutang sama Abror. Akhirnya saya putuskan pulang. Biarlah Abror yang pergi menggantikan saya. Saya pun sempat membantu menguruskan visanya ke Kedutaan Besar Australia di Jl. Mh Thamrin Jakarta. Akhirnya Abror yang berangkat ke Australia menggantikan saya.

Sekitar dua bulan kemudian, Budiono – sekarang pemilik Detik.com – menelpon saya. Dia bercerita mau bikin koran dan mengajak saya. Pemodalnya adalah Soetrisno Bachir. Saya sendiri tidak begitu kenal. Saya tahunya cuma dari baca di majalah SWA yang menyebut keluarga Bachir adalah juragan batik dari Pekalongan yang merambah usahanya ke bisnis property dan pertambakan udang, dua bisnis yang saat itu naik daun.

Menurut Budiono, koran yang mau diambil adalah Berita Buana, salah satu koran legenda orde baru. Dari sisi nama, awarenessnya mungkin cukup tinggi. Siapa yang nggak kenal dengan Berita Buana. Persoalannya dari sisi image, koran itu begitu lekat dengan persoalan klenik. Saya jadi teringat Tante saya pada tahun 1970-an berlangganan koran itu. Yang namanya Berita Buana minggu pasti ada berita kleniknya. Namun Budiono meyakinkan bahwa yang diambil hanya Berita Buana, tidak pakai embel-embel Minggu.

Jauh sebelumnya, ketika meletus peristiwa 1965, setiap hari saya membaca Berita Buana yang selalu Tante beli eceran di pasar. Bahkan kakak saya yang tertua mengkliping foto-foto aktivitas RPKAD di Lubang Buaya dalam rangka mengeluarkan jenazah para jenderal. Juga foto-foto alat penyiksa yang ditemukan di Lubang Buaya. Dari berita-berita yang masih saya ingat ketika itu, sebenarnya masih ada image lainnya, yakni kedekatan para pengelola BB ”lama” dengan para ”pendekar” Orde Baru dan ABRI.

Apakah saya bisa bekerja di institusi yang pengelolanya dekat dengan keduanya? Ini mengingat selama bekerja di Jawa Pos berkali-kali saya membuat ”masalah”. Pertama yang paling besar adalah kasus berita makanan mengandung lemak babi yang membuat Pak Harto marah besar (saya sendiri nggak tahu sebabnya) sampai-sampai Pak Domo selaku Pangkoptamtib mengeluarkan kalimat, ”Kami akan terus mengejar aktor intelektualnya.” Introduksi aktor intelektual ketika itu sampai kini menjadi kosa kata yang begitu populer.

Kedua, saya juga pernah diinterograsi oleh Kolonel Zumarnis – ayahanda aktris Marini Zumarnis – pada bulan puasa gara-gara pemberitaan Jawa Pos mengenai kasus Talangsari Lampung. Dalam kasus kedua, tanpa ada surat pemanggilan, namun Kapten Panggih waktu itu sempat menyancam saya untuk dijemput paksa kalau tidak datang ke Mabes ABRI. Saya heran karena kok dijemput paksa sementara pemanggilan atau pemberitahuan saja belum saya terima.

Itu sebabnya, awalnya saya tidak tertarik dengan ajakan untuk bergabung ke BB baru. Sebab bagaimana pun posisi saya di Jawa Pos sangat bagus dan strategis. Masa depan Jawa Pos sangat bagus. Dari hari ke hari terus berkembang. Kedua, di Jawa Pos aktualiasi ide dan gagasan baik berita – baik dari sisi enggel dan pencariannya – terakomodasi secara sempurna. Apresiasi terhadap kinerja yang saya terima juga begitu luar biasa. Jadi bagaimana saya bisa meninggalkan posisi yang sangat bagus ini.

Sebagai Kepala Biro Jawa Pos Jakarta, saya mengendalikan redaksi Jawa Pos di Jakarta. Semua bertia di halaman depan yang memasok adalah Biro Jakarta. Sehingga ibaratnya – paling tidak perasaan saya – saya menjadi orang ”penting”. Betapa tidak semua berita yang dikirim ke Surabaya yang bakal menjadi pengisi halaman etalase, merupakan hasil perencanaan saya yang kemudian diimplementasikan teman-teman wartawan Jakarta yang sangat luar biasa semangat dan dedikasinya terhadap profesi dan pekerjaannya. Jadi seakan-akan kreator agenda –setting Jawa Pos saat itu adalah saya.

Dua minggu kemudian, Budiono nelepon lagi. Kali ini dia mengajak bertemu di Restoran Sari Kuring – sekarang sudah dibongkar – di Monas Jakarta. Budiono ngajak Abdurahman – pemilik detik.com, mitranya Budiono--, dan Suhardjo – saya nggak tahu profesinya sekarang. Yang pasti di Facebook namanya bisa saya jumpai.  Disitu saya deal bergabung dengan Berita Buana.   


1 komentar:

  1. saya menemukan blog ini saat mencari artikel klenik di koran berita buana terbitan tahun 1973, hehehe

    BalasHapus